Manfaatkan Relasi, Aneka Kue Tasya Produksi Ratusan Kue Non-stop Tiap Hari
Diposkan: 06 Oct 2018 Dibaca: 1339 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Mengikuti aneka kursus tata boga mengasah keterampilan masak-memasak kue, Eka Agus Hariani (48 tahun) hingga serius menjalankan usaha "Aneka Kue Tasya" yang dirintis empat tahun silam.
Bahkan kini, tidak hanya kue kering dan basah, ibu empat anak itu juga mulai merambah ke bidang kudapan atau snack.
Praktis, hampir tiada henti, tiap hari perempuan yang biasa disapa Eka tersebut bergelut di dapur miliknya memproduksi aneka kue basah sebanyak sekitar 500 potong setiap hari.
Saat berbincang dengan ukmkotamedan.com baru-baru ini, dia menceritakan, keputusannya mendirikan Aneka Kue Tasya lantaran punya bakat memasak secara otodidak. Tidak puas dengan bakat tersebut, dia beberapa kali mengikuti kursus tata boga, hingga akhirnya dia merasa pede membangun merk usahanya tersebut.
"2014 saya mulai. Awalnya kue aja. Setelah itu saya kursus cake decor, di Bogasari juga kursus belajar paket, pernah juga di Kampung Keling (Madras). Jadi sekarang bisa dibilang semua jenis kue saya mudah-mudahan bisa buat," ujarnya.
Namun untuk kue basah, dia rutin membuat sus, risol, bika ubi, kue lapis hingga brownies. Soal nama merk dagangnya tersebut, dia mengaku merupakan nama anak bungsunya bernama Tasya.
Untuk pemasaran produk di awal, dia mengaku tidak mengalami kesulitan berarti. Apa lagi dia menyadari namanya usaha baru perlu waktu untuk berkembang. Mulai dari teman, tetangga sebagai pelanggan, perlahan-lahan kue-kue buatannya akhirnya mulai dikenal orang lewat promosi dari mulut ke mulut.
Fakhrur Rozi (54 tahun), suami Eka turut menjadi "marketing" usaha yang rumah produksinya berada di Jalan Jala 9 No 35 Lingkungan IX kelurahan Paya Pasir Medan Marelan yang sekaligus alamat rumahnya. Namun, belum puas dengan hasil yang ada, beberapa terobosan dilakukannya.
"Saya bekerja sama dengan teman yang punya usaha di kuliner juga, katering. Kebetulan saya juga tergabung di APJI (Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia). Jadi kawan saya itu buat katering, saya untuk urusan coffee break. Sudah tahun keempat saya memasok kue di salah satu sekolah Islam terpadu di Medan ini," beber perempuan yang terlihat lebih muda di banding usianya tersebut.
Sebanyak dua jenis kue dengan jumlah 400 potong dia pasok ke sekolah Islam terpadu tersebut kecuali hari Minggu dengan jenis kue yang berbeda setiap harinya. Tidak itu saja, kendati tidak terus-menerus, dia juga memasok snack box (kotak berisi aneka kue) di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Kota Medan antara 15 hari hingga tiga bulan, tergantung lama pelatihannya.
"Setiap hari produksi 400 potong kue. Lain lagi kalau ada yang pesan. Kayak teman kadang-kadang ada acara, bisa lebih dari 400 potong yang saya buat. Tapi memang, paling tidak ada 500 kue saya buat tiap hari, termasuk Minggu kalau ada yang pesan untuk acara tertentu," ucapnya.
Di waktu-waktu tertentu, Eka juga menerima pesanan kue. Seperti saat perayaan 1 Muharram, tahun baru Islam yang lalu di Kantor Gubernur Sumut, dia yang memasok kue hingga ribuan potong. Untuk produksi, Eka dibantu tiga karyawan ditambah pekerja harian jika mendapat banyak orderan.
Untuk kebersihan kue olahannya juga sudah terjamin. Sebagai makanan siap saji, Aneka Kue Tasya memang tidak punya sertifikat pangan industri rumah tangga (p-Irt). Namun selain memiliki sertifikat halal ada juga izin hygiene sanitasi pangan yang dikeluarkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Medan, sebagai jaminan kebersihan dan kesehatan produknya.
"Kalau p-irt memang tidak ada karena makanan cepat saji. Tapi untuk izin lain, Alhamdulillah sudah lengkap," ucapnya.
Namun, beda dengan sebagian besar usaha lain yang memanfaatkan media sosial sebagai ajang promosi, dia mengaku tidak mempromosikan Aneka Kue Tasya di media sosial. Menurutnya, aktivitasnya yang seabrek membuatnya tidak punya waktu lagi untuk mengecek media sosial. Untuk pemesanan bisa melalui nomor telepon yang juga sekaligus WhatsApp miliknya di 082362626360.
"Anak saya juga bilang, kue yang saya buat tidak tersedia kalau tiba-tiba ada yang pesan. Jadi saya disarankan tidak buat akun di media sosial. Saya baru bisa sediakan kue kalau orang pesan paling lambat sehari sebelumnya," ungkapnya.
Dari usahanya tersebut, Eka mengaku mendapat keuntungan minimal Rp4 juta tiap bulan. Itu pun hanya dari sekolah Islam terpadu yang mengontraknya untuk mensuplai snack untuk siswa sekolah. Sementara yang lain, dia mengaku tidak terlalu menghitung lantaran seperti untuk acara kedinasan atau pemerintahan, biasanya dibayar setelah kegiatan.
"Dengan kualitas dan kebersihan dalam produksinya, tentunya saya berharap Aneka Kue Tasya ini bisa lebih dikenal masyarakat dan bisa lebih berkembang lagi," pungkasnya.(UKM05)