Leli Tularkan Kreativitas Menyulap Botol Bekas Jadi Barang Cantik ke Masyarakat
Diposkan: 16 Oct 2018 Dibaca: 987 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Botol bekas yang ada di tangannya perlahan-lahan dia lekukkan setahap demi setahap. Tak disangka, hasilnya cukup bagus. Ditambah bunga, dan tambahan lainnya, jadilah barang yang cantik, mirip akuarium mini.
Awalnya, Leli cukup perhatian dengan kelestarian alam ini melihat, cukup banyak botol-botol bekas yang terbuang dan hanya berakhir di tempat sampah. Namun dari kreasinya itu, botol bekas tidak hanya jadi barang yang cantik namun juga bernilai ekonomis.
Kepada ukmkotamedan.com belum lama ini dia mengatakan, awal memulai kerajinan tangan ini tidak mudah. Dia menghabiskan satu semester untuk mempelajarinya. Selain mempelajari cara membuat botol plastik menjadi akuarium mini, anak bungsu dari tujuh bersaudara ini juga mempelajari bahaya plastik untuk tubuh manusia dan membuatnya sadar untuk paling tidak membantu sebisanya agar sampah di Medan berkurang.
Sejak semester tiga kuliah di Universitas Islam Negeri-Sumatera Utara (UIN-SU), perempuan kelahiran Payabahung, Aek Nabara, Kecamatan Barumun, Padang Lawas, 22 Januari 1995 tersebut terus belajar untuk membuat bahan plastik ini terlihat cantik hingga semahir sekarang.
Meski tercatat sebagai mahasiswa, dia tak merasa malu untuk mengutip botol yang dia temui di jalanan dan membawanya pulang. “Untungnya saya pakai tas besar. Jadi kalau melihat botol di jalan ya dikutip dan dimasukkan ke dalam tas,” ungkap anak dari Anak dari (Alm) Sutan Mahodum siregar dan (Almh) Rodiah Pohan itu.
Tidak itu saja, botol bekas minuman temannya juga tanpa sungkan dan malu dia minta dan bawa pulang untuk selanjutnya dibuat sebagai akuarium mini. Kerajinan botol bekas kini mengubah kehidupan Leli menjadi pribadi yang lebih mandiri. Botol yang dikreasikan ini dibuat akuarium mini yang diisi dengan bunga
Dari hasil menjual akuarium mini Leli dapat membeli keperluannya sendiri tanpa kiriman dari ibunya yang masih ada saat itu dan menjadi tulang punggung keluarga satu-satunya.
Kerja keras dan kerja ikhlasnya kini membuahkan hasil. Dikenal banyak orang lewat karyanya, Leli tak tinggi hati. Leli dengan senang hati mengajarkan ilmunya dengan banyak orang tanpa takut ilmunya berkurang. Dia juga membuat pelatihan.
Leli juga melakukan pelatihan secara gratis di panti asuhan. “Kalau di panti asuhan. Anak sekitar kos juga belajar secara free, tapi mereka harus bawa botol sendiri. Dan itu minimal lima botol,” ucapnya.
Kerajinan tangan dari botol bekas ini dipasarkan oleh leli dengan harga cukup terjangkau. "Wali Kota pernah beli Rp100 ribu, pernah ada pameran, diikuti staf-stafnya,” ungkap Leli.
Tidak lagi menggeluti usaha itu lantaran sudah memiliki aktivitas sebagai fasilitator untuk edukasi pengelolaan sampah di masyarakat untuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Balige, Leli tetap mendukung binaannya di Go River, komunitas peduli sungai di Avros Park Jalan Brigjend Katamso untuk terus mengembangkan usaha tersebut.
"Saya sudah ajarin ke adik-adik komunitas Go River, adik-adik disuruh buat banyak, dipajang. Kalau ada tamu akuarium mini itu jadi pengganti donasi yang diberikan. Tetap saya pantau perkembangannya," ungkapnya.(UKM05)