Marjorie Handmade, Aksesoris Anti Mainstream

Marjorie Handmade, Aksesoris Anti Mainstream

Diposkan: 19 May 2018 Dibaca: 1463 kali


UKMKOTAMEDAN.COM-MEDAN

Banyak hal yang bisa menjadi inspirasi dalam membangun bisnis. Seperti Monica Tumiar Hanna Gultom pemilik usaha dengan branding Marjorie Handmade. Keisengannya melihat aplikasi jaringan sosial tentang ide-ide inspiratif, menghadirkan ide kreatif dengan menciptakan beragam aksesoris dengan style boho dan gypsy, style yang cukup antimainstream di Indonesia.

Style yang lumayan antik penampilannya.  Namun sayangnya, aksesorisnya sulit ditemukan hingga akhirnya harus membuat sendiri. Monica mengaku sangat menyukai style tersebut, hingga jatuh cinta dengan aneka aksesorisnya.

Sebenarnya, sebelum merintis usaha ini, Monica Tumiar Hanna Gultom yang akrab disapa Monica ini sudah memiliki bisnis handmade dengan teman-temannya di bidang paper craft dan digital art. Namun harus berhenti karena teman-temannya tidak bisa melanjutkan lagi.  Keisengannya melihat aplikasi inspiratif Pinterest yang diperkenalkan temannya, mampu menarik perhatiannya untuk membuat aksesoris.

“Awalnya, saya hanya kepikiran untuk membuat souvenir untuk penelitian. Namun lambat laun makin tertarik, bahkan alokasi dana yang awalnya untuk souvenir sebagian saya coba untuk bisnis aksesoris ini.” ujar Monica yang awalnya mengaku hanya membuat produk yang simpel seperti bunga-bunga satin dan tassel.

Dari hobi barunya ini, Monica semakin sering bertemu dengan para crafter handmade dan bergabung ke komunitas onlineshop hingga akhirnya semakin tertarik dengan produk aksesoris. Dari sini Monica mulai mengembangkan bakat kreativitasnya dengan membeli beberapa batu, kemudian membuat gelang yang didesain simpel, dengan tali yang dirajut dari benang.

Lagi-lagi, karyanya ini mendapat respon positif. “Kata teman-teman gelangnya keren akhirnya banyak yang pesan.” ujarnya, Sabtu (19/5/2018). Awalnya produk handmade ini banyak dipesan untuk dijadikan hadiah wisuda hingga sekarang sudah menjadi item fashion harian.

Monica mengaku ketertarikannya dengan batu, disebabkan batu memiliki makna masing-masing. “Ketika saya buat gelang, saya merangkainya dengan filosofi." ujarnya. Tingginya animo konsumen, membuatnya mulai berpikir untuk menjadikannya sebagai peluang bisnis. Hingga akhirnya, semua model souvenir karyanya difoto dan dimasukan instagram. Hasilnya sungguh menakjubkan. Dari modal Rp 150 ribu, Monica Hanna mendapatkan keuntungan hingga 4 kali lipat.

Hal ini semakin membuat pemilik usaha dengan tagline ‘Beauty begins the moment you decide to be yourself’ ini semakin termotivasi. “Makin lama saya makin sering melihat pinterest dan crafter lain untuk mendapatkan inspirasi baru." ujarnya.

Dari sini, dia tidak lagi hanya membuat gelang saja, namun mengembangkan ke produk lain, berupa kalung dan anting. Bahkan untuk gelang yang dihadirkan sekarangpun semakin bervariasi. “Sekarang sedang belajar buat gelang dengan model lebih mewah, lebih bagus. Dirangkai pakai kawat dan dipadukan dengan charm." urainya.

Kemudian sambungnya, dia pun mulai tertarik dengan style vintage. “Jadi kemarin itu dapat ide untuk buat bookmark dan gantung kunci ala vintage. Ternyata setelah launching barang itu responnya positif. Banyak orang yang suka karena lucu dan antimainstream. ”ujar Monica yang mengaku terkejut saat terpilih menjadi top 30 local brand Medan dari Tokopedia dan terpilih untuk mengikuti acara Makerfest di Lapangan Benteng baru-baru ini.

Ditengah kesibukannya sebagai dokter muda, Monica mengaku tetap konsisten membuat aneka aksesoris ini. Apalagi kegiatan ini sudah menjadi passionnya. Bahkan hal ini bisa menjadi penawar setelah penat belajar di rumah sakit. “Setiap penat belajar di rumah sakit, kemudian ngerjain aksesoris capeknya hilang dan jadi semangat lagi untuk belajar. Setiap hari saya punya target untuk mengerjakan aksesoris ini.” ujar Monica yang mengaku memiliki beberapa toko marketplace online.

Saat ini Monica Hanna mengaku sangat menyukai gelang berbahan batu semua. “Hasilnya lumayan mewah dan cocok dipakai ke pesta,” ujarnya. Selain itu, dia juga memadukan batu dengan mutiara air tawar atau mengunakan bahan baku manik-manik kayu, manik-manik plastik yang penampilannya seperti kayu.

Usaha yang awalnya membidik kalangan remaja mulai usia 15 tahun ini, ternyata diminati semua kalangan usia. Sementara pemasaran Monica Hanna masih menggandalkan media sosial. Hal ini dikarenakan usaha yang dirintisnya ini masih belum mampu berproduksi dalam jumlah besar dan masih dikerjakan sendiri. (UKM01)

 


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2026. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved