Tahun 2019, Perekonomian Global Penuh Tantangan dan Tumbuh Tidak Merata
Diposkan: 14 Dec 2018 Dibaca: 828 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Perekonomian global tahun 2018 penuh tantangan dengan pertumbuhan tidak merata dan penuh ketidakpastian. Kondisi ini kemungkinan masih akan berlanjut pada tahun 2019 dan tahun berikutnya.
Hal itu disampaikan Pjs. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Hilman Tisnawan pada acara “Pertemuan Tahunan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara 2018” di Medan, Jum'at (14/12/2018).
Pertemuan tahunan yang diawali penandatanganan kerjasama antara Bank Indonesia Provinsi Sumut dengan sejumlah instansi itu secara resmi dibuka oleh Ketua Dekranasda Provinsi Sumatera Utara, Nawal Edy Rahmayadi dengan pemukulan gong. Hadir disana Wakil Gubernur Sumut, Musa Rajekshah dan undangan lainnya.
"Setidaknya ada tiga hal penting yang perlu dicermati, " kata Hilman.
Pertama, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, Euro Area, Jepang dan Tiongkok diperkirakan menurun, mempengaruhi perlambatan ekonomi global secara keseluruhan. Hal ini mendorong volume perdagangan dan harga komoditas tetap rendah dan diprediksi dapat memberikan dampak negatif terhadap ekspor Sumatera Utara.
Kedua, kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, the Fed, akan diikuti oleh normalisasi kebijakan moneter di Eropa dan sejumlah negara maju lainnya.
Meningkatnya tekanan inflasi dan aktivitas ekonomi yang semakin kuat telah menyebabkan stance kebijakan moneter AS semakin ketat. Setelah menaikkan Fed-Fund-Rate (FFR) sebanyak 4 kali pada tahun ini, the Fed AS kemungkinan akan menaikkan lagi suku bunganya sebanyak 3 kali pada tahun 2019.
"Hal ini memberikan tantangan bagi bank-bank sentral Emerging Markets, termasuk Indonesia, dalam merumuskan respons kebijakan moneternya untuk memperkuat ketahanan eksternal ekonominya dalam memitigasi dampak rambatan keuangan global,"jelas Hilman Tisnawan.
Ketiga, sebut dia, ketidakpastian di pasar keuangan global akibat ketegangan perdagangan dan risiko geopolitik mendorong tingginya premi risiko investasi ke negara Emerging Markets.
"Ketiga perkembangan global tersebut berdampak pada penguatan mata uang dolar AS dan pembalikan modal asing dari negara Emerging Markets,"sebutnya.
Menurutnya, kondisi perekonomian global yang masih tidak menentu tersebut semakin mempertegas perlunya sinergi untuk memperkuat ketahanan dalam menghadapi dampak rambatan global sambil menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dalam negeri. (UKM06)