Lirik Peluang Bisnis Fashion, Shanti Bereksplorasi dengan Ecoprint
Diposkan: 10 Oct 2018 Dibaca: 1071 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Diera globalisasi saat ini, banyak kalangan yang kembali mengembangkan dan memanfaatkan apa yang ada di alam. Termasuk dalam hal pewarnaan dengan mengunakan tehnik ecoprint.
Tehnik yang satu ini belakangan sedang trend. Ecoprint adalah metode pewarnaan dan pencetakan motif secara alami pada kain yang memanfaatkan dedaunan atau bunga yang tumbuh di pekarangan sebagai bahan dasar pengganti cairan kimia. Pewarnaan ini menggunakan unsur-unsur alami, agar tidak merusak lingkungan.
Di Kota Medan, Shanti Permatasari salah satu pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang mulai mengaplikasikan ecoprint ini dalam karyanya. Meski baru, namun pemilik dari Mom’s Craft & Boutique mengaku semakin tertarik dalam mengembangkan ecoprint ini.
Sebenarnya tutur Shanti, Sebelum melirik peluang dari ecoprint ini, dia awalnya tertarik dengan karya seni menempel tissu, decoupage. Usaha tersebut dirintisnya sekira tahun 2016 silam, setelah belajar otodidak untuk mendapatkan metode yang pas dalam menghasilkan sebuah karya di decoupage.
Perjuangannya tidak sia-sia. Dengan terus bereksprimen, karya yang dihasilkannya mulus dan bagus kemudian diapikasikan ke fashion seperti tas, cluth, dompet.
Dalam berkreasi Shanti mengaku memanfaatkan beragam media. Seperti pandan, rotan, kain baik katun, blacu atau goni, besi enamel. Hingga akhirnya di tahun 2018 ini, dia mengembangkan ecoprint. Namun, sejauh ini masih lebih banyak diaplikasikan untuk kain, dan juga beberapa produk fashion.
“Proses pewarnaan alami membuat kita belajar untuk menghargai alam yang telah memberikan kehidupan,”kata Shanti.
Menurutnya, pewaraan dengan metode ecoprint ini, selain unik, juga tidak bisa diulang. Sebab bahan pewarna yang digunakan berasal dari daun atau bunga yang digunakan tidak sama, bahan pewarna yang digunakan di satu tempat dan di tempat lain akan berbeda. Bahkan dua sisi daun yang digunakan pun tidak bisa sama.
Dalam mengembangkan ecoprint, Shanti mengaku saat ini lebih fokus pada pemberian motif pada kain. Satu buah karya sambung Santi, jarang ada yang sama, baik itu dalam mengembangkan decoupage, dalam penyusunan tisu maupun ecoprint.
Untuk harga, Shanti menawarkan mulai Rp 200 an ribu hingga jutaan. “Kalau untuk decoupage ini, dari Jawa juga ada yang mau beli. Meski di Jawa banyak, tapi kalau senang dengan motifnya, orang yang di Jawa pun mau beli,”ujar Santi yang memasarkan produknya, melalui media sosial dan juga market place ini.
Dalam mengelola dan membangun bisnis ini, Shanti memiliki impian bisa memotivasi banyak kalangan, agar mengembangkan hobi yang dimilikinya sebagai peluang usaha. “Visinya saya, pengen bisa jadi contoh bagi yang lain, bahwa dari hobbi bisa dijadikan bisnis,”pungkas Shanti yang membuka diri bagi siapa saja masyarakat untuk belajar craft, tanpa dipungut biaya. Namun, cukup bahan baku yang dibutuhkan saja.(UKM01)