Peluang Bisnis SSB Besar, Tinggal Keseriusan Pengelolanya
Diposkan: 03 Sep 2018 Dibaca: 2367 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Euforia masyarakat Indonesia terhadap sepak bola sedang tinggi di dunia. Indonesia bahkan menjadi incaran produsen sponsor olahraga si klulit bundar ini.
Peluang bisnis dari olahraga ini pun berjibun. Tak hanya barang, usaha jasa yang berhubungan dengan sepak bola pun sangat diminati, satu diantaranya sekolah sepak bola (SSB).
Nah, sejumlah idola sepak bola baru, khususnya dari Kota Medan macam bintang timnas U-19 asal Sumut, Egy Maulana Vikry dan kapten timnas U-16 David Maulana membuat SSB kebanjiran siswa, khususnya di Sumut.
Salah satunya SSB Putra Tembung Prima (PTP) Wilayah 1 Sumut, yang merupakan tempat David Maulana lama menimba ilmu sepak bola.
Kepala SSB PTP Wilayah 1 Sumut, Ahmad Haris (46) mengatakan, melejitnya nama David Maulana membuat SSB yang berdiri sejak 1989 itu saat ini memiliki 380 siswa berbagai kelompok umur.
Ditemui baru-baru ini di sela memantau latihan siswa di Lapangan Pasar 9 Tembung, Haris menyebutkan, SSB yang selanjutnya dia miliki sejak tahun 2004 hanya dengan modal biaya akte notaris setelah tidak lagi memiliki ikatan dengan PTPN 9 setelah diambil alih PTPN 2, awalnya hanya punya siswa sedikit.
"Saya hanya bayar biaya akte notaris untuk SSB ini. Awalnya biasa aja. Tapi ibarat kata pepatah jamur di musim hujan, sekarang siswa ada 380 orang, dari mulai usia 5 tahun, sampai kelahiran 2001. Beberapa bulan ini siswa terjadi kenaikan signifikan pasca melejitnya nama David Maulana," ujarnya kepada ukmkotamedan.com.
Tidak hanya siswa dari kawasan Tembung yang datang menimba ilmu, dari Kabupaten Karo, Binjai, hingga Tanjungbalai datang berlatih. "Tapi memang yang paling banyak dari Batangkuis, ada juga dari wilayah Helvetia. Untuk latihan, kami tetapkan hari Senin, Rabu dan Jumat," ucapnya.
Kata Haris, selain David, beberapa jebolan SSB PTP Wilayah 1 juga cukup punya nama. Bayu Yuda yang kini bermain di Bontang, Kalimantan Timur. Ada lagi nama Fikri Ghozali Daulay, satu dari dua wakil Indonesia yang baru menimba ilmu di Munchen, Jerman, dan Khairul Amri yang sebelumnya ke Arsenal untuk berlatih. Juga Rivaldo Yusuf yang dilirik akademi sepakbola di Jawa.
"David Maulana juga sudah diminta Diklat Ragunan untuk berlatih di sana. Walau saya ingin dia Salatiga karena saya takut godaan Jakarta membuatnya kurang fokus nantinya," ucapnya.
Banyaknya jebolan SSB yang berprestasi tak dia tampik semakin meningkatkan pamor SSB. Kendati dia akui, lebih dari 50% siswa tidak membayar uang sekolah alias digratiskan karena alasan ekonomi. "Kita tetapkan Rp5000 setiap latihan tapi tidak untuk kelahiran 2001 gratis. Ditambah lagi uang pertandingan. Kenapa saya buat seperti itu, karena gairah saya di sepakbola. Waktu kecil kebetulan tidak sempat main bola. Kepingin, tapi tidak berkembang karena faktor ekonomi, tidak mampu. Untuk beli sepatu super cup zaman kita aja susah. Terpendam, jadi disalurkan ke anak-anak," ucap pria yang juga salah satu pelatih di SSB tersebut.
Bagi pria yang juga guru di MTs Islam Azizi tersebut, walau menggratiskan uang sekolah bagi yang kurang mampu hasil uang sekolah siswa cukup untuk membayar operasional AAB seperti untuk enam pelatih termasuk pelatih kiper, membeli bola, hingga membayar sewa lapangan.
Namun, sejumlah prestasi yang sudah ditorehkan SSB tersebut membuatnya cukup puas dengan jerih payahnya selama ini. SSB PTP Wilayah 1 sebagai juara keempat Danone Cup 2011 mewakili Sumut, Juara Danone Cup wilayah Sumut 2012. SSB PTP Wil 1 Sumut Juara Malindo Cup di Malaysia 2012 dan sejumlah prestasi lain.
"Tapi yang terpenting kita menciptakan pemain. Kami serius mengelola SSB ini. Selanjutnya, orang tanya dari SSB mana, dan mereka bawa anaknya," kata ayah satu anak itu.
Kendati pengelolaan SSB masih dilakukan dengan cara semi amal, Ahmad Haris mengaku, sejumlah perusahaan sempat menjalin kerjasama membiayai SSB tersebut. Pernah bekerja sama dengan PT Indofood Sukses Makmur di Tanjung Morawa. Telkom, sampai produsen bir. Tapi setelah pimpinan berganti, kerja sama tidak dilanjutkan. Itulah yang jadi kendala kenapa kerja sama tidak bisa panjang, salah satunya karena tidak adanya hitam di atas putih. Terus kalau pun perjanjian dibuat tapi tidak diakui direktur baru, kita juga tidak bisa bilang apa-apa," ucapnya.
Diakuinya, banyak SSB yang sudah menerapkan manajemen mirip perusahaan yang berpeluang dan sudah menjadikan SSB sebagai lahan bisnis. Tapi menurutnya, apa yang dia lakukan sudah lebih dari cukup. Apa lagi pihaknya juga terus melakukan promosi di media sosial.
"Saya yakin SSB ini akan terus berkembang. Kami terus melakukan promosi, seperti di media sosial sebagai wadah informasi bagi masyarakat yang ingin menimba ilmu. Selain itu, kami berterima kasih kepada media yang juga ikut membantu SSB kami semakin dikenal.(UKM05)