Lewat Mr Crispy, Tentram Bertekad Maju Bersama IMO Sumut
Diposkan: 09 Oct 2018 Dibaca: 1163 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Memulai usaha sejak 14 tahun silam, Tentram (36 tahun) tetap setia memasarkan produk aneka cemilan miliknya secara konvensional.
Namun, pasca bergabung dengan Ikatan Makanan/Minuman Olahan (IMO) Sumut, setengah tahun lalu, dia mulai merajut mimpinya.
Ibu dua anak itu bermimpi, suatu saat usaha aneka cemilan "Mr Crispy" miliknya bisa semakin dikenal masyarakat. Berbincang dengan ukmkotamedan.com, istri dari Muhammad Zulkifli (36 tahun) itu mengatakan, pemberian merk Mr Crispy pada produknya enam tahun lalu lantaran dia berharap usahanya bisa lebih dikenal.
"Saya mulai 14 tahun lalu (2004). Tapi baru enam tahun ini ada merk. Mr itu inisial nama dua anak saya, Muhammad Ridwan (sulung) sama Miftahul Riska (bungsu). Sementara izin p-irt (produk industri rumah tangga) masih dalam proses pengurusan. Tapi Alhamdulillah sertifikat halal saya sudah ada," ujarnya, Selasa 9/10/2018).
Tentram mengatakan, Mr Crispy awalnya adalah usaha pembuatan keripik yang memanfaatkan bahan baku pisang milik mertuanya yang kebetulan punya kebun pisang. Tidak ada yang mengolah pisang usai dipanen, dia memutuskan untuk menjadikannya panganan cemilan. Usai diproduksi, dia pun menjajakannya ke warung-warung dengan harga jual warung Rp500 tiap bungkusnya.
Merasa keuntungan keripik pisang sedikit, dia menambah produk lainnya, keripiki ubi sambal atau keripik pedas. Dia juga meminta sang kakak ipar untuk mengajarinya membuat kue kembang loyang. Kue bawang dan akar kelapa atau akar ali-ali juga dia produksi, termasuk peyek kacang tanah, peyek, teri, dan kacang tojin. Sebagian dari produk tersebut merupakan saran dari temannya.
"Sekarang Alhamdulillah sudah ada 14 item keripik buatan saya sendiri. Saya terima pesanan untuk hari besar, ulang tahun, dan setiap pekan saya jualan keliling naik kereta (sepeda motor), sampai sekarang," ujarnya.
Tidak hanya dengan menjajakan door to door, ada saja orang yang membeli produknya untuk dijual di kantor perusahaanhaan BUMN seperti Pertamina, Syahbandar Belawan, Puskesmas hingga Kantor Camat. Produk yang dikemas dengan berat sekitar 160 gram tersebut, tertera merk Mr Crispy.
Namun untuk yang dijual di kedai-kedai, kendati tanpa merk, kualitas dijamin tidak berbeda lantaran Tentram mengaku menggunakan minyak goreng kemasan. "Kalau yang kemasan, harganya Rp10 ribu. Biasanya ada yang pesan sekitar 15 sampai 20 bungkus, bayar lalu dia jual lagi. Pesanan bisa lewat telepon (081265975143).
Sebulan sekali mereka pesan, tapi tidak rutin. Dalam seminggu saya biasa produksi 80 Kg bahan baku untuk keripik ubi, pisang, 3-4 tandan seminggu, peyek 2 sampai 3 kilo. Saya dibantu suami, anak, mertua. Kalau banyak pesanan seperti hari raya, tahun baru, saya pakai dua atau tiga orang. Tapi produk yang saya buat berganti-ganti," ucapnya.
Namun, setelah bergabung di IMO Sumut setengah tahun belakangan ini, Tentram mengaku banyak sekali manfaat yang dia dapatkan. Selain silaturahmi, dia juga
bisa memperkenalkan produk olahan, saling membantu antar teman dalam kemajuan usaha. "Manfaatnya untuk sendiri juga anggota lain. Misalkan ada barang saya bisa dijualkan sama teman lain, begitu juga sebaliknya, gotong royong. Semangat untuk maju," ucapnya.
Diakuinya, keuntungan Mr Crispy memang masih kecil, yakni sekira Rp1,5 juta sebulan. Namun, bersama IMO Sumut, dia optimistis bisa semakin berkembang lantaran banyak ilmu yang bisa didapat dari rekan lainnya yang sudah lebih dulu merasakan kesuksesan.
"Seperti sekarang, saya bisa rasakan manfaatnya. Bisa sharing, bagi rezeki dengan kawan, sama-sama maju. Kalau ada orderan, walaupun saya nggak bisa buat saya pasti terima karena kawan yang lain ada yang produksi produk pesanan itu. Saya dapat untung, kawan lain pun begitu. Jadi simbiosis mutualisme di IMO ini," ungkapnya.
Diakui Tentram, keterbatasan modal menjadi salah satu kendala perkembangan usahanya, salah satunya peralatan produksi yang masih menggunakan cara manual. Dia pun tengah berupaya mencari jalan agar perlahan-lahan bisa melengkapi peralatan produksi, salah satunya dengan mengajukan proposal ke Dinas Koperasi dan UKM Kota Medan ataupun yang lainnya.
Dia bermimpi, suatu saat bisa mempekerjakan warga sekitar rumahnya di Jalan KL Yos Sudarso KM 19,5 Pekan Labuhan, Medan Labuhan yang tidak punya pekerjaan, sembari merasakan menjadi pimpinan usaha. Untuk itu dia mengaku tengah mencari rekanan yang bisa menyuntikkan modal.
"Kepingin jualan saya jadi bisnis, bisa jadi bos, kepingin duduk-duduk, catat uang masuk uang keluar, tapi memang masih terkendala modal. Saya berharap ada yang ajak patungan. Saya juga sudah ajukan proposal untuk bantuan peralatan seperti pemotong ubi listrik, tapi memang belum ada jawaban. Saya juga ingin bisa mempekerjakan orang-orang sekitar rumah, mulai dari produksi sampai ke penjualan, berbagi rezeki," pungkasnya.(UKM05)