Mashita Bertahan 10 Tahun Berjualan Buah, Gunakan Strategi Belanja, Minimalisir Risiko Busuk

Mashita Bertahan 10 Tahun Berjualan Buah, Gunakan Strategi Belanja, Minimalisir Risiko Busuk

Diposkan: 16 Feb 2019 Dibaca: 1041 kali


UKMKOTAMEDAN COM, MEDAN-Pintar membaca dan menangkap peluang saat merintis usaha faktor penting bagi pemula.

Ini juga yang dilakoni Mashita Boru Pasaribu, seorang penjual buah di Pasar Helvetia.

Meski usia tak muda lagi, perempuan berusia 60 tahun ini mampu menjalani usahanya sejak 2009 atau 10 tahun yang lalu.

Mashita menjelaskan keberaniannya berjualan buah lantaran awalnya ia melihat kondisi di Pasar Helvetia Medan tidak begitu banyak pedagang buah. Akhirnya ia tertarik berjualan buah dengan menyewa tempat.

"Saya lihat kondisi di Pajak Helvetia, ternyata sedikit yang menjual buah, lalu saya putuskan untuk berjualan buah untuk membantu ekonomi keluarga," ungkap Mashita kepada ukmkotamedan.com, kemarin (16/2/2019)

Warga yang bertempat tinggal di Jalan Nusa Indah Raya Medan Helvetia mengaku kebiasaan buah yang ia jual beragam jenis yakni  buah lokal, musiman juga buah import. Untuk buah lokal seperti pepaya, nenas, jeruk, manggis, Pokat, mangga dan kuini. Untuk mendapatkan buah-buah segar ia belanja di MMTC Pancing, dan untuk buah musiman seperti rambutan dan duku biasanya ada pemasoknya, sedangkan buah impor seperti anggur, pir, apel, semuanya ia peroleh dari pusat grosir buah impor di Palangkaraya Medan.

"Biasa kalau buah lokal saya ambil di MMTC. Dan buah impor dari Palangkaraya. Paling banyak saya setok buah seperti jeruk 50 kg," paparnya.

Kendala yang paling sering ia alami selama menjalankan usaha ini adalah risiko buah busuk. Karena biasanya masyarakat hanya mau membeli jika buahnya segar. Kalau sudah layu dia  terpaksa harus menurunkan harga.

Dan pengalamannya pembeli sangat sepi jika memasuki tahun ajaran baru dan bulan tua. Pembeli bisa mengalami penurunan drastis sehingga ia yang dibantu anaknya harus menggunakan strategi untuk belanja buah di grosir atau distributor.

"Kita harus gunakan strategi. Kita harus melihat situasi dan memprediksikan daya tahan buah apakah tahan dua atau tiga hari dengan kondisi sepi. Jika memang sepi, saya cenderung belanja hanya sedikit,"ungkapnya.

Mashita juga khawatir dengan banyaknya pasar modern yang tumbuh saat ini di Kota Medan. Pengunjung pasar tradisional saat ini diakuinya terus mengalami penurunan. Diakuinya keberadaan pasar modern yang menjual segala kebutuhan makanan sangat mempengaruhi usaha buahnya.

Karena itu, ia meminta dukungan pemerintah agar dapat membatu pedagang-pedagang kecil untuk bisa bertumbuh kembali.(UKM06)


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2026. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved