Respon Industri 4.0, Kreativitas dan Daya Saing Perlu Ditingkatkan
Diposkan: 26 Aug 2019 Dibaca: 806 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, BALI - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Mardiasmo mengatakan potensi dan kreativitas yang harus terus dikembangkan untuk memunculkan produk dan inovasi baru dalam model bisnis digital di tengah Revolusi Industri 4.0 saat ini.
Hal ini diungkapkannya saat menjadi keynote speech pada Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) Ke-24 Tahun 2019, Senin (26/8/2019).
Dalam paparan bertajuk "Kebijakan pendanaan dan fasilitas perpajakan untuk keperluan riset dan pengembangan dalam rangka percepatan pertumbuhan ekonomi’ Mardiasmo mengatakan saat ini daya saing Indonesia sudah relatif baik dalam aspek besaran pasar dan dinamika bisnis. Sedangkan ruang perbaikan meskipun kecil masih terdapat pada aspek institusi, stabilitas makro ekonomi, pasar produk, dan pasar tenaga kerja.
“Ke depan, produktivitas dan daya saing harus ditingkatkan dengan fokus pada aspek yang relatif besar ruang perbaikannya yaitu infrastruktur, kualitas SDM (kesehatan, skill, dan pasar tenaga kerja), kemampuan berinovasi dan adaptasi teknologi, serta sistem keuangan,” ujarnya.
Terkait strategi pembangunan manusia yang berkualitas dengan menggunakan end to end perspective, pemerintah sebutnya mengalokasikan anggaran sebesar Rp492,5 triliun, termasuk untuk infrastrukturnya.
Sedangkan strategi pendanaan dan insentif penelitian dilakukan melalui kebijakan APBN dan sumber lainnya yaitu Non-APBN. Lembaga penelitian diharapkan agar lebih optimal dalam mencari dana non-APBN dan Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
Sementara, untuk APBN sendiri semestinya digunakan untuk penelitian dasar serta peningkatan kompetensi SDM peneliti.
“Bagaimana kita buat belanja untuk pendidikan, fokus belanja 2019 dan output 2020, bagaimana mengembangkannya. Jadi, kalau kita melihat bagaimana kita bisa melompat atau menciptakan suatu inovasi, bagaimana kita melihatnya secara holistik, secara edukasi, social protection, health karena masyarakat Indonesia dengan demografinya, dengan penduduknya, tidak semuanya mampu menikmati teknologi.
Karena kita menginginkan pembangunan yang inklusif, percepatan yang inklusif untuk seluruh lapisan masyarakat Indonesia sehingga bagaimana bsia menjamin research perguruan tinggi bisa menjangkau masyarakat, link and match dengan industri sehingga masyarakat kecil, UMKM bisa dapat merasakan dengan optimal,” tegasnya. (*/kemenkeu)