Komunikasi jadi Faktor Penting Perkembangan Crunchy Banana Medan
Diposkan: 14 Oct 2018 Dibaca: 1171 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Belum genap setahun, namun Crunchy Banana Medan menjadi salah satu merk dagang yang cukup diperhitungkan di Kota Medan. Apalagi, perkembangannya bukan hanya lantaran sedang hits, tapi juga lewat kerja keras Sarah Agnestika (22 tahun), sang pemilik dalam mengembangkan usahanya.
Sarah mengaku tidak khawatir kendati saat ini banyak usaha sejenis yang berkembang dan menjadi saingannya. Dia tetap menjalankan usahanya sambil terus berbenah memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada.
Bagi anak kedua pasangan suami-istri Benny Sihotang dan Dame Duma Sari Hutagalung itu, komunikasi menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Salah satunya dengan konsumen. Kendati tidak berkomunikasi langsung, media sosial menjadi wadah bagi mahasiswi Semester VII Program Studi (Prodi) Hukum Perdata Fakultas Hukum (FH) Universitas Sumatera Utara (USU) itu.
"Yang pegang akun Instagram (Ig) Crunchy Banana Medan, saya sendiri. Jika ada konsumen yang posting produk kita di Ig-nya dan men-tag saya, saya upayakan selalu merespons, membalas dengan komentar, atau paling tidak saya like. Walaupun umpamanya follower-nya sedikit, tidak masalah. Konsumen merasa dihargai. Setiap hari saya selalu siapkan waktu merespons konsumen," ucapnya.
Memiliki pengikut Ig sejumlah 26.000 (26K) lebih, menurut alumni SMA St Thomas 1 Medan itu, media sosial menjadi sarana promosi yang penting bagi usaha yang dia lakoni. Untuk itu berinteraksi dengan pelanggan juga harus digiatkan. Apalagi, konsumen, sadar atau tidak sadar menurutnya juga ikut mempromosikan usahanya, sehingga patut diapresiasi.
Tidak hanya dengan pelanggan, interaksi dengan karyawan juga jadi hal wajib baginya. Apalagi, terkadang ada saja konsumen yang mengeluhkan pelayanan yang diberikan. Untuk itu, pendekatan perlu dilakukan. "Biasanya saya marahi kalau ada pelayan kurang bagus pelayanannya, saya kasih masukan. Tapi selanjutnya, saya ajak ngumpul, makan di luar, atau buka puasa bersama, atau ajak ke karaoke untuk menjaga kekompakan. Saya juga dengarkan curhat mereka, jadi masukan," ungkapnya.
Tidak hanya dengan karyawannya, pihak lain yang ikut membantu, seperti pengemudi ojek online yang kerap melakukan pesan-antar makanan di Crunchy Banana Medan kadang juga diajak berkumpul makan bersama. "Mereka (pengemudi ojek online) itu cukup berjasa dalam perkembangan usaha kita, jadi harus dihargai," ungkapnya.
Sementara di sisi promosi lewat Ig miliknya, dia juga mempekerjakan orang untuk mem-branding produk tersebut di Ig, satu-satunya media sosial yang digunakan sebagai wadah promosi. Belum lagi dengan endorsement (dukungan) akun Ig pihak lain diajak bekerjasama untuk mempromosikan.
"Kalau untuk akun Ig yang memang mempromosikan makanan, kami bayar Rp500 ribu tiap tayang. Tapi itu pun tidak bisa langsung tayang, mereka harus mencicipi dulu makanannya. Kalau memang enak menurut mereka, review (ulasan) akan ditulis di akunnya," ucapnya.
Sedangkan untuk akun influencer lainnya yang tidak khusus mempromosikan makanan, dibayar Rp250 ribu tiap tayang. Tidak jarang kata Sarah, teman-temannya juga ikut mempromosikan usahanya, cuma-cuma.
Sukses menjalankan usaha yang dia rintis sejak November 2017, Sarah belakangan kerap diundang sebagai pembicara dalam seminar kewirausahaan (entrepreneurship). Namun, kadang undangan tersebut tidak bisa dia penuhi lantaran aktivitasnya yang cukup sibuk dalam mengurusi usahanya.
"Saat jadi pembicara, biasanya ditanya apa yang membuat saya terjun di usaha ini. Jawabannya, saya merasa di bidang ini saya berpotensi. Kita tahu kita punya potensi apa, dan kita gak mungkin gak tahu apa yang kita suka. Dulu, saya sempat disuruh kuliah kedokteran. Karena bukan bidang saya, saya nggak mau. Dan saya orangnya nggak bisa kerja di bawah tekanan dan ternyata di bidang ini sukanya," bebernya.
Selain itu, Sarah mengaku menikmati usaha yang dijalankan. Kendati harus merintis dengan berjualan dari mobil, terkena panas matahari, dia mengaku tetap senang dengan apa yang dia kerjakan. Baginya, berjualan sambil kuliah, bukan hal yang memalukan. "Yang penting kita senang, tidak merasa terpaksa dalam pekerjaan yang kita lakukan," ungkapnya.
Sebagai anak yang masih menjadi tanggungan orang tua, Sarah menyebutkan sejak merintis usaha tersebut, dia tidak lagi meminta uang jajan dari orangtua. Hanya uang kuliah yang diberikan setiap semester. Sementara dalam hal lain, dengan keuntungan Rp150 juta yang dia dapat tiap bulannya, terkadang dia malah dimintai orang tuanya, seperti membeli makanan dan lain-lain.
Namun, dia mensyukuri mendapat dukungan penuh kedua orang tuanya dan orang terdekatnya dalam menjalankan usahanya. Hal itu pula yang membuatnya terus semangat untuk melakukan inovasi dalam usahanya.
"Harus berinovasi karena kalau itu saja produk kita, bisa saja ditiru sama tetangga sebelah (usaha sejenis yang lain). Jadi harus di-upgrade," pungkasnya.(UKM05)