Sempat Ditolak, Terasi Sangrai Cap Koki Kini Banjiri Gerai Oleh-Oleh Medan
Diposkan: 21 Oct 2018 Dibaca: 1215 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Pengalaman adalah Guru yang Terbaik. Ungkapan itu tepat untuk menggambarkan proses pembelajaran yang didapatkan Ahmaddun Sitorus (44 tahun) pemilik produk Terasi Sangrai Cap Koki.
Ditemui baru-baru ini, ayah dua orang anak ini menceritakan, usaha ini berawal dari kegemaran mengonsumsi terasi. Madun sapaan Ahmaddun, kerap membeli terasi di kawasan Tanjungbalai untuk dijadikan peluang usaha.
Rasanya yang enak, membuatnya cukup optimis jika produk tersebut memiliki prospek bisnis yang menjanjikan. Namun, ironisnya, saat menawarkan terasi ini untuk dititipkan di salah satu warung kelontong di kawasan Kampung Lalang, justru penolakan yang dia terima.
Si pemilik warung tak mau menjual terasi lantaran khawatir akan memancing tikus datang karena aroma terasi yang menyengat. Penolakan ini, begitu membekas dalam ingatan Madun.
Alih-alih dirinya merasa down, penolakan membuatnya bersyukur, karena memperoleh informasi baru, bahwa menyimpan terasi sangat rentan untuk mengundang tikus.Aroma khas terasi yang harum itu tidak sekadar menusuk hidung anggota rumah, tapi juga 'menggoda' selera tikus untuk menjelajahi areal sekitar tempat penyimpanan terasi.
"Karena aku merasa begitu juga. Saat menyimpan terasi, satu rumah bisa bau terasi. Saya langsung putar otak. Di perjalanan pulang saya terus berpikir bagaimana caranya bisa membuat terasi yang tetap tidak mengurangi rasa lezatnya, tapi mudah disimpan di manapun, dan baunya juga tidak menyengat,"ujar Sita (43) ini.
Akhirnya sekitar lima bulan silam dia mencoba melakukan pengolahan kembali dari terasi itu.
"Dulu ibu kos saya gemar menyimpan abon terasi. Dia membeli terasi petak kemudian digoreng sambil dihancurkan dan disimpan di dalam toples," ujarnya.
Madun kemudian berpikir untuk melakukan hal serupa, membuat terasi goreng. Namun karena pertimbangan lain, urung dilakukan. "Tapi tidak jadi saya buat karena dengan cara menggoreng membuat terasi jadi agak basah, jadi cepat berbau tengik," tuturnya.
Kemudian dia mengubah pola masak dengan cara sangrai. Metode sangrai yang diterapkan pada Terasi Sangrai Cap Koki adalah proses pengsangraian hingga terasi benar-benar kering. "Ditandai dengan aroma dan tekstur yang sudah krispi, jadi sudah masak benar," ucapnya.
Terasi sangrai yang sudah matang dikemas dalam kemasan plastik dan siap disantap.Selain untuk membuat sambal, terasi cap Koki yang terbuat dari udang kecepe itu bisa dijadikan bumbu peyedap rasa untuk berbagai tumisan, seperti tumis kangkung, tumis tauge, sayur asam, mie goreng hingga nasi goreng.
Dengan kemasan praktis dan sudah dalam kondisi masak, Ahmaddun menilai terasi sangrai cap Koki sangat tepat digunakan mulai dari rumah tangga, rumah makan, restoran hingga hotel.
Saat ini kata Madun, dia memproduksi sekitar 10 kg terasi sangrai setiap pekannya. Kendati masih banyak yang belum mengenal, dia cukup optimistis produk olahannya akan semakin dikenal orang.
Kini, terasi sangrai Cap Koki ini, bisa diperoleh di beberapa toko oleh-oleh khas Medan, seperti Markisa Noerlen Jalan Sei Tuan No 7 Medan Baru , Sate Kerang Rahmat Jalan Kruing No 3 D. Untuk informasi lebih lanjut tentang tentang terasi Cap Koki bisa menghubungi 08126385338.(UKM05)