Tanaman Bakau Bermanfaat Atasi Penyakit Udang
Diposkan: 28 Jul 2018 Dibaca: 1414 kali
UKMKOTAMEDAN.COM-JAKARTA – Hasil penelitian dan riset terbaru Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros – Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan mangrove (bakau) dapat digunakan sebagai obat penawar penyakit pada udang.
Dikutip dari laman kkp.go.id, riset ini dimulai tahun 2013 silam bertajuk ‘Herbal Mangrove sebagai Alternatif Pencegah Penyakit Udang’ yang diprakarsai peneliti BRPBAP3 Muliani beserta timnya.
Disini ditemukan penggunaan tanaman bakau sebagai bahan dasar alternatif pencegahan penyakit udang dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan antibiotik. Sejak tahun 2013 pihaknya melakukan screening tanaman bakau sebagai penghasil antibakteri dengan 182 sampel yang diambil dari berbagai daerah di Indonesia.
Penelitian akan membantu langkah Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mengajak kegiatan berwirausaha di bidang Kelautan dan Perikanan untuk menambah stok pangan yang berasal dari produk laut.
“Dari 182 sampel yang di-screening, 103 sampel atau 56,60% positif mengandung anti vibrio harveyi. Adapun jenis mangrove yang paling potensial mengandung anti vibrio harveyi adalah Sonneratia alba, S caseolaris, S. lanceolata, Bruguiera gymnorrhiza, dan Rhizophora mucronata,” jelas Muliani.
Dari 103 sampel yang terdeteksi mengandung Vibrio, 22 diantaranya berasal dari Kabupaten Maros, 38 dari Kabupaten Pangkep, 20 dari Kabupaten Luwu Timur, 6 dari Kabupaten Takalar, dan 17 dari Kabupaten Bone.
Kemudian sambungnya di tahun 2014, penelitian dilanjutkan untuk melihat potensi ekstrak bakau setelah difraksinasi, serta toksisitasnya terhadap benih udang windu. Setahun kemudian, penelitian dengan tahap metode pemberian ekstrak bakau yang lebih efektif dan efisien, yaitu dengan sistem perebusan tepung bakau dan mencampur hasil ektraksi methanol, serta fraksinasi ke dalam pakan udang.
Langkah berikutnya, mengkaji perbedaan konsentrasi ekstrak bakau dalam pakan, baik untuk penanggulang penyakit bakteri maupun untuk WSSV di 2016.“Terjadi peningkatan sistem imun udang secara signifikan pada penggunaan ekstrak bakau dalam pakan dibanding tidak menggunakan ekstrak bakau,”ujarnya.
Di tahun 2017, penelitian dilanjutkan mengkaji sistem ekstraksi dengan perebusan daun bakau yang masih basah dan tidak lagi menggunakan hasil tepung daun bakau. Sebuah percobaan menggunakan metode ini telah dilakukan untuk budidaya udang windu. Melalui metode ini, diharapkan para petani dapat mengaplikasikan pada kegiatan budiaya.
“Hingga saat ini, penelitian difokuskan pada aplikasinya di tambak udang. Melalui penelitian ini, kami juga berharap kelestarian mangrove tetap terjaga dan mari kita galakkan kembali penanaman mangrove pada daerah-daerah yang tidak ditanami,” tegas Muliani.(***)