Produksi 5 Produk Pangan Digenjot hingga Swasembada
Diposkan: 27 Jun 2018 Dibaca: 1337 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, JAKARTA –Kementerian Pertanian mengaku telah meningkatkan produksi lima produk pangan hingga swasembada. Lima pangan utama itu adalah beras, jagung, bawang merah, cabai dan ayam bahkan sudah diekspor ke berbagai negara.
"Untuk padi, produktivitas rata-rata nasional saat ini hanya 5,2 ton/ha. Sekarang ini, sudah kita kembangkan hingga 5 ton. Begitu pula dengan komoditas lainnya untuk mengembangkan bibit-bibit unggul lainnya agar dapat bersaing dengan negara lain," kata Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman dikutip dari detik, Selasa (26/6/2018).
Kini satu komoditas yang menjadi fokus untuk ditingkatkan produksinya yakni kopi. "Saat ini produksinya rendah sekitar 700kg/ha per tahun. Ini masih bisa kita tingkatkan potensinya menjadi 3,5 ton," tambah Amran.
Hal tersebut dikatakan Amran dalam pertemuannya dengan Kepala Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko. Melihat capaian Kementan, Laksana memberikan apresiasinya pada Kementan terkait kinerjanya dalam pemerintahan Jokowi-JK.
"Kami sangat mengapresiasi dari 400 komoditas yang ditangani Kementan, lima komoditas pangan utama bisa swasembada bahkan diekspor. Itu lompatan yang luar biasa karena sekian lama kita lebih banyak impornya daripada ekspor," ujar Laksana.
Karena itu, Laksana menerangkan kerja sama LIPI dengan Kementan sangat penting dalam mendorong peningkatan inovasi dan teknologi pertanian yang mampu meningkatkan produksi serta memberikan nilai tambah bagi petani. Ini terkait dengan kegiatan riset yang dilakukan LIPI memerlukan pengujian lapangan seperti pertanian.
"Apa yang kami lakukan di level riset berhenti di titik tertentu. Setelahnya kita harus bekerja sama dengan Kementan untuk mengimplementasikannya apakah dengan uji tanam dan seterusnya," terangnya.
Laksana juga meyebutkan ada banyak hasil riset terbaru dari LIPI terkait pertanian. Mulai dari bibit unggul berbasis rekayasa genetika, teknologi pascapanen dan teknologi proses sehingga panen tidak cepat susut dan menjaga agar lebih baik.
"Jadi, relasi dengan Kementan tidak bisa tidak kita lakukan, khususnya dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan)," katanya. (***)