Perempuan Ini Jual Sate Kerang dari Pantai Ke Pantai demi Penuhi Ekonomi Keluarga

Perempuan Ini Jual Sate Kerang dari Pantai Ke Pantai demi Penuhi Ekonomi Keluarga
Juli, Pedagang Sate

Diposkan: 10 Sep 2019 Dibaca: 12 kali


UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Dulu, saat kita naik transportasi kereta api akan gampang menjumpai penjual makanan di atas gerbong. Salah satunya penjual aneka sate.

Sayang, para pedagang yang biasa berjualan di dalam gerbong kereta api tergerus kemajuan zaman. Dimana pihak kereta api berbenah dan meningkatkan pelayanan sehingga  para pedagang tak bisa lagi berjualan di atas kereta.

Akhirnya, para pedagang mencari lapak masing-masing untuk menjajakan produk mereka. Dan tidak sedikit pula memilih berhenti berjualan alias gulung tikar. Sebab banyak menyatakan bahwa tidak bisa lagi menggantungkan kehidupan lagi di gerbong kereta api.

Sebut saja salah satunya Juli yang keseharian disapa dengan sebutan buk Jujuk. Ia adalah eks penjual sate tusuk di atas kereta api. Sejak ia tidak lagi diperbolehkan berjualan di kereta api, ibu dari 3 anak ini tidak habis akal. Ia tetap mempertahankan usahanya tetap eksis.

"Sudah enam tahun saya di sini berjualan. Saya berjualan sate ini pindah-pindah pokoknya dimana ada pantai dan keramaian saya akan mendatanginya," katanya sambil tersenyum simpul.

Diceritakannya, ia harus bertahan menjalankan usaha ini, karena ada beban dipundak yang harus ia pikul. Wanita yang sudah berusia 42 tahun ini sudah lama menjadi tulang punggung dan juga menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya. Ini dikarenakan suaminya sudah sakit-sakitan dan tidak punya pekerjaan pula.

Setiap hari ia membawa 150 cucuk aneka sate. Mulai pukul 09.00 wib, wanita yang merupakan warga Pakam ini sudah mulai menelusuri dari satu pantai ke pantai lainnya yang ada di Serdang Bedagai.

Pantai ATP atau Pantai Nipah Jalan ATP  Desa Nagalawan Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai salah satu pantai yang kerap ia kunjungi. Disini ia bebas tanpa membayar kontribusi.

"Di sini bebas saya mau jualan, tidak ada diusir-usir, kalau dipantai lain memang lebih ramai tetapi saya tidak nyaman. Bahkan ada pantai yang sudah dikelola sama sekali tidak memperkenankan pedagang seperti saya ini masuk ke pantai untuk berjualan," katanya.

Tetapi alasan kebutuhan ekonomi, ia terus bertahan, tak banyak orang yang tau ternyata tantangan menjadi penjual sate tusuk ini banyak rintangannya. Padahal untung yang ia peroleh dari satu tusuk hanya Rp500 rupiah.

"Setiap hari saya bisa menghabiskan 150 tusuk sate. Ini bukan saya yang buat. Saya ambil dari distributornya. Kalau dari sananya satu tusuk Rp 1500, saya akan menjualnya dengan harga Rp2000 saja," akunya.

Demi menyekolahkan anak-anaknya, pekerjaan yang menguras waktu ini dan harus melawan situasi alam seperti hujan, panas dan angin kencang harus ia hadapi. Ini dilakukannya agar suaminya bisa makan dan berharap segera sembuh dan memberi kehidupan yang lebih baik baginya dan anak-anaknya.

"Suami saya sakit asam urat jadi tidak bisa bekerja, jadi saya harus membantu perekonomian keluarga," ungkapnya dengan nada sedikit parau.

Ia berharap, pantai tempat ia mencari makan terus bisa memberikan keleluasaan baginya berjualan. "Saya harap, pantai pantai ini terus bisa saya masuki, kalau tidak saya harus berjualan kemana lagi," katanya.

Dia mengaku jika pulang ke rumahnya sore hari ia harus mencari tumpangan untuk keluar dari lokasi pantai yang jaraknya ke Pasar Besar cukup lumayan jauh. (UKM06)


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2019. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved