Penghasilan Karyawan Tidak Memadai, Alam Pilih Jadi Petani
Diposkan: 30 Oct 2019 Dibaca: 1432 kali
UKMKOTAMEDAN.COM – MENGADU nasib dengan merantau, tidak selamanya berbuah manis. Impian untuk membantu ekonomi keluarga ternyata jauh dari panggang. Sebab penghasilan yang diperoleh tidak memadai.
Seperti yang dialami Alam Naibaho (28) warga Dusun Manik Huluan Desa Said Buttu Saribu Kecamatan Pematang Manik Kabupaten Simalungun. Pria berusia 28 tahun ini kemudian termotivasi untuk kembali ke kampung halaman dan mengelola lahan keluarga yang terlantar.
Alam menuturkan sekira tahun 2012 dia merantau ke Riau. Bekerja sebagai karyawan toko elektronik dengan penghasilan Rp1,5 juta perbulannya. Besaran tersebut, tidak memadai untuk memenuhi kebutuhannya. Belum lagi adiknya memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Saat itu, adik saya punya keinginan untuk kuliah. Dari situ saya mikir bagaimana mungkin bisa membantu orangtua dengan penghasilan sebesar itu,”ujar Alam yang juga Sekretaris Kelompok Tani Parma Jaya Dusun Manik Huluan Desa Said Buttu Saribu Kecamatan Pematang Manik Kabupaten Simalungun ini.
Setahun bekerja, Alam memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya dan membantu mengelola kebun orangtuanya. Saat itu, orangtuanya memiliki lahan kopi yang tidak dikelola dengan maksimal. Karena tumbuh secara alami tanpa adanya perawatan.
Setelah kembali, Alam mengaku langsung turun membantu orangtua mengelola lahan kebun yang dimiliki. Dengan tetap mempertahankan tetap kopi, namun disela-selanya juga mulai mulai ditanami cabai.
Pilihannya menjadi petani, tidak berjalan mulus. Sebab dua kali bertaman cabai, hasilnya tidak seperti yang harapkan. Selain itu juga, ketika pertama kali menanam kopi juga gagal.
“Saat itu, kupikir cara nanamnya sama seperti dulu. Dulu kan kopi dicampakkan tumbuh. Rupanya setelah mengikuti diskusi, akibat perubahan iklim, bibit baru tanam yang tidak pas,”ujar Alam.
Kemudian, Alam mengaku mulai sering berjalan ke sentra-sentra pertanian untuk belajar. Hingga akhirnya sekira dua tahun lalu, menjadi dampingan Bina Keterampilan Pedesaan (Bitra) Indonesia dalam Proyek Toba (Technology transfer, on Farm Invesment Better than women and Youth Integration).
Disini, Alam mengaku mendapatkan banyak ilmu setelah menjadi binaan Bitra, termasuk dalam melakukan perawatan terhadap tanaman agar kopi menghasilkan produktivitas yang tinggi. Salah satunya dengan membongkar tanaman kopi yang sudah tidak layak dan menggantikannya menanam baru.
Selain itu juga ada yang dilakukan replanting."Ada yang replanting, ini menunggu yang baru,”ujarnya.
Pilihannya menjadi petani mulai berbuah manis. Sebab adiknya, akhirnya bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sedangkan kopi di tamani bisa menjadi satu-satunya sumber penghasilan utama keluarga. Sedangkan tanaman tumpang sari seperti cabai yang ditamani diantara pepohonan kopi bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. (UKM01)