Tingkatkan Daya Saing,1.100 Pembatik Disertifikasi
Diposkan: 26 Oct 2018 Dibaca: 906 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, SUKAHARJO- Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) melalui Deputi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Harmonisasi Regulasi telah menyertifikasi 1.100 pembatik. Ini sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), untuk memperluas dan mengembangkan pasar.
Direktur Harmonisasi Regulasi dan Standardisasi Bekraf, Sabartua Tampubolon, menyebutkan sertifikasi bukan satu-satunya indikator kompetensi. Namun hal ini diperlukan untuk meningkatkan daya saing dan menembus pasar internasional.
“Bekraf terus mendukung pengembangan ekosistem komunitas pelaku ekonomi kreatif (ekraf) di Indonesia. Kami yakin ekraf yang makin maju akan bisa menjadi tulang punggung perekonomian nasional,” ungkap Sabartua pada pembukaan Fasilitasi Sertifikasi Profesi Batik di Best Western Premier Solo Baru, dilansir dari lama bekraf, Jumat (26/10/2018).
Kepala Subdirektorat Standardisasi dan Sertifikasi Bekraf, Budi Triwinanta, mengatakan sertifikasi telah dilakukan di 11 kota/provinsi di tahun ini. Setiap pelaksanaan sertifikasi diikuti 100 pembatik.
Diakuinya Jawa merupakan pusat batik nasional. Meski begitu, pelaku kreatif sejumlah daerah di luar Jawa, seperti Batam, Jambi, Medan, Padang hingga Papua mampu menghasilkan batik dengan menawarkan motif yang berbeda.
“Setiap daerah harus memiliki ciri khas motif batik sehingga semakin mudah dikenali dan menjadi nilai tersendiri terhadap produk yang dihasilkan,” ujarnya.
Direktur LSP Batik, Subagyo Sujono Putro, mengungkapkan ada tiga kriteria penilaian sertifikasi pembatik, diantaranya keterampilan, pengetahuan, dan sikap. Menurut dia, seluruh peserta sertifikasi batik biasanya memiliki keterampilan yang tak diragukan lagi.
Meski begitu, tidak semua peserta sertifikasi akan mendapat predikat Kompeten. “Setiap pembatik yang telah membatik minimal tiga tahun pasti terampil. Namun kendala memperoleh sertifikat biasanya pada pengetahuan dan sikap,” terangnya.
Bagyo menjelaskan kebanyakan membatik dilakukan turun temurun sehingga pengetahuan mengenai batik tidak dalam karena hanya meneruskan tradisi keluarga. Namun pembatik yang dinyatakan kompeten, hasil produk biasanya lebih berkualitas dan nilai jualnya bertambah. (*)