Usung Arabuca, Dua Wirausahawan Ini Intip Peluang Bisnis Kopi Karo
Diposkan: 19 Oct 2018 Dibaca: 1061 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Mengecap manisnya keuntungan di bisnis kuliner khas Sunda, Dedi Effianto (46 tahun) memutuskab melebarkan sayap ke dunia kopi.
Menggandeng sahabatnya, Andre Ariza (42 tahun), Dedi fokus memperkenalkan kopi Karo.
Rencananya November mendatang, kafe dengan kopi khas Karo bakal menjadi pijakan awal Dedi dan Andre untuk memperkenalkan kopi yang rasanya tidak kalah enak dengan kopi lain yang sudah lebih dulu tenar, macam kopi gayo, mandailing, hingga lintong.
Bahkan, di tahap awal, pemilik Arabuca ini mulai memperkenalkan satu produk minuman siap saji, kopi susu dalam kemasan, Arabuca, dengan tagline, kopi pake susu. Saat berbincang baru-baru ini, Dedi mengatakan, untuk usaha skala kecil, belum banyak yang memproduksi minuman jenis tersebut. Sementara untuk usaha skala besar, minuman seperti itu masih dibanderol dengan harga cukup tinggi.
"Tidak banyak yang punya usaha seperti ini di Medan. Kalaupun ada, industri besar yang punya seperti ini dan harganya cukup mahal. Sedangkan minum kopi enak dengan harga murah itu juga nggak banyak," ujarnya.
Kopi yang pada dasarnya bisa didapat dengan harga yang tidak terlalu tinggi, membuat Dedi dan Andre menilainya sebagai sebuah peluang usaha. Apa lagi, Andre, punya cukup ilmu dalam pengolahan kopi seperti yang biasa dinikmati di cafe-cafe berkelas macam Starbucks dan lainnya.
"Di situ kami melihat peluangnya. Kopi enak tapi murah, bukan murahan, bisa dinikmati semua lapisan masyarakat," ungkap Dedi.
Dengan ukuran 350 ml tiap botolnya, Arabuca kopi pake susu dibanderol dengan harga cukup ringan, Rp15 ribu saja. Memang, Dedi tidak asal bicara soal rasa Arabuca. Saat ukmkotedan.com mendapat kesempatan mencicipi kopi susu Arabuca, rasa kopinya cukup teras, namun, tidak tajam di perut. Perpaduan kopi dan susu cukup tercampur dengan baik dan nikmat di lidah dan saat diteguk. Singkat kata, benar-benar kopi susu asli.
Baru pertama produksi sekitar 100 botol, Dedi mengaku, respons pasar cukup bagus. Pasalnya, belum sampai sepekan, sekitar 70 botol sudah beralih ke tangan pembeli. Namun, lantaran kafe Arabuca yang masih dalam tahap penyelesaian tempat, minuman tersebut baru bisa didapatkan di Warung Nasi Timbel Hj Nunung di Jalan Setia Budi Medan, tempat usaha kuliner Dedi dan keluarga.
"Kenapa di sini (Warung Nasi Timbel Hj Nunung) display-nya, karena dikunjungi banyak orang. Di sini dulu beranjaknya, karena kita belum selesai, store (kafe) belum selesai. Tapi jangan salah, ada tempat oleh-oleh yang di Medan itu udah minta, tapi saya belum kasih," ujarnya.
Anak-anak, remaja, sampai orang dewasa menurut Dedi suka akan citarasa minuman tersebut. Tingkat ketahanannya pun cukup tinggi, hingga dua bulan, kendati Dedi lebih memilih bermain aman yakni hanya memberikan waktu sebulan untuk produk minuman itu sebagai masa layak konsumsi.
Lantas apa yang mendasari Dedi dan Andre membuat minuman kopi-susu Arabuca? Menurutnya, naluri sebagai wirausahawan menuntunnya berekspansi di bidang itu. Tidak mau banyak pertimbangan, produk tersebut dirasa cukup representatif mengawali usaha kopi yang dia rintis.
"Ikut kata naluri aja, lakukan saja, jangan banyak pikir-pikir. makanya buat gak banyak-banyak dulu," ungkap ayah satu anak itu.
Sementara Andre, yang fokus di bidang produksi mengatakan, modal yang dikeluarkan untuk produksi awal Arabuca kopi pake susu cukup ringan. Dengan modal botol plastik yang dibeli dari Jakarta, memakai kopi murni, khusus signature dari kopi Karo dan susu, dengan racikannya, jadilah minuman nikmat
"Kalau untuk kopinya, sebagian dari ladang sendiri, sebagian dari petani," ungkapnya.
Sebagai pengusaha yang fokus untuk pengembangan pemasaran kopi khas Karo, warga Jalan Sei Mencirim Gang Amplas, Sunggal, itu mengaku, belum banyak masyarakat yang mengetahui kopi Karo, khususnya di Medan. Kopi Mandailing, Lintong, Gayo dan lain-lain masih menjadi yang terbanyak dikenal.
Padahal kata dia, kopi Karo juga punya banyak keistimewaab, tinggal bagaimana memprosesnya agar jadi lebih nikmat. Begitu pula untuk Arabuca kopi pake susu, pencampuran kopi dan susu yang tepat dan pengolahan yang sesuai menjadikannya nikmat diminum. Namun bukan tanpa kesalahan dalam pembuatan, dia akui, kesalahan tetap didapatkan sebelum mendapatkan rasa yang dinilai pas untuk dikonsumsi semua masyarakat.
"Trial error gak lama, sekitar seminggu. Saat mencoba, sampai empat kali berubah rasa. Dari empat rasa yang dicoba, rasa percobaan pertama yang paling pas. Lebih terasa kopinya. Awalnya saya berpikir, karena konsumen mungkin lebih banyak yang awam soal kopi, jadi ditingkatkan lagi susunya. Tapi karena kopi pake susu, kata bang Dedi kopinya harus lebih terasa, jadi itu yang kita pakai," ungkap mantan pegawai bank swasta itu.
Ke depan, baik Dedi maupun Andre berharap, akan lebih banyak orang merasakan kopi produksi Arabica, sekaligus agar kopi Karo semakin dikenal masyarakat luas. "Selain itu, harapan kita ke depannya bagaimana petani sejahtera, pedagang bahagia," tutup Dedi.(UKM05)