Torang Sitorus : Jadi Penenun Sekarang Menjanjikan
Diposkan: 08 Nov 2018 Dibaca: 1142 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Ulos dikenal sebagai kain khas dari Tanah Batak. Kain yang dulunya dipakai hanya untuk acara adat kini sudah berkembang pesat bahkan keindahannya diakui di dunia Internasional.
Butuh kerja keras untuk mengenalkan ulos dan mengkreasikannya. Apalagi, faktanya ulos lebih dihargai di kota-kota di luar Sumatera Utara bahkan luar negeri.
Hal ini diakui perancang busana internasional dan kolektor ulos, Torang Sitorus di sela-sela peresmian Reimagine Vol.01 di Andaliman Hall, Jalan Abdullah Lubis, Medan, Rabu (7/11/2018).
"Jadi di Sumut bukan tertinggal, tapi lelet bahasaku ya. Justru sebenarnya kain seperti ini diapresiasi di Jakarta dan luar negeri," ujarnya.
Dia mengurai salah satu jenis ulos bahkan sudah menerima dua penghargaan prestise di luar negeri.
"Ulos Harungguan ini ditenun di Muara, Kecamatan Taput (Tapanuli Utara). Tahun ini ada dua prestasi, satu sebagai suvenir di pertemuan IMF di Newyork. Satu lagi dari World Craft Council. Jadi kain ini dapat penghargaankarena ini merupakan kain replika dari kain tua yang dikerjaan secra tradisional dan masih mengikuti pakem, diikat, motifnya tidak ada yang sama dan diwarnai dengan bahan-bahn lokal di Toba, seperti akar mengkudu yang dipermentasi dan jadi pewarnaan," bebernya.
Dia meyakini untuk menaikkan level ulos ke wilayah luas butuh kerja sama semua pihak, termasuk publikasi. Sebab, menurutnya, orang perlu tahu cerita atau proses pembuatan serta sejarah ulos. Setiap pembuatan ulos diungkapnya ada narasinya. "Ternyata penjalanan kain berkualias itu seperti caranya, ini yang mau kita bagikan ke penenun. Agar mereka berkarya tidak hanya berkarya tapi juga memberikan cerita pada setiap karya-karyanya," lanjutya.
Saat ini, tak dipungkirinya banyak ulos dibuat secara instan namun mengurangi nilai seninya. "Jadi kain yang sekarang cenderung dibuat asal, cepat sekali, dan dibuat mengulang-ulang, tidak mengikuto pakem yang dulu dari pendahulunya. Sedangkan di sini (pembuatan ulos Harungguan) tidak ada pengulangan motif," jelasnya.
Bahkan untuk membuat satu lembar kain Harungguan, ungkap Torang membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan pada proses awalnya. Namun, setelah iikat dan dicelup bisa lebih cepat, memakan waktu seminggu. "Ini yang dihindari penenun tak mau kotor. Maunya serba praktis, mau cepat, padahal kain yang seperti ini bisa dijual lebih mahal, sekarang harganya Rp5 jut sampai Rp10 juta untuk 2 x 25 meter," ungkapnya.
Torang juga menceritakan suatu momen spesial yang mengubah mindset tentang ulos yang dianggap kaku.
Dia menceritakan pada suatu waktu akhir tahun lalu memberikan kain ulos Pinuncaan sepanjang 50 meter. Itu merupakan kain sisa yang dibuat di Balige saat membuat interior hotel ternama. Tak disangka ini menjadi titik balik bagaimana ulos bisa dikreasikan menjadi karya yang luar biasa.
"Saya enggak pernah sendiri, biasa saya ada tim. Karena sendiri enggak sanggup membuat Sumut ini terekspos. Saya kontak Ivan Gunawan saya bilang punya kain ini (ulos Pinuncuan). Karena Ivan Gunawan dengan follower 10 juta dan dia berpengaruh di industri fashion di Indonesia, saya kasih 50 meter. Dia gunting dan jadikan baju. Dampaknya sekarang semua perempuan Batak mencari kain ini. Semua orang menggunting ini. Sekarang dampak ekonomi industri di Toba bergeliat, permintaannya meningkat, sekarang luar biasa. Selama ini kesannya kain itu tebal, norak, kampungan, sekarang luar biasa," jelasnya.
Torang tak memungkiri dalam mengkreasikan ulos penuh tantangan, salah satunya disebut tak beradat karena mengubah kain ulos untuk berbagai pakaian. Namun, dia paham butuh pengorbaan soal ini.
"Kita harus memilih, membuat ulos kita jadi cerita, atau mengalihkannya ke indistri kreatif, fashion. Kita harus memisahkan dua ini, adat bicara adat. Tapi dapur harus mengepul. Ada kalanya penenun kain adat tapi ada kalanya mereka butuh kreativitas yang bertumbuh, jadi harus realistis," tegasnya.
"Saya sering di-bully. Misalnya ada kain saya gunting jadi jaket tentu fungsinya di adat hilang. Banyak banget tantangan, di-bully dianggap tidak beradat. Misalkan saya bilang orang Batak suka nyampah, misalnya di satu pernikahan ada ribun kain datang. Dia menyampahkan dalam tanda kutip bukan sampah, di situlah peran desainer masuk," ungkapnya.
Saat ini diakui Torang, kondisi penenun antara prihatin dan ada rasa optimis. Karena banyak penenun bisa berkarya, tapi tidak bisa memasarkan, mereka butuh mentor juga perlu mitra agar bisa ditangani.
"Ada satu berita bangus. Di Silaen saat aku memperkenalkakn kain tum-tuman semua pengantin Batak menggunakan tum-tuman, itu meledak. Di Tarutung semua megang tum-tuman. Di Toba ada yang diupah Rp7 juta, bayangin berapa kali UMR itu. Buat apa lagi cari kerja di Batam. Jadi penenun sekarang juga menjanjikan," jelasnya.
Torang berharap dengan bantuan semua pihak bisa membenahi kondisi penenun karena Toba dan Tarutung sejatinya pusat tenun terbesar di Indonesia.
"Industri tentun masih hidup, masih banyak penenun, tapi kita pelan-pelan dbenahi. Kita harapkan pemerintah baru di Sumut bisa menyatukan, kemudian menggelar event beragam dan mengikuti event skala nasional. Karena Sumut ini kain mulai dari Labuhanbatu, Asahan, Simalungun," pungkasnya. (UKM02)