Simon Ubah Limbah Kayu Dan Barang Bekas Menjadi Produk Bernilai Jual
Diposkan: 15 Jul 2019 Dibaca: 1457 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Simon Simarmata (58) warga jalan Garuda Raya Peumnas Mandala Medan benar-bena bernilai seni tinggi dan berpikir ekonomis.
Dia mampu mengubah limbah kayu dan barang bekas menjadi produk bernilai tinggi.
Jika melintas di Jalan Garuda Raya Perumnas Mandala, mata siapa yang tidak menoleh ke rumah milik pria yang sudah setengah tua ini. Karena banyak terpajang miniatur mobil-mobilan angkutan umum, truk, mobil Pertamina yang sekilas sangat mirip dengan aslinya.
Tanya punya tanya ternyata miniatur itu dibuat dengan bahan-bahan yang sederhana. Seperti limbah kayu, triplek bekas, paralon bekas juga barang bekas lainnya.
"Semua ini saya buat dari barang bekas, saya satu-satukan saja dan jadilah mobil-mobilan yang aku sendiri saja terkejut kenapa bisa sangat mirip dengan aslinya," jelasnya.
Usaha ini dikatakanya dimulai hanya hobi saja atau iseng. Karena sebelumya ia memiliki pekerjaan sebagi buruh bangunan dan juga memanfaatkan waktu membuka bengkel dirumahnya. Disela-sela itulah ia membuat miniatur mobil-mobilan dari papan dan triplek bekas."pertama satu unitnya kubuat tapi tak disangka ada yang bertanya dan membelinya, jadi akupun semangat memproduksi kembali," ungkapnya.
Dijelaskannya seperti miniatur motor tangki bahan bakar minyak (BBM) Pertamina, dia membuatnya dengan menggunakan paralon dan dikominasikan dari papan dan triplek.
Kemudian membuat becak Medan, kalau yang ini ia mengunakan untuk bannya dari tali kipas, sedangkan lingkarnya ia buat dengan menyusun lidi sembayang etnis Tionghoa Dan triplek.
Kemudian sampan tradisional dibuatnya dari kayu yang ia peroleh dari pohon kapuk yang merupakan tanaman depan rumahnya.
Sungguh sebuah karya seni yang layak diapresiasi. Sayangnya usaha yang sejak ada pada tahun 1980 an itu tidak pernah mendapatkan perhatian pemerintah. Sehingga ia berharap agar pemerintah melirik usahanya dan memberikan bantuan modal untuk tempat mengembangkan usaha. Karena Selain itu ia juga bermimpi dapat membuka kursus agar ilmu yang ia punya tidak hilang begitu saja melainkan dapat bergenerasi.
"Saya ingin buka kursus buat anak-anak muda agar usaha ini dapat menukar dikalangan anak muda, sebab saya yakin ini dapat menjadi peluang pekerjaan," katanya.
Ia mengaku tidak pernah belajar khusus. Sejak tahun 80-an ia sudah memulai usaha ini. Dulunya ia sambilan karena ia buruh bangunan disebuah perusahaan dan juga membuka usaha tempel ban di depan rumahnya.
Bentuk dan ide ia peroleh dari melihat lalu mengaplikasikannya pada bahan bahan sederhana yang merupakan barang barang bekas
"Kalau sekolah saya tidak ada, tapi saya pernah menjadi guru bagaian mesin di Imanuel Gatot Subroto. Sempat pergi ke Jakarta tapi tidak cocok lalu saya pindah ke Medan, jadi buruh saya dan sambil buka bengkel," katanya.
Dalam sehari jika fokus ia bisa memproduksi 5 sampai 10 miniatur. Dan saat ini jika dari bentuknya ada 15 jenis bentuk yang ia buat diantaranya, becak siatar, becak Medan, gitar, kapal Kelud, kapal Titanic, Zip, kapal layar, rumah adat Nias dan juga pesawat terbang.
Pemesanan diakuinya sudah go internasional, misalnya Jerman, Singapura dan ada juga dari Batam, pekan Baru dan Kalimantan.
"Kalau orang itu (Jerman) membeli miniatur ini untuk dikoleksi mereka, bahkan ada juga mereka memesan sesui keinginan mereka," katanya.
Untuk harga ia hanya membandrol Rp30 ribu sampai Rp50 ribu tergantung besar kecil dan kerumitannya.
Ia berharap kedepannya usaha seperti dapat menyebar di seluruh Indonesia. (UKM06)