Kisah Perjuangan Hj Nur Asiah, Owner Dodol Anugrah di Tengah Sepinya Konsumen
Diposkan: 07 Sep 2018 Dibaca: 1634 kali
UKMKOTAMEDAN.com, TOTALITAS dalam usaha jadi jadi kunci sukses Hj Nur Asiah (46 tahun) owner Dodol Bengkel "Dodol Anugrah" yang jadi salah satu oleh-oleh khas Perbaungan, Kabupaten Serdangbedagai. Keseriusannya, menjadikan dia salah satu dari pelaku UKM yang sukses di kawasan tersebut.
Hadir di Pasar Bengkel, Dusun 1 Perbaungan, Serdangbedagai, sejak tahun 1995, Nur tetap bertahan kendati banyak toko penjual Dodol Bengkel di sekelilingnya yang telah gulung tikar.
Kepada UKMKOTAMEDAN.COM, Jumat (7/9/2018), ibu tiga anak (dua dari lima anaknya telah meninggal), Nur Asiah menceritakan, berasal dari usaha turun-temurun keluarganya, akhirnya dia memberanikan diri mencurahkan modal untuk membangun usaha sendiri, tahun 1995 atau dua tahun setelah menikah.
Bermodalkan dana Rp5 juta untuk bisnisnya, dan Rp4 juta untuk mendirikan kios berbahan papan, dari hasil menggadai sawah, usahanya mampu berkembang dan bisa membuat toko permanen pada medio 2000.
Banyaknya kios dodol dan oleh-oleh lain yang berdiri dan menghangatkan persaingan usaha di kawasan sentra oleh-oleh itu tidak membuatnya kalut.
"Usaha ini dari tahun 1995. Ceritanya, kami punya nenek terkenal buat kue, jadi dari situ kami pandai juga buat dodol, orang tua bisa, otomatis anak-anaknya ikut bisa. Kebetulan saya tahun 1993 berumah tangga, suami petani. Jadi saya berniat membantu perekonomian keluarga," ujar istri dari H Eriadi tersebut.
Di era millenium mulai tahun 2000-an hingga 2017, Dodol Anugrah, kata Nur Asiah mengalami masa keemasan. Banyaknya moda transportasi baik besar, sedang, hingga kecil, bahkan mobil pribadi yang melintas di kawasan jalan lintas tersebut, membuat usahanya makin sering disinggahi para pelancong dan penumpang bus untuk membeli oleh-oleh.
Apa lagi, tidak hanya dodol yang dijajakan bagi konsumen. Aneka makanan, mulai dari kue hingga snack milik pelaku UKM lainnya di kawasan tersebut juga tersedia. "Selain dodol, produk titipan usaha teman-teman juga cukup banyak. Namanya teman ikut membantu lah karena kan punya tempat, apa salahnya berbagi rezeki," ucapnya.
Di rentang waktu 17 tahun tersebut kata dia, omset per hari bisa mencapai Rp4 hingga Rp5 juta, khusus untuk produk dodol yang dia miliki. Bahkan, jika memasuki masa liburan khususnya Idul Fitri, pendapatan perhari bisa mencapai lebih dari Rp10 juta.
Menurut Asiah, dodolnya jadi salah satu pilihan, lantaran dia tetap menjunjung tinggi "sportivitas dalam usaha". "Prinsip saya, yang penting kualitas dijaga, nggak dikurangi bahannya walau mahal, bahannya tetap. Timbangan jangan dikurang-kurangi. Selanjutnya namanya usaha, tinggal berserah diri sama Pemberi Rezeki, berdoa. Kita jaga kualitas," ucapnya.
Beraneka ragam bentuk, rasa, bobot, hingga kemasan dodol yang dia punya, Nur Asiah juga mengaku tetap memakai bungkus tradisional "upe" yang berasal dari kulit tengah daun pinang. Itu pula kata dia yang membuat dodol miliknya tetap dicari konsumen. "Saya tetap pakai upe untuk pembungkus dodol. Kadang ada yang memilih dodol yang dibungkus tradisional seperti itu. Karena tahu Dodol Anugrah ada, mereka datang dan beli," ungkapnya.
Namun, masa keemasan tersebut berakhir sekitar tiga-empat bulan silam. Bahkan kata Nur, banyak kios dodol di sekitarnya tutup. Menurutnya, banyaknya kios yang tutup lantaran tidak lagi banyak kendaraan yang melintas dari jalan lintas tempatnya berjualan. Hal itu terjadi setelah jalan tol Medan-Kualanamu-Tebingtinggi beroperasi.
"Pendapatan menurun hingga sekitar 75%. Banyak toko yang tutup. Di kiri dan kanan toko saya tutup. Terus memang pasca tol baru berfungsi, tidak banyak lagi pengendara yang melintas di jalan depan toko kami ini. Kalau dulu tol kan hanya di Tanjungmorawa. Ya, kalau dibilang, penjualan turun sampai 75%. Omset per hari paling besar Rp1 juta. Sekarang masak dodol itu paling banyak tiga kali seminggu dengan 8 kilo pulut (dua kuali) sekali masak. Kalau dulu bisa sampai puluhan kilo," bebernya.
Belum lagi mahalnya bahan baku yang sudah dirasakan sejak beberapa waktu lalu membuat situasi semakin sulit. Tapi, Nur tidak menyerah. Berbagai upaya dia lakukan untuk memasarkan produknya. Salah satunya dengan memanfaatkan pertemanannya dengan berbagai pelaku UKM dari kawasan lain.
"Kalau ada teman yang ke daerah lain, ini mereka ambil. Yang dijual lagi ada, konsumsi juga ada. Lumayan pemesanannya. Kalau di toko gak dapat Rp1 juta per hari, di luar karena ada yang pesan, walau tidak rutin, sehari bisa mencapai Rp1,5 juta," ucapnya.
Di akhir wawancara, dia berharap pemerintah, baik pusat maupun daerah bisa mencarikan solusi bagi penurunan jumlah penjualannya bersama pemilik usaha serupa lainnya. Pasalnya tidak hanya produsen dodol yang mendapat keuntungan, tetapi juga UKM lainnya.
"Bayangkan, kalau dulu banyak masyarakat yang terbantu dengan banyaknya konsumen kami. Sekarang kalau sudah begini mau bagaimana. Jangankan mereka, kami saja merasakan dampaknya. Jadi mohon kepada pemerintah bisa memperhatikan kamilah," pungkasnya.(UKM05)