Pola Kemitraan Bawa Sukses Petani Pisang Tanggamus

Pola Kemitraan Bawa Sukses Petani Pisang Tanggamus

Diposkan: 28 Jul 2019 Dibaca: 275 kali


UKMKOTAMEDAN.COM, LAMPUNG- Pola kemitraan petani dengan perusahaan bisa membawa perubahan signifikan bagi kehidupan ekonomi. Seperti kisah para petani pisang mas Kabupaten Tanggamus yang bermitra dengan PT Great Giant Pineapple (GGP), produsen sekaligus eksportir nanas dan pisang terbesar di Indonesia.

Para petani Tanggamus mengisahkan, awal mulanya mereka diminta menanam jenis pisang mas, dengan pendampingan dari PT GGP mulai dari penyediaan bibit dan pupuk, cara tanam, penanggulangan hama dan penyakit, panen, hingga pengemasan, dengan bantuan kemudahan teknologi.

“Proses belajar dari petani tradisional menjadi petani modern itu butuh waktu dan tidak mudah. Namun, dari tahun ke tahun kami selalu didampingi dan dibina oleh perusahaan,” tutur salah satu petani Tanggamus saat berdiskusi dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution saat kunjungan kerja ke Lampung, dilansir dari laman ekon.go.id, Minggu (28/7/2019).

Dengan sistem kemitraan ini timpal petani lainnya, selain jaminan pembinaan juga ada jaminan harga. “Kami pun dilatih untuk bisa melakukan ekspor dari rumah sendiri. Kualitas tanaman kami itu sudah kualitas ekspor, sudah pernah ke Singapura, Cina, dan lain-lain. Syukurlah kehidupan ekonomi kami membaik dan bisa mengantar anak-anak sampai sarjana,”ujarnya.

Tidak hanya itu, petani juga diajarkan untuk memilah hasil panen sesuai standarnya masing-masing, mulai dari grade A hingga D. Bahkan, ada juga kompetisi untuk memperebutkan juara hasil panen terbaik sehingga bisa menyemangati para petani.

“Kelompok-kelompok petani yang memiliki anggota sekitar 30-40 orang di tempat kami juga berinisiatif membentuk koperasi. Di situ seminggu sekali kami duduk bersama, kami berembuk saling evaluasi,” cerita petani lainnya.

Dari pihak perusahaan juga mengembangkan sistem aplikasi bernama eGrower. Salah satunya berfungsi untuk mempermudah komunikasi antara perusahaan melalui para supervisor lapangan, dengan koperasi, kelompok tani, dan para petani yang tergabung dalam kerja sama. 

Tadinya, Tanggamus merupakan daerah perkebunan kopi. Namun, para petani di kabupaten ini beralih menanam pisang karena mampu memberikan hasil produksi dan harga yang lebih ekonomis.

“Dulunya basis kopi, tapi petani kan butuh uang. Kalau kopi itu harus menunggu 12 bulan baru dapat hasilnya, sekitar 20 juta untuk 1 ha per tahun. Sedangkan kita dapat penghasilan per minggu dari pisang. Rata-rata dari ¾ ha saja bisa menghasilkan minimal 1,4 juta per minggu,”ujar petani.

Menko Perekonomian mengapresiasi pola kemitraan yang dibangun pihak swasta dan petani ini. Ke depan, Pemerintah pun ingin menggenjot pembangunan infrastruktur dan logistik desa.

“Petani memang akan lebih sejahtera jika ada yang mengajarkan budidaya tanam yang baik dan ada yang membeli dengan harga yang jelas. Kita juga ingin ada logistik yang baik dari desa dan pasar pengumpul,” tegas Darmin.

Sementara itu, Manager in Charge Sales and Marketing PT GGP mengakui pola kemitraan petani dan perusahaannya saling menguntungkan kedua pihak. "Kami memang hanya memproduksi pisang yang berstandar ekspor untuk pasar internasional. Pisang hasil produksi bapak-bapak petani Tanggamus ini sudah kita ekspor ke Singapura dan Cina, khususnya Shanghai," ujarnya.(*/ekon.go.id/UKM01)

 


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2020. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved