Sambil Merintis Dapur Jamur, Khairullah Berbagi Ilmu Budidaya Jamur Tiram
Diposkan: 17 Oct 2018 Dibaca: 1531 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Usahanya memang masih dalam tahap berkembang. Tapi semangat Khairullah (28 tahun) untuk maju patut diacungi jempol.
Pasalnya, dia tidak hanya mengawal perkembangan budidaya jamur tiram miliknya, tapi juga membagikan ilmu yang dia punya kepada siapa saja.
Ditemui ukmkotamedan.com di Hotel Arya Duta, Rabu (17/10), ayah satu anak ini menceritakan, betapa peluang untuk sukses dalam bertani jamur sangat besar. Buktinya, dia sudah merasakannya, kendati budidaya jamur miliknya masih relatif kecil.
"Sejak 2012 lalu saya memulai budidaya jamur tiram ini di rumah saya di Gang Dara 2, Lingkungan 14 Pasar III Marelan Raya. Luas areal pertanian jamur tiram saya sekitar setengah rantai (10 meter x 10 meter)," ujarnya memulai perbincangan.
Sekitar 5000 hingga 6000 baglog (wadah dan media tanam jamur) ada di kumbung tempatnya membudidayakan jamur berwarna putih yang bentuknya mirip cangkang tiram tersebut. Sedikit-dikitnya, alumni Universitas Al Azhar Medan itu bisa mengantongi hasil penjualan sebesar RP500 ribu sehari.
Dia menceritakan, "perjodohannya" dengan jamur tiram terjadi di 2011, ketika salah seorang guru besar di Universitas Islam Sumatera Utara (UIN-SU) memberikannya ilmu soal budidaya jamur tiram. "Kebetulan guru besar itu kuliah S1 di Jombang. Beliau mengatakan, di daerah itu sudah cukup banyak petani yang membudidayakan jamur tiram. Sayangnya di Medan belum ada. Saya pun tertarik belajar budidayanya. Beliau ajarkan saya, gratis," ucapnya mengisahkan.
Tahun berikutnya, 2012, dia memulai petualangan di dunia baru tersebut. Khairullah mengaku tidak mengeluarkan banyak modal untuk memulainya, apa lagi, untuk pembuatan baglog dia melakukannya sendiri setelah mendapatkan pengetahuannya dari sang guru besar.
Seperti pepatah mengatakan, "kegagalan adalah guru yang terbaik" pria bertubuh kurus ini mengaku mengalami kegagalan selama setahun dalam proses budidaya. Ada saja masalah yang dijumpai. Namun, tidak menyerah dengan keadaan, dia terus memperbaiki diri, mempelajari apa yang menjadi penyebab gagal tanam tersebut.
Sukses mengatasinya, masalah baru muncul. Usai panen, dia belum tahu ke mana hasil panen bisa dijual. Khairullah lantas mencoba menawarkan ke tetangga, penolakan didapatkan. Kata dia, masyarakat khususnya di kawasan tempat tinggalnya masih belum tahu apa itu jamur tiram dan khawatir jamur tersebut malah beracun.
Diapun cari akal. Tidak menjual jamur dalam kondisi mentah, dia mencoba membuat olahan jamur tiram crispy dan menawarkan ke masyarakat untuk mencicipi. Respons positif dia dapatkan. Ternyata cukup banyak yang menggemari. Sebagian masyarakat malah menyangka jamur crispy itu olahan daging ayam.
"Pepes jamur tiram, sate, bakso juga bisa dibuat dari jamur ini. Berjalan dua tahun setelahnya, saya jual ke pasar konvensional, ke warung mie ayam jamur di daerah Marelan dan buat jamur krispi. Kebetulan saat itu saya belum kenal agen," bebernya.
Mulai merasakan peningkatan konsumen, 2016, Khairullah memberanikan diri membuka kafe di sekitar Marelan dengan nama Cafe Dapur Jamur yang menu makanannya banyak dari olahan jamur. Sayangnya, kondisi lingkungan sekitar kurang bersahabat. Dia malam mengalami kerugian lantaran banyak perkakas kafe yang dicuri orang.
"2017 saya tutup kafenya. Perlahan saya beralih memasarkan produk melalui media sosial seperti Instagram di Dapur Jamur. Alhamdulillah permintaan mulai meningkat, Lantamal Belawan rutin pesan 20 bungkus antara 2 Kg hingga 2,5 Kg. Kalau jamur biasanya per hari bisa panen 10-15 Kg per hari. Dan kalau ada pesanan banyak, saya ambil dari mitra yang sudah saya bina," ungkap pria yang biasa disapa Acunk itu.
Dia bertekad untuk terus melakukan pembinaan kepada masyarakat khususnya generasi muda untuk bisa memiliki penghasilan terutama saat lulus kuliah. Apa lagi kata dia, peluang sukses berbisnis budidaya jamur tiram masih sangat bagus.
"Kebutuhan jamur di Kota Medan itu 1 hingga 2 ton per hari. Sementara hari ini baru terpenuhi 100 hingga 200 Kg. Saya selalu soundinggkan ke pemerintah (Pemko Medan), ayo bantu pemuda berjuang untuk ketahanan pangan dalam hal ini jamur.
Karena rasanya tidak ubahnya macam daging. Tidak menutup kemungkinan kalau banyak mengonsumsi impor daging berkurang dan nutrisinya sama. Untuk yang mau, saya akan berikan pelajaran gratis. Saya bertekad untuk beramal jariyah dari sini," pungkasnya.(UKM05)