Membaca Peluang Usaha di Era Industri 4.0
Diposkan: 09 Mar 2019 Dibaca: 773 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, JAKARTA-Era Industri 4.0 yang ada di Indonesia membuka cakrawala baru tumbuhnya peluang. Tingkatan serta kesempatan baru yang belum pernah terjadi sebelumnya dibutuhkan kejelian dan juga antisipasi yang strategis serta terintegrasi bagi mereka yang berkecimpung di dunia usaha. Serta untuk para profesional yang ingin menangkap peluang lebih besar.
"Upaya perubahan yang bersifat distruptive serta multi talent khususnya pada sisi entrepreneurship serta kreativitas untuk memberikan solusi kepada persoalan masyarakat sehari-hari dalam menghadapi dinamika ekonomi dan sosial," kata Achmad Ramdani Salim, Co Founder and Managing Director dari Omnividya Learning Boutique yang juga merupakan dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pancasila (SPS UP) saat memberikan materi mengenai “Start-up, Model ataukah Trend di Era Revolusi Industri 4.0” kepada calon mahasiswa pascasarjana UP, di Kampus UP, Jakarta, Jumat (8/3/2019).
Ia juga menjelaskan dalam laporan World Economic Forum’s: Future of Jobs Report 2018, perubahan teknologi di era Industri 4.0 dapat membawa dampak positif pada sektor bisnis yang pada akhirnya memberikan dampak peningkatan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.
"Tidak hanya itu. Perubahan teknologi saat ini yang berbasiskan internet juga memungkinkan tumbuhnya usaha-usaha rintisan (startup) baru. Tentunya pertumbuhan lapangan kerja baru yang tidak pernah diduga sebelumnya," terangnya.
Kemudian, pada lingkup sektor industri nasional di Indonesia, perlu banyak pembenahan terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci penentu daya saing di era Industri 4.0.
Selain itu, pertumbuhannya di Indonesia juga sangat pesat dibandingkan negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Peran usaha Startup menjadi komponen penunjang akselerasi Industri yang berbasiskan internet dan teknologi.
"Sejak diluncurkannya program Gerakan Nasional 1000 Startup Digital oleh pemerintah pada 2016,pertumbuhan munculnya usaha-usaha startup di Indonesia mencapai jumlah yang signifikan," kata Ramadani.
Menurut laporan Startup Ranking awal 2019, Indonesia masuk dalam daftar lima besar negara di dunia dengan jumlah startup terbanyak. Totalnya mencapai 2.056 startup, menempatkan Indonesia di urutan kelima di bawah Amerika Serikat (46.562 startup), India (6.155 startup), Inggris (4898) dan Kanada (2.478).
Sebagai perbandingan, jumlah startup yang dimiliki negara lainnya di kawasan Asia Tenggara seperti Singapura yaitu 679 startup, Filipina 230 startup, Malaysia 210 startup, Thailand 104 startup, dan Vietnam 100 startup.
"Di kawasan Asia Tenggara, saat ini sudah ada tujuh startup yang berstatus unicorn, yaitu gelar yang diberikan pada suatu startup yang memiliki nilai valuasi lebih dari USD 1 miliar. Indonesia menyumbang empat startup yakni Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Tiga lainnya adalah Sea Ltd, Razer dan Grab asal Singapura, Lazada serta Revolution Precrafted asal Filipina," pungkasnya. (*)
(sumber : indopos)