Peluang Ritel Modern di Pesantren Besar, Hipmi menargetkan ekspansi 500 gerai
Diposkan: 22 Jan 2019 Dibaca: 1070 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, JAKARTA - Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bahlil Lahadalia menilai, peluang usaha toko ritel modern di pesantren masih besar. Sebab, Indonesia memiliki banyak pesantren di berbagai daerah, sedangkan yang memanfaatkannya baru sedikit.
Potensi pengembangan ekonomi pesantren ini, sebenarnya, sebenarnya, sudah dilihat sejak tahun lalu. Saat Hipmi mewadahi kebutuhan praktik bisnis para santri di Jawa tanpa mengganggu pendalaman ilmu agama.
Dilansir dari Republika.co.id, Selasa (22/1/2019),Bahlil menyebutkan, cara membangun dan mengembangkan skema ritel modern yang ditempatkan di pondok pesantren ini dimulai Hipmi pada tahun 2018 di pesantren dengan membuka Ummart atau Umat Mart.
Hingga akhir 2019 ini, pihaknya menargetkan dapat melakukan ekspansi 500 gerai dengan fokus lokasi di kawasan pesantren. Memang akunya, tidak semua pesantren dapat mengembangkan skema ritel modern karena harus menyesuaikan dengan kurikulum pengajaran di pesantren.
Meski begitu dia optimistis, setidaknya 2.000 sampai 3.000 pesantren di Jawa Timur dapat menerapkannya.
"Jumlah itu sedikit dibanding dengan total pesantren yang ada, sekitar 20 sampai 30 persen," katanya.
Bahlil menuturkan, konsep Ummart sendiri berbeda dengan ritel modern pada umumnya. Yakni, pemberdayaan semi syariah dan koperasi yang diharapkan mampu memberi dampak maksimal bagi pesantren dari sisi edukasi maupun bisnis. Jangka panjangnya, pesantren dan santri dapat mengembangkan ritel modern ini secara mandiri.
Saat ini, industri ritel tengah mengalami perubahan konsep dari offline menjadi omnichannel atau memadukan antara online dengan offline. Di tengah pergeseran ini, Bahlil menilai, prospek ritel modern masih terbilang cerah. Sebab, pertumbuhan ekonomi nasional masih ditopang oleh konsumsi.
Konsep ritel syariah seperti Ummat sebenarnya bukan hal baru karena beberapa minimarket sudah mengusung konsep serupa, seperti 212 Mart. Bahlil memandangnya bukan sebagai persaingan yang patut dicemaskan. Ia justru mengapresiasi para pelaku ritel yang mulai mengembangkan bisnis model ini.
"Apalagi, mayoritas penduduk Indonesia kan beragama Islam," ujarnya.
Dalam mengembangkan Ummart, HIPMI menggandeng Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) sebagai pihak yang dianggap memahami industri di sektor ritel. Sementara HIPMI lebih fokus pada pengembangan konsep dan manejemen, Aprindo menangani operasional.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, kerja sama ritel modern dengan pesantren sudah pernah membuahkan hasil. Salah satunya terjadi di Jember, di mana pesantren menjalin kerja sama dengan Alfamart dan Indomaret. Dampaknya, peningkatan omzet mereka mencapai 500 persen.
Enggar menuturkan, sistem yang mereka terapkan lebih modern atau tidak seperti warung biasanya. Pengusaha di pesantren juga bisa mendapatkan harga lebih murah dari sentral hingga edukasi mengenai penataan produk yang lebih baik.
"Pemerintah juga berencana menyiapkan kurikulum (ekonomi dan bisnis) ke pesantren, sehingga mereka lebih siap," ujarnya saat konferensi pers di Kantor Kemendag, Kamis (10/1).
Menurut Enggar, kewajiban pemerintah dalam memberdayakan pondok pesantren tidak hanya berupa bantuan pendidikan, juga pendampingan ekonomi. Di antaranya dengan mempersiapkan produk UKM yang akan dipasarkan, dikembangkan hingga memiliki daya saing tinggi. (*)
Sumber : Republika.co.id