Tinggalkan Salon, Jadi Pengusaha Bubur Ayam

Tinggalkan Salon, Jadi Pengusaha Bubur Ayam

Diposkan: 12 Jul 2018 Dibaca: 1255 kali


UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Ketatnya persaingan bisnis kecantikan serta pergeseran trend, membuat Ummiati perlahan meninggalkan usaha jasa yang dirintis bersama suaminya. Kemudian keduanya mencoba peruntungan dengan melirik peluang bisnis kuliner,  bubur ayam khas Bandung, sejak tahun 2008 silam.

Siapa sangka, usaha yang awalnya hanya sekedar coba-coba ini ternyata mendapat respon positif dari masyarakat. Ini terbukti dari delapan hingga 10 porsi bubur yang diproduksi pertama kali, kini bubur  ayam tersebut memiliki empat gerai di yang berada di kawasan Medan Baru.

Dituturkan Ummiati, awalnya memulai usaha ini sebenarnya hanya iseng –iseng. Setelah omzet dari usaha salon yang dirintisnya terus merosot. Karena saat itu, sudah mulai ada pergeseran trend berhijab. Sehingga membuat salon umum, perlahan ditinggalkan konsumen.

“Awalnya, masih coba-coba. Kita tawarkan dari teman ke teman. Kebetulan sebelum memulai usaha ini sekira tahun 2008,  punya usaha salon. Disinilah kita tawarkan sama pelanggan. Karena saat itu usaha salon makin kurang prospek,”ujar Ummiati, Kamis (12/7/2018).

Ummiati mengaku terinspirasi menghadirkan bisnis bubur ayam khas  Bandung  ini, karena dia pernah satu ketika melihat usaha serupa yang tidak pernah sepi pengunjung. “Kebetulan saya dan suami berasal dari Bandung. Dulu, waktu di Bandung kita lihat ada tempat jualan jualan bubur ayam, orang yang beli ngantri. Memang rasanya enak, dari sini kemudian pengen coba buat usaha serupa,”ujarnya.

Pertama kali sebut Ummiati, mereka hanya membuat beberapa porsi bubur ayam. “Bahan bakunya hanya satu kg beras. Awalnya hanya delapan hingga sepuluh porsi. Ini yang kita tawarkan sama kawan-kawan dan langganana salon kita,”ujarnya.

Saat itu sebut Ummiati, bubur masih belum seperti saat ini, banyak pilihan. Bahkan kala itu, bubur ayam masih dianggap sebagai makanan orang sakit saja. Dengan semangat dan kesabarannya, usaha bubur ayam ini, tidak hanya mampu menopang untuk kebutuhan rumah tangga. Namun juga menyerap tenaga kerja. Setidaknya setiap gerai, Ummiati memiliki dua orang pegawai.

Salah satunya tantangan yang dihadapi Ummiati, jika dagangannya tidak habis terjual. Terlebih, bubur ayam tersebut, tidak bisa disimpan dalam waktu lama.“Kalau untuk besoknya, bubur ini sudah tidak bagus lagi,”ujarnya.

Bubur yang dipasarkan diharga Rp 12.000 per porsinya ini, bisa menjadi salah satu penawar bagi warga Medan yang merindukan bubur khas Bandung. Dari usaha ini setiap gerainya, mampu menghabiskan setidaknya 75 porsi dengan peminat semua kalangan usia. Kedepan, Ummiati mengaku memiliki impian dapat membuka cabang lebih banyak lagi dengan konsep lesehan. (UKM01)

 

 


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2026. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved