Uci Bertekad Bawa Produk Dapur Reuni Tembus Pasar Luar Negeri
Diposkan: 11 Sep 2018 Dibaca: 1256 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Memutuskan fokus menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan aktivitas kerja di bidang leveransir dan asisten dosen, Sri Susiani (53 tahun) malah berhasil meraih sukses dengan usaha snack oleh-oleh "Dapur Reuni" miliknya.
Berbagai produk mulai keripik hingga cookies bebas yang dia produksi kini menghiasai berbagai pusat penjualan oleh-oleh di Kota Medan dan sekitarnya.
Ditemui di rumahnya di Jalan Masjid No 84 Medan Helvetia, Selasa (11/9/2018), ibu dua anak itu memang tengah libur dari rutinitas hariannya memproduksi aneka snack.
Namun, dari dua jenis kue basah yang dia hidangkan di meja teras saat ukmkotamedan.com menyambanginya seolah menegaskan bahwa Sri jelas merupakan pengusaha makanan.
Perempuan yang biasa disapa Uci itu bercerita, keputusannya untuk menggeluti dunia usaha makanan terjadi saat dia mulai berumah tangga dan ingin tetap berada di rumah mengurusi suami. Tetap ingin beraktivitas walaupun berada di rumah, dia memulai membuka usaha makanan dan kue-kue yang dia pelajari secara otodidak.
Di tahun 2002 dia juga sempat membuka cafe di kawasan Pajak USU (Pajus) saat masih berada di dalam kawasan kampus Universitas Sumatera Utara (USU). Tidak puas, alumni Teknik Industri Universitas Darma Agung tersebut bekerja sama dengan Rumah Sakit Glen Eagles (sekarang RS Kolumbia Asia) untuk mensuplai makanan bagi para suster (katering) di rumah sakit tersebut.
"Setelah beberapa tahun (katering) saya berhenti dan 2009 baru mulai membuat makanan ringan jenis keripik dan kue bawang," ujarnya.
Yang menarik, saat itu, istri dari Irfanuddin Pulungan (54 tahun) tersebut belum menentukan apa nama produknya termasuk usaha katering dan aneka kue basah. Namun, pada 2009, saat dia menghadiri reuni ke 25 tahun pasca tamat SMA, nama Dapur Reuni akhirnya tercetus.
"Kawan tanya kerja saya apa, saya jawab usaha makanan. Lalu mereka kembali tanya, apa nama produknya, saya jawab belum ada. Lantas mereka menyarankan usah tersebut menggunakan kata Reuni. Jadilah namanya Dapur Reuni," beber Uci.
Dia yang kebetulan memang bertekad ingin serius mulai melengkapi seluruh izin yang diperlukan untuk usaha tersebut. Dia harus merogoh kocek Rp10 juta sebagai modal usaha termasuk untuk label dan kemasan.
Menurut Sri, keputusannya untuk memulai usaha di bidang makanan harus dilengkapi dengan berbagai izin. Untuk itu di awal, mulai label halal MUI hingga dinas kesehatan dia urus. Sedangkan berbagai izin usaha juga sudah dia lengkapi sebelumnya. "Ada sebagian wirausahawan/wirausahawan yang memulai usahanya kecil-kecilan. Tapi saya saat sudah oke, langsung urus izin dan buat kemasannya langsung," ungkapnya.
Mulai keripik ubi ungu hingga kue bawang dia produksi lalu bertambah ke produk lainnya. Keseriusannya memasarkan produknya membuat produk menjadi bagian di Royyan di kawasan sekitar Bandara Internasional Kualanamu.
Kendati hanya memproduksi beberapa produk, dia pun sempat menjadi perwakilan kota Medan untuk pameran makanan di Bandung. Di Bandung, dia melihat kue Bolen khas Bandung yang lantas menginspirasinya membuat kue nastar berukuran besar di tahun 2014 yang bertahan dan jadi salah satu produk unggulan hingga saat ini.
Soal pemasaran, Sri mengaku tidak mendapatkan masalah berarti. "Kebetulan saya pernah belajar tentang produk, marketingnya hingga menjaga kualitas. Kita sudah tentukan pasarnya di mana. Apa lagi, sebelumnya produk Dapur Reuni sudah ada di tempat oleh-oleh, makanya ketika ada tambahan produk, pengelola tempat mengizinkan kita untuk memasukkan produk kita," bebernya.
Mulai dari Galeri Robert Sianipar, Hotel Wing, Medan Napoleon, Carrefour, Ucok Durian dan beberapa pusat perbelanjaan lainnya, produk Dapur Reuni sudah beredar. Soal pasokan, di tempat oleh-oleh dia menambah pasokan produk antara tiga hari sampai seminggu. Sedangkan di pusat perbelanjaan, dia harus melakukan pengecekan sendiri ke lokasi untuk mengetahui perkembangan penjualan produk.
Sri yang enggan membeberkan jumlah omset tiap bulan mengaku jerih payahnya tersebut saat ini berjalan lancar dan mampu mempekerjakan tujuh karyawan termasuk seorang supir.
Selain ke pusat oleh-oleh di Kota Medan dan sekitarnya, tak jarang pemesanan juga datang dari luar kota melalui nomor Whatsapp miliknya di +6281375439387 yang juga dipakai sebagai nomor telepon bagi yang ingin memesan. Dia juga memiliki akun Instagram untuk memperkenalkan Dapur Reuni. Sayangnya, Sri sudah lupa kata sandinya. Untuk pengiriman luar kota, dia menggunakan jasa pengiriman barang.
Saat ini, Sri berharap produknya bisa mengantongi sertifikat SNI (standar nasional Indonesia). Dia menyebut, sertifikasi SNI itu dia butuhkan agar produknya juga bisa menembus pasar internasional.
"Tinggal SNI yang belum punya. Kalau SNI kita bisa ekspor, itu yang belum punya Dapur Reuni dan kami tengah memikirkan untuk melakukan pengurusannya ke depan," ungkapnya.(UKM05)