Modal "SKSD", Dedi Kebanjiran Konsumen di Nasi Timbel Hj Nunung Tiap Hari
Diposkan: 16 Oct 2018 Dibaca: 1401 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Bagi Dedi Effianto (46 tahun), pemilik Nasi Timbel Hj Nunung di kawasan Jalan Setia Budi Medan, meladeni ratusan pelanggan tiap hari sejak 2007 silam tidak membuatnya jenuh.
Bahkan, malah menjadi salah satu pekerjaan yang menyenangkan.
Selain melayani, dia juga tidak jarang menyapa ramah, bahkan berbincang dengan konsumen di sela kegiatan makan siang di rumah makan dengan makanan khas Jawa Barat tersebut. Keramahan itu pula yang dia yakini menjadi "resep" ampuh agar pengunjung datang, bahkan rela mengantre berjam-jam.
Berbincang belum lama ini, ayah satu anak itu bahkan mengatakan, bukan makanan yang dia jual, namun silaturahmi, menjalin pertemanan dengan pengunjung, bahkan hingga merasa pelanggan yang datang seperti keluarga sendiri.
"Kami tidak "jualan" nasi timbel, tapi jualan silaturahmi, kekeluargaan. Kalau jual produk pasti ada titik jenuhnya. Tapi karena pelanggan di sini kebanyakan sudah jadi kayak saudara, mereka datang lagi, nggak anggap tempat ini seperti tempat lain, tapi seperti di rumah sendiri," ujarnya.
Kepada pelanggan yang baru pertama datang, dia tunjukkan keramahannya. "Saya ok akrab, SKSD (sok kenal sok dekat). Mereka ngobrol apa saya nyamber aja ikut. Kadang gak nyambung, saya buat guyon aja, bercanda. Itu yang mungkin buat mereka (pelanggan) rela ngantre berjam-jam di jam makan siang. Mereka tahu pasti mereka dapat tempat duduk. Jadi caranya, ambil makanan dulu, tempat duduk belakangan karena pasti dapat walau menunggu," katanya lagi.
Jika ada yang antre lama namun tidak dapat tempat lantaran sudah diambil pelanggan lain yang baru antre, makanan pelanggan yang lebih dulu antre akan digratiskan. Menurutnya sistem yang dia sebut reward and punishment tersebut merupakan bagian dari strategi promosi.
Suami dari Desi Ariani br Bangun (42 tahun) itu mengatakan, keputusan keluarganya membangun usaha tersebut Januari 2007 lalu lantaran melihat banyaknya makanan yang tidak habis di rumahnya dan mubazir. Kondisi itu membuatnya melihat peluang bahwa makanan tersebut bisa dijual, apa lagi menurutnya saat itu belum ada usaha lainnya yang menjual makanan khas Sunda.
Lantas, dengan harapan menyasar kalangan mahasiswa sebagai konsumen, usaha tersebut dibuka di Jalan Dr Mansyur yang notabene dekat dengan kampus Universitas Sumatera Utara (USU) sekaligus berniat membantu mahasiswa mendapatkan makanan enak namun dengan harga relatif murah. Namun, selanjutnya, lokasi di Jalan Setia Budi jadi pilihan tempat usaha tersebut hingga sekarang.
"Sampai sekarang harga gak ikuti tren pasar, mulai Rp2000 hingga Rp27 ribu untuk ayam kampung, cukup murah. Kebetulan ayam kampungnya ternak sendiri dan makanannya ya sisa nasi timbel juga, jadi makanannya organik," kata pria yang tinggal di Jalan Sunggal No 70 yang sekaligus tempat memelihara ayam.
Nasi timbel biasa, nasi timbel bakar plus aneka lauk yang menggugah selera tersedia setiap hari kecuali Minggu dan hari libur lainnya mulai pukul 10.00 WIB hingga jam 20.00 WIB. Saat hari Jumat, Nasi Timbel Hj Nunung buka mulai jam 13.00 WIB.
Sementara untuk jenis minumannya juga cukup beragam. Salah satunya sup buah khas Sunda yang dia sebut yang pertama kali di Sumut. Lebih spesial lagi, selain aneka buah yang lazim ada dalam minuman jenis itu, ditambah lagi markisa untuk memperjelas ciri khas Kota Medan.
Antrean panjang tiap hari mulai dari pelanggan umum, aparatur sipil negara (ASN) hingga swasta dan berbagai kalangan lainnya menjadikan tempat itu sebagai tempat memenuhi kebutuhan pangan.
Dari tempatnya yang cukup sederhana, sebuah rumah tinggal yang disulap jadi tempat makan tanpa ada ornamen hiasan yang berarti tidak menyurutkan pelanggan untuk datang. Namun uniknya memang, sebelum makan, pelanggan memilih makanan yang tersaji di etalase yang masih mentah. Lalu sang juru masak membantu memasak makanan dan diantar langsung ke meja oleh pelayan.
Dedi mengatakan, kendati pelanggan sangat ramai, pihaknya tidak berniat membuka cabang di tempat lain. "Rencananya ini tetap bertahan, nggak buat cabang. Kesannya eksklusif memang, tapi sengaja karena kami ingin tempat ini tetap ngangenin (dirindukan). Walaupun sampai sekarang, saya hitung ada sekitar 360 lebih orang yang mau ajak kerja sama buka cabang sampai sistem franchise (wara laba), tapi kami tidak mau," ungkap mantan model era 1988 hingga 1990 itu.
Apa lagi kata pria yang juga memiliki usaha penjualan kopi Karo tersebut, dengan tempat seperti itu, kalaupun seandainya sedikit pelanggan yang datang, tetap akan terlihat ramai. Sementara itu kalaupun nantinya ada yang membuka cabang, dia berharap, di antara 10 karyawan yang ada nantinya yang akan membukanya.
Soal keuntungan juga cukup beragam. Mulai Rp5 juta, higga belasan juta rupiah bisa didapat setiap bulannya. "Ya, Alhamdulillah. Harapannya usaha ini akan terus ada, kalaupun saya tidak di sini, usaha ini akan terus berlanjut sampai kapanpun," pungkasnya.(UKM05)