Kisah Jatuh Bangun Widi Meraih Sukses dari Mpek-mpek Nabil
Diposkan: 08 Aug 2019 Dibaca: 1283 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Widyawati biasa dipanggil Widi (34) pengusaha mpek-mpek Nabil yang sukses di Medan. Selain laris, wanita berkulit kuning langsat ini juga sukses membangun jaringan bisnisnya mulai memiliki agen dan reseller yang tersebar di Sumatera Utara dan Aceh.
Awalnya ia merintis usaha ini karena ia menyukai dunia usaha. Sebelumnya ia menjalankan bisnis fashion secara online. Semuanya juga dilatarbelakangi karena suaminya tidak mengizinkannya untuk bekerja di luar rumah. "Suami saya itu ingin saya di rumah saja mengurus anak jadi saya buka usaha online," katanya kepada ukmkotamedan.com saat mengunjungi rumah produksinya di Perumahan Menteng Indah Blok B No 8 Medan Denai.
Setelah itu dikatakannya ia melihat teman-temannya yang sukses menjalankan bisnis kuliner sehingga ia tertarik untuk membangun bisnis tersebut. Kemudian dengan tekad yang kuat ia memulai usaha kuliner mpek-mpek dan bertahan sampai saat ini.
Dari tahun 2015 merintis usaha ini awalnya ia hanya mengerjakan sendiri dan dibantu oleh ibu mertuanya, namun usaha yang kian terus berkembang ia akhirnya memutuskan untuk mempekerjakan beberapa warga di sekitar rumahnya agar dapat membantu bisnisnya baik dalam produksi, pengemasan hingga marketing. Dan itu terwujud pada tahun 2016 lalu.
Andal dalam membuat mpek-mpek kuliner khas Palembang ini diceritakan Widi karena ia juga orang Palembang asli dan bahkan mpek-mpek juga merupakan makanannya sehari-hari. Meskipun ia mengakui untuk membuat mpek-mpek yang enak itu ia harus belajar dari orangtuanya dan juga mengkombine dengan resep di tutorial YouTube dan google.
"Pernah juga gagal tapi saya terus belajar hingga mendapatkan resep yang layak dijual dan bertahan Sampai saat ini," katanya lagi.
Menjalankan usaha memang tidak terlepas dari kegagalan, kritikan pedas dari konsumen bahkan takkan luput dari putus asa, begitu juga yang dialami ibu dari satu anak ini.
"Saya pernah menangis saat dapat kritik dari salah seorang konsumen (bapak-bapak). Sekitar pukul 5 sore beliau membeli mpek-mpek lalu malamnya ia telepon saya dan langsung bilang produk saya tidak enak, kuahnya tidak pedas seperti makanan anak bayi dan bawang putihnya tidak terasa," katanya dengan mata berkaca-kaca mengingat masa lalu itu.
Kritikan itu sempat membuatnya menangis dan ia menumpahkan segala rasa sedihnya kepada suaminya. Beruntung ia memiliki suami yang sangat mendukung usahanya itu. Suaminya mengatakan bahwa hadirnya kritikan itu justru sangat bagus karena dapat memperbaiki produknya menjadi lebih enak lagi.
Akhirnya, ia bangkit lagi dan ia memperbaiki produknya dengan belajar membuat resep dan membuat bumbu hingga belajar khusus ke Palembang tanah asal kuliner ini.
Kritikan itu hadir diakuinya setelah 1 tahun usahanya berjalan. "Saya sekolah ke Palembang khusus buat mpek-mpek yang enak dan kuah mpek-mpek lalu setelahnya saya buat lagi di Medan dan Alhamdulillah sambutanya sangat baik, mereka (konsumen) mengatakan enak dan sudah sama seperti yang di Palembang," katanya dengan senyum ceria.
Saat merintis ia hanya memproduksi mpek-mpek 1 kg/hari dan setiap hari tidak semuanya habis. Sehingga sisanya ia selalu frozenkan di kulkas. Tetapi berkat promosi yang gencar dibantu suaminya juga melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook kini produksinya 16 kg/hari dikarenakan peminat yang terus bertambah.
Permintaan paling ramai jika memasuki moment hari besar keagamaan semisal Ramadhan, hari raya Iedul Fitri. "Karena banyak permintaan bisa 20 kg/hari dan saya juga harus turun untuk membantu para karyawan yang kini sudah ada 10 orang," katanya.
Istimewanya produknya dengan brand Mpek-Mpek Nabil ini menggunakan tenggiri 100 persen dan tanpa MSG. Punya tekstur yang lembut, tidak keras dan aromanya menggugah selera. Ikan tenggiri ia peroleh langsung dari pemasok yang datang dari Belawan.
Untuk variannya ada mpek-mpek lenjer, adaan, kapal selam, mpek-mpek kulit, mpek-mpek keriting, mpek-mpek hitam (varian baru) yang sangat best seller saat ini. Selain itu ada juga otak-otak tenggiri, tekwan tenggiri, bakso tenggiri dan dinsum tenggiri (terbaru juga dan belum ada yang buat di Medan). Harga mulai dari Rp 15 ribu sampai Rp70 ribu.
Pemasaran mpek-mpek ini dikatakannya sudah sampai ke Lombok, Bali dan Balikpapan, Aceh.
Ia berharap ia ingin usaha ini menjadi besar dan memberikan manfaat yang sebanyak-banyaknya untuk agen dan reseller dan bisa membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya terutama buat warga yang ada dilingkungan tempat ia tinggal. (UKM06)