Kolaborasi di Era Digital, Taktik Agar Bisnis Terus 'Survive'

Kolaborasi di Era Digital, Taktik Agar Bisnis Terus 'Survive'
ilustrasi (fixabay)

Diposkan: 16 Oct 2019 Dibaca: 930 kali


UKMKOTAMEDAN.COM - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia kembali menggandeng para pelaku usaha melalui pemanfaatan teknologi sistem informasi yang melibatkan startup. Dalam gelaran 100 Innovations Networking Event, Kadin mempertemukan sedikitnya 120 orang yang terdiri dari para pelaku startup dan korporasi untuk menjajaki terjadinya kerja sama.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Erik Hidayat menyebutkan, di era digital saat ini kolaborasi usaha merupakan suatu manfaat besar yang dapat ditempuh bagi para pengusaha. Hal ini agar kegiatan usahanya mampu berkembang di masa kini dan masa yang akan datang.

“Keniscayaan yang harus ditempuh bagi para pengusaha agar kegiatan usaha yang digeluti mampu survive (bertahan) bahkan berkembang di masa yang akan datang,” katanya usai membuka acara gelaran 100 Innovations Networking Event di Menara Kadin Indonesia (16/10/2019).

Dilansir dari Akurat , Erik menyebutkan perkembangan Startup di Indonesia,  tumbuh cukup pesat. Mengacu pada situs Startup Ranking per 21 Maret 2019 lalu, jumlah startup Indonesia mencapai lebih dari 2.100, jumlah tersebut menempatkan Indonesia di posisi kelima sebagai negara dengan startup terbanyak di dunia.

Adapun negara dengan startup terbanyak adalah Amerika Serikat yang mencapai lebih dari 46 ribu. Kemudian diikuti India memiliki 6.181 startup, lalu Inggris 4.909 serta Kanada 2.489 startup.

“Benar perkembangannya cukup bagus, namun kita juga tahu bahwa dari sekian banyak startup yang ada hanya baru sekitar 1 persen saja yang berhasil tumbuh, selebihnya boleh dibilang perlu berjuang lebih keras agar mampu survive (bertahan),” kata Erik.

Menurutnya, banyak faktor yang menyebabkan gagalnya sebuah startup, namun dari pembelajaran sekian lama pengalaman, faktor yang paling berpengaruh diantaranya kurangnya akses modal dan sumber daya manusia.

“Solusinya ada dua kunci, yaitu sharing ekonomi dan kolaborasi. Sudah bukan zamannya kita harus bisa segalanya, harus menguasai segalanya, namun akan lebih efektif apabila kita fokus dengan apa yang kita paling bisa, sisanya kita share dengan perusahaan lain dan bentuk kolaborasi sehingga tercipta kerja sama, sinergi, dan pertumbuhan bersama,” terang dia.

Lebih jauh Erik menerangkan, perusahaan startup memiliki DNA Agile. Startup mulai berkembang diawali dengan ide, solusi, atau mimpi yang kemudian berkembang disertai dengan support teknologi yang mampu memberikan jalan keluar buat pihak lain sehingga tercipta supply dan demand.

“Agility (kelincahan) ini yang tidak banyak dimiliki oleh perusahaan-perusahaan bahkan yang sudah besar atau usaha lama, sedangkan start up mampu pivoting atau berubah jenis bisnisnya dan mudah mengadopsi perubahan,” ungkapnya.

Erik menjelaskan, era sekarang adalah era VUCA (Volatile, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity), sehingga untuk bisa beradaptasi dengan perubahan diperlukan banyak adaptasi, transformasi dan tentunya kolaborasi. Sehingga kelebihan startup bisa menjadi jawaban dari kebutuhan industri, demikian pula startup yang membutuhkan dukungan seperti akses permodalan, sumber daya, bahkan klien dari perusahaan besar.

“Upaya menyambungkan startup dengan korporasi dan juga investor sangat penting, sehingga dapat terjadi bisnis yang saling mendukung dan memungkinkan terjadinya business matching,” pungkas dia.(*)


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2026. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved