Syarfina Optimis Kembangkan Produk Songket Melayu Deli
Diposkan: 29 May 2018 Dibaca: 1905 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Sejak pertama kali kemunculannya songket Melayu Deli memang menarik perhatian sejumlah pecinta kain, desainer bahkan masyarakat umumnya. Apalagi dengan motif yang menarik dan punya latarbelakang sejarah yang erat kaitannya dengan kota Medan.
Adalah Dr Tengku Syarfina M. Hum sebagai pencetus diproduksinya kembali Songket Melayu Deli, yang kemudian dilanjutkan oleh anak perempuannya Irfania Ramadhani Lubis yang mulai memasarkannya sejak tahun 2014.
Terletak di Jalan Sei Beras No 5, di rumah Syarfina inilah bermula rumah produksi tenun Melayu Deli dirancang. Rumah ini lebih dulu dikenal sebagai pusat Khasanah Warisan Melayu Deli.
Songket Deli produksi Tengku Syarfina ini bermula dari kegemaran wanita yang juga berprofesi sebagai dosen program linguistik Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, terhadap kain songket. Setiap bepergian, ia selalu iri melihat beberapa daerah memiliki kain songket yang cantik dan ia selalu membelinya. Terutama kain-kain songket di daerah-daerah dengan rumpun Melayu seperti Palembang dan Bengkulu.
Sebagai wanita yang masih keturunan Keluarga Istana Maimun, Syarfina pun punya keinginan untuk bisa memproduksi kembali songket dari Tanah Deli.
Tepat pada 19 Desember 2014, Songket Deli pun resmi diluncurkan di Hotel Tiara Medan. "Sambutannya langsung baik waktu itu. Kerja riset dari kita untuk mencari kembali motif-motif kain Songket Deli pun gak sia-sia," ungkap Syafina. Pada waktu itu Songket Deli ini memang termasuk sangat baru, baru ada sekitar 200 lembar kain songket deli yang diproduksi dengan sekitar 8 motif yang baru di kembangkan.
"Melayu Deli termasuk pusat kerajaan besar dan termasyur dulunya. Dalam dokumen dan foto sejarah, Kesultanan Melayu Deli mengenakan songket dengan motif Tembakau Deli," cerita Syarfina bersemangat. Ia yang didampingi anak perempuan satu-satunya Irfania Ramadhani bercerita mengenai motif Songket Deli yang menjadi produk unggulannya.
Melayu Deli memang kian tersohor dan dibesarkan oleh perkebunan.tembakau yang hasil tembakaunya sudah mendunia pada saat Belanda menguasai Indonesia. Menurut cerita Syarfina, hanya pihak kesultanan Deli saja yang boleh memakai kain songket bermotif tembakau ini.
Memiliki ciri khas tersendiri, juga ada sejarah dari baik Songket Deli membuat Syarfina optimis memasarkan produknya ini. Selain ingin mempopulerkan kembali budaya Melayu Deli lewat kain songket, Syarfina juga mau memunculkan bahwa cerita sejarah dibalik kain songket produknya. Sehingga pembeli tidak hanya menikmati motif, corak dan warna dari Songket Deli, tapi juga cerita dibalik motifnya itu.
Beberapa motif pun dikembangkan, mulai motif daun tembakau, bunga melati, bunga tanjung, bunga kopi, cempakasari, bunga kenangan, bung ataman raja (lilium regale), bunga pecah empat, sulur bunga tembakau, sulur si bunga raja, cogan daun tembakau dan durian Medan," jelasnya. Motif-motif ini direvitalisasi dan didesain kembali oleh Irfania Ramadhani.
Juga ada motif abstrak dari kain songket yaitu peterakna raja, bintang 4 suku, bebola ditabur, bumbung istana, Istana Maimun dan Menara Tirtanadi, motif istana, mushaf dan limau Sekupang. Berdasarkan motif dan abstrak tersebut, untuk menyesuaikan dengan perkembangan sekarang, motif-motif yang ada dikolaborasi dan disesuaikan. Motif lama diproduksi kembali tapi tidak berkesan kaku dan kuno kemudian menghasilkan beberapa kain songket diantaranya songket tabor daun tembakau Deli, songket motif bintang empat suku warna merah, songket motif tabor daun dan lain sebagainya.
"Sejauh ini motif Tembakau Deli menjadi perhatian banyak orang, karena memang unik dan bisa dikenakan untuk suasana formal," ungkap Syarfina.
Ia juga optimis bisnisnya ini bisa berkembang, karena keunggulan produknya. "Karena motif Melayu Deli ini kan khas, motifnya juga cantik saat dikenakan, dan bisa diaplikasikan ke barang jadi seperti tas juga busana seperti blazer," ungkapnya. (wina/UKM03)