Kisah Mbak Piah Jatuh Bangun Mempertahankan Warung Pecalnya yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Diposkan: 23 Jul 2019 Dibaca: 1250 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Kota Medan dikenal sebagai surganya kuliner. Sehingga tak heran jika di Medan usaha kuliner tak pernah sepi peminat.
Salah satu tempat kuliner yang pembeli selalu ramai yaitu warung Pecal Mbak Piah, Jalan Sei Putih Baru Medan.
Warung sederhana ini sejak buka pukul 09.00 wib hingga sore hari pengunjung silih berganti berdatangan dari segala penjuru. Padahal di warung ini hanya ada sejumlah menu yang diincar pengunjung. Diantaranya, pecal, lontong pecal, soto dan minuman primadonanya cendol dingin dan cendol hangatnya.
Tepat pukul 12.00 WIB tepat jam makan siang, warung ini penuh tanpa ada kursi yang tersisa dan meja penuh dengan pesanan pengunjung. Para pengunjung begitu menikmati sajian menu makanan di warung itu.
Supiah, wanita berusia 52 tahun pemiliknya. Saat ditemui kemarin, Supiah mengatakan sampai saat ini masih belum percaya bahwa ia dan warungnya sangat terkenal bahkan bukan hanya di kota Medan saja melainkan sampai kesejumlah daerah seperti Jakarta.
Warung pecal Mbak Piah dikatakannya berdiri sejak tahun 1999. Awal ia merintis kerap mengalami jatuh bangun. Bahkan ia mengaku sedih jika melihat kebelakang usahanya ini.
"Dulu itu awal berdiri, warung ini sepi pembeli, kadang laku, kadang enggak laku, pokoknya sedih kalilah," ucapnya kepada ukmkotamedan.com.
Dan bukan hanya minimnya pembeli, warungnya juga dulu sangat kecil hanya berkapasitas 20 orang.
menu makanannyapun tidak sebanyak sekarang, hanya ada pecel, tahu goreng, cendol dan gorengan.
Namun, seiring waktu, usaha yang dulunya juga dirintis oleh orang tuanya dan suaminya ini akhirnya berkembang. Dari mulut ke mulut, kian hari warungnya terus ramai dan yang paling membahagiakannya, pembeli atau pengunjung yang datang bukan hanya kalangan biasa namun juga dari kalangan atas juga koorporate.
"Saya terinspirasi merintis usaha ini dari orang tua lalu saya menikah, suami saya juga jual pecal, namun umur suami saya tidak panjang lantas saya melanjutkan usaha ini," katanya dengan wajah sedih.
Dikatakannya, untuk menjadi pilihan, ia bertahan dengan rasa yang tidak pernah diubah. "Saya rasa mengapa orang suka makan di sini karena rasanya. Saya berusaha rasa pecal dan semua sajian makanan di sini tidak berubah meskipun harga bahan baku berfluktuasi semisalnya harga cabai yang melambung," katanya.
Untuk seporsi pecal legendarisnya hanya dibandrol Rp15 ribu. Begitu juga dengan menu lainnya harga ia sama ratakan. Dimana menu saat ini sudah bertambah yaitu soto dan gado-gado.
Jika dulu ia hanya sendirian melayani pembeli, namun kini ia sudah dibantu 5 karyawannya untuk melayani 400 sampai 500 pembeli setiap harinya. Dan bahkan diakuinya bisa lebih jika ada tamu dari luar daerah.
Dari hanya berjualan pecal ini, ia bisa meraih rezeki hingga Rp5 juta perhari.
Sungguh ia mengaku bersyukur dan berharap usahanya ini terus ramai. Dipenghujung ia sempatkan meminta pemerintah untuk mengendalikan harga kebutuhan pokok sebab mahalnya harga sejumlah kebutuhan pokok sangat berpengaruh besar dengan dunia usaha terutam usaha kuliner saat ini. (UKM06)