Ramah Lingkungan dan Ekonomis, Mobil Listrik PLN Perlu Didukung
Diposkan: 17 Dec 2018 Dibaca: 783 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara (Sekdaprovsu) Hj R Sabrina mengatakan keberadaan kendaraan listrik tanpa bahan bakar minyak (BBM) merupakan jawaban atas semakin langkanya sumber energi fosil. Karenanya, produksi mobil ini perlu dikembangkan pemerintah.
“Langkah ini merupakan inovasi anak negeri yang patut diapresiasi dan didukung. Termasuk juga pengembangannya di Indonesia. Mengingat sumber energi fosil yang selama ini terus digunakan, semakin berkurang. Sehingga perlu ada alternatif lain sekaligus ramah lingkungan,"ujarnya pada kegiatan ‘Menyambut mobil listrik PLN’ yang singgah di halaman Kantor Gubernur Sumut, Senin (17/12/2018).
Sekda juga meminta PT PLN bisa menyediakan sarana pengisian daya listrik di beberapa tempat di Sumut. Mengingat kendaraan ini harus diisi ulang selama beberapa waktu sebagian pengganti BBM.
"Saya kira ini merupakan mobil masa depan. Akan sangat berguna bagi kita," sebut Sekda sekaligus melepas keberangkatan mobil listrik buatan anak negeri dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan Universitas Budi Luhur menuju Provinsi Aceh, setelah sebelumnya mencoba mobil tersebut.
Sementara GM PT PLN Wilayah Sumut, Feby Joko Priharto mengatakan, dengan mobil listrik ini, para pengguna akan merasakan perbedaan dari segi hemat bahan bakar. Sebab, katanya, selain tidak menggunakan BBM, daya listrik yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan juga lebih hemat.
"PLN sendiri sudah siapkan stasiun pengisian daya listrik di Kota Medan dan beberapa tempat di luar ini. Ini juga akan kita tambah seiring bertambahnya jumlah kendaraan listrik nantinya. Kita juga sudah berangsur menggunakan kendaraan listrik ini," katanya.
Sementara Dosen ITS Surabaya Muhammad Noer menjelaskan perbandingan biaya antara kendaraan listrik dan konvensional menggunakan BBM. Dimana keunggulan menggunakan produk anak negeri tersebut, konsumsi energi 1 KwH bisa menggerakkan mobil sejuah 5 km. Jika harganya Rp1.500/KwH, maka untuk harga Rp7.500, bisa sampai 25 km. Sementara kendaraan biasa (mobil), satu liter hanya mencapai 10 km hingga 15 km.
"Jadi jika diibaratkan minyak, satu liter itu bisa mencapai hampir dua kali lipat lebih hemat. Kalau kecepatan, maksimal mencapai 140km/jam. Tetapi kita rata-rata, 60-70 km/jam," ujarnya seraya mengaku telah melalui 4.500 km untuk sampai ke Sumut. (UKM06)