Sempat Ragukan Komitmen Anak, Marzuki Sukses Merintis Hendri Galeri

Sempat Ragukan Komitmen Anak, Marzuki Sukses Merintis Hendri Galeri

Diposkan: 06 Oct 2018 Dibaca: 999 kali


UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Keputusan Marzuki (63 tahun) untuk membuka usaha pembingkaian kaligrafi ayat Al Quran 10 tahun lalu hampir membuatnya putus asa lantaran keterbatasan gerak dalam pemasaran. Namun, ternyata selalu ada jalan bagi orang yang serius mengerjakan sesuatu.

Kini, ayah tujuh anak tersebut tidak lagi harus mencari-cari kesempatan untuk bisa ikut dalam kegiatan pameran sebagai ajang promosi produk kaligrafi "Hendri Galery". Dia hanya lebih banyak duduk di rumah menanti pembeli, sembari menjalankan usaha grosir beras dan telur, yang sebagian modalnya merupakan hasil dari galeri kreasi sang anak, Hendrianto (30 tahun).

Ditemui ukmkotamedan.com di areal Komplek Gedung Serba Guna Pemprov Sumut, Jumat (5/10/2018), Marzuki yang baru selesai membantu Hendrianto menata belasan ukiran kaligrafi dalam bingkai di salah satu tenda stan Pameran UKM pada event MTQN 2018 Sumut itu menceritakan, keputusannya mendirikan workshop Hendri Galeri dilakukan setelah anaknya sempat menganggur beberapa bulan setelah bekerja dengan orang lain membuat bingkai kaligrafi.

"Setahun kerja sama orang, anak saya sudah gak mau kerja lagi. Saya tanya kalau buat sendiri sudah bisa apa belum? Dia bilang insya Allah. Saya masih nggak yakin karena takut tiba-tiba dia gak serius, modal habis sia-sia," ujarnya memulai ceritanya.

Keinginannya itu sempat dia tahan mengingat anaknya dirasa belum punya komitmen yang serius. Tapi lantaran pusing melihat Hendri tanpa aktivitas, dia beranikan diri mengucurkan modal untuk usaha itu.

"Sudah mulai buat, saya sempat down karena bingung ke mana kaligrafi ini dipasarkan, karena belum ada pengalaman. Sampai ada 30 (kaligrafi), belum juga tahu ke mana mau dijual," kata Marzuki.

Akhirnya, ada tawaran dari Dinas Koperasi dan UKM Kota Medan untuk bekerja sama dengan dia, mengisi pameran di Lapangan Benteng Medan. Sempat optimistis kaligrafi akan terjual, namun dia harus menerima kenyataan lain. Ternyata, sta yang semula dijanjikan untuk dia sudah diisi orang lain.

Pihak Dinas Koperasi dan UKM kembali mengajaknya untuk ikut pameran di tempat lain, Pasar Murah. Namun ironisnya kata dia, usai pembukaan kegiatan tersebut, suasananya sepi pengunjung. Praktis tidak ada barang yang terjual sehingga dia memutuskan untuk membawa kaligrafi pulang ke rumahnya di Jalan Pimpinan No 5, Kelurahan Sei Kera Hilir I, Medan Perjuangan.

Hampir menyerah dengan keadaan, tawaran dari pihak yang sama kembali menghampiri. Kali ini, dia diajak ikut mengisi stan milik dinas tersebut di Ramadhan Fair 2008. "Dinas koperasi cari yang isi stan, rupanya menteri koperasi mau berkunjung. Karena memang kondisi sulit, saya awalnya tolak karena untuk ongkos bawa barang saja tidak ada. Di samping saya juga sudah malas karena sebelumnya gagal," bebernya.

Tapi ternyata, pihak dinas memberikan uang untuknya bisa membawa produk ke Ramadhan Fair. Selain itu, respons pengunjung event tahunan Pemko Medan setiap bulan Ramadhan itu menjadi jalan baginya mendapatkan rezeki melimpah. "Laku kali (sangat) sampai barang yang sudah dikirim ke Aceh saya tarik lagi ke Medan. Pokoknya puluhan unit laku. Hasilnya bisa beli baju anak-anak, intinya lebaran tahun itu mewah," ungkapnya.

Usai kegiatan itu pula, relasinya bertambah. Selain Dinas Koperasi dan UKM Medan, beberapa dinas di Kota Medan dan Provinsi Sumut lainnya seperti Dinas Perindustrian dan  Perdagangan juga mengajaknya bekerja sama.

Namun sekarang, usia yang sudah tidak muda lagi membuatnya lebih selektif menerima tawaran ikut pameran. Apa lagi, dari Hendri Galeri, dia kini sudah memiliki usaha lain seperti grosir beras, telur dan salon kecantikan.

Menurut Marzuki, dia hanya ikut pameran jika lokasi kegiatannya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Padahal diakui Marzuki, jika rajin saja, kaligrafi Hendri Galeri cukup diminati. "Yang paling diminati itu kaligrafi Ayat Kursi, ayat 1000 Dinar, bentuk pintu Ka'bah, Surat Yasin. Harganya mulai dari ratusan ribu hingga jutaan. Pengerjaan bingkainya setengah hari dengan bahan fiber," bebernya.

Soal bahan kaligrafi dan bingkai, dia mengaku memasok dari Pulau Jawa. Selanjutnya, sang anak mengkreasikan warna dan corak bingkai sesuai seleranya. Untuk ukuran bingkai mulai dari 90 cm x 60 cm hingga 140 cm x 80 cm. Sementara untuk kaligrafi dia mengatakan ada yang dari aluminium, Kuningan, hingga kertas. "Bahan bingkai dari kayu dulu ada, tapi sekarang tidak ada lagi. Sekarang yang banyak itu fiber," paparnya.

Marzuki mengaku tidak pernah menghitung pendapatannya setiap bulan, baik saat masih aktif mengikuti kegiatan pameran maupun saat ini setelah dia lebih sering menunggu konsumen di rumahnya. Namun kata dia, tetap ada keuntungan dari usahanya itu untuk disimpan ataupun yang kembali dikeluarkan untuk membeli bahan.

"Karena sekarang saya tidak ngotot dan melobi untuk ikut pameran karena ada usaha lainnya. Dulu, kaligrafi ini usaha saya yang utama. Tapi sekarang ini usaha tambahan, grosir jadi usaha utama karena saya jarang keluar lagi," kata dia.

Merasa tidak cukup kuat untuk aktivitas di luar seperti pameran, Marzuki menyebutkan akan menyerahkan Hendri Galeri kepada anaknya untuk diteruskan. Sementara dia ingin santai menjalankan usahanya yang lain.

"Saya agak malas kalau pameran, apa lagi yang jauh. Jadi saya putuskan sebentar lagi anak saya yang akan saya suruh meneruskan. Harapannya bisa lebih banyak lagi pembelinya seperti dulu," pungkasnya.(UKM05)


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2026. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved