Pengusaha Unggas Diajak Masuk Model Bisnis Prukades
Diposkan: 28 Jul 2018 Dibaca: 1747 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, JAKARTA Di era revolusi Industri 4.0 perubahan terjadi lebih cepat. Oleh karenanya, pelaku usaha harus terus berinovasi dengan cepat dan menangkap peluang, agar bisa terus mengikuti perubahan.
"Gabungan Pengusaha Pembibitan Unggas, GPPU juga pasti bisa menghadapi perubahan asal punya bisnis model yang jelas. Saya ajak GPPU untuk masuk di peluang-peluang model Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades)," ujar Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo dalam Kongres XII GPPU dengan tema "FGD GPPU Menghadapi Tantangan Nasional, Regional, Global 'Siapkah?" di TMII, dikutip dari laman kemendes, Sabtu (28/7/2018).
Eko melanjutkan, bisnis model Prukades ini bisa menciptakan tenaga kerja di desa. Dirinya mengasumsikan jika angkatan kerja di desa bisa menghasilkan Rp 2 juta saja, maka dalam satu bulan akan ada perputaran finansial mencapai Rp 2 Triliun. Jika Rp 1.000 Triliun dalam satu bulan, maka akan tercipta 12.000 Triliun dalam satu tahun.
"Silakan GPPU kalau masuk, buat model kemitraan, bikin rumah potong, bikin desa wisata yang menawarkan makan ayam. Kerjasama juga dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk bikin kafe-kafe di tengah sawah seperti di Pujon Kidul. Bikin desa wisata dengan menu makan ayam, wisata ayam dan sebagainya yang akan meningkatkan konsumsi ayam. Manfaatkan kesempatan pembangunan di desa," ajaknya.
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian, Sugiono mengatakan, GPPU adalah salah satu pejuang protein hewani Indonesia. Dirinya pun meyakini kondisi perunggasan di Indonesia dalam kondisi sehat.
"Ekonomi akan turun kalau peternak hancur. Tidak apa-apa harga mahal, pedagang untung, masyarakat beli, daripada harga murah dan tidak ada yang beli," ujarnya.
Ketua Umum GPPU Krissantono menyebutkan organisasi tidak mungkin menghadapi dan memikul beban sendiri. Oleh karenanya, sinergi dengan pemerintah diperlukan untuk menjawab segala tantangan yang ada. "Kita perlu Pak Mendes karena peternak-peternak ada di desa. Siapa tahu ke depan ada kerjasama yang terjalin," kata Krissantono. (***)