Kisah Jatuh Bangun Suhartono Merintis Usaha Keripik Pisang Neng Syifa

Kisah Jatuh Bangun Suhartono Merintis Usaha Keripik Pisang Neng Syifa
Keripik Pisang Neng Syifa

Diposkan: 27 Oct 2018 Dibaca: 1660 kali



UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Sempat sukses pada usaha bakeri yang dia rintis mulai 2005 silam, Suhartono malah memutuskan untuk membuka usaha camilan keripik pisang dengan merk Neng Syifa, sejak Agustus 2017. Namun kali ini, ayah satu anak itu bertekad fokus mengembangkan usahanya itu.

Betapa tidak, alumni Fakultas Teknik Jurusan Teknis Mesin Universitas Sumatera Utara (USU) itu mengaku sempat "salah langkah". Keinginannya untuk hidup lebih tenang malah berakibat kurang baik, usaha bakeri yang omsetnya lumayan harus dia akhiri.

Kepada ukmkotamedan.com, dia menceritakan, perjalanan hidup yang membawanya hingga akhirnya menekuni usaha keripik pisang cukup berliku. Berawal di 2005, saat dia memutuskan memproduksi aneka jenis roti di kampung halamannya di Desa Bunut Seberang, Kisaran, Kabupaten Asahan, yang ternyata cukup mendapatkan respons positif masyarakat sekitar.

"Sebetulnya ada usaha dulu sejak tahun 2005 di Kisaran dalam bidang bakery, Najwa Bakery, sampai tahun 2016 berjalan dan omset cukup besar. Hampir 11 tahun berjalan, cuma pada saat itu saya berfikir ingin hidup tenang. Saya akhirnya investasikan keuntungan usaha bakery ke bidang perkebunan, hingga pada akhirnya usahanya agak terbengkalai karena fokus mengurusi kebun karet, luasnya 12 Hektare," ujarnya belum lama ini.

Usaha bakeri memang tetap berjalan, namun apa adanya. Bahkan, saat kebun karet mulai menghasilkan, dia sampai berinisiatif untuk meninggalkan usaha bakery yang memikiki 15 karyawan di bidang produksi dan belasan orang untuk pemasaran.

"Karena fokus ke situ (kebun), usaha jalan apa adanya, sementara persaingan terus berjalan. Kompetitor improve kita tidak peduli. Sampai kebun menghasilkan dan saya merasa aman lalu berpikir bakery mau ditinggalkan," ucap pria yang biasa disapa Tono itu.

Saat usaha bakeri akhirnya benar-benar dia hentikan, sayangnya, harga jual getah karet malah mengalami penurunan, dari harga mencapai belasan ribu rupiah per kilo, turun menjadi Rp4 ribu hingga Rp6 ribu saja. Merasa tidak lagi bisa menabung lantaran keuntungan yang sangat sedikit dari hasil kebun, perlahan Tono mulai berpikir menjalankan usaha baru yang tidak memerlukan modal besar.

Dengan memanfaatkan uang yang ada, Tono berpikir usaha keripik pisang menjawab harapannya. "Ya udah yang gampang saja, akhirnya saya usaha keripik pisang. Selain pisang saya juga produksi keripik kentang, keladi, ubi, semuanya ada enam varian rasa. Neng Syifa itu dari nama anak saya. Saya pingin menyayangi usaha itu seperti menyayangi anak sendiri dan saya komitmen tidak mengulangi kesalahan seperti sebelumnya," ungkapnya.

Bermodalkan biaya produksi tidak sampai Rp100 ribu membeli bahan baku pisang dan minyak goreng kemasan, Tono mengaku belum mau berspekulasi dan masih ingin melihat reaksi pasar terhadap produknya.

Rumahnya di perumahan Classic Setia Budi Residence Blok C No 10 Jalan Abdul Hakim Tanjung Sari Medan menjadi tempat produksi keripik, bekerja berdua dengan istrinya. Lalu, sebagai usaha yang baru dirintis, pemasaran dilakukan kepada tetangga komplek perumahan tempat tinggal termasuk saat arisan ibu-ibu di komplek tersebut.

Lambat-laun, konsumen bertambah. Kini, keripik produk Neng Syifa telah punya langganan, salah satunya dari Konsulat Korea Selatan di Kota Medan. "Mereka kalau mau pulang kampung (ke Korea) selalu pesan, walau nggak banyak, paling 10 Kg, tapi jadi oleh-oleh wajib. Biasanya mereka pesan empat hingga enam bulan sekali. Mereka juga  rutin pesan sebulan antara tiga atau empat kali 3 Kg," ucapnya.

keripik produksi Suhartono dan istri juga bisa didapat di Medan Napoleon jalan Wahid Hasyim Medan, kendati kata dia, masih menggunakan merk milik rekannya, lantaran Neng Syifa masih hanya mengantongi izin produk industri rumah tangga atau P-IRT. "Izin kita baru P-IRT sejak dua bulan lalu, izin halal masih dalam pengurusan," ungkapnya

Belum dibantu karyawan, Tono menyebut, Senin hingga Jumat merupakan hari-hari yang sibuk bagi dia dan istri lantaran memproduksi sebanyak 50 Kg bahan baku setiap pekannya dengan keripik pisang sebagai produk utama.

Menurut Tono, keripik pisang produksinya cukup digemari lantaran menggunakan bahan baku pisang kepok dari Pulau Nias yang teksturnya lebih renyah, warna kuningnya cerah, rasa manisnya yang dominan dominan, dan tidak lembek walau sudah matang. Selain itu Neng Syifa tidak menggunakan pewarna makanan dan pengawet. Minyak untuk menggoreng menggunakan minyak kemasan.

Untuk kenyamanan dan keamanan pelanggan, Tono hanya memberikan waktu tiga minggu masa layak konsumsi produk Neng Syifa walaupun tetap masih layak dikonsumsi hingga sebulan. Neng Syifa juga memberikan pilihan bagi pelanggan apakah ingin menggunakan kemasan plastik biasa atau standing pouch, dengan perbedaan harga sekitar Rp5 ribu untuk kemasan 150 Gram.


Harganya juga cukup ringan, dengan ukuran mulai 100 Gram dibanderol mulai Rp 10 ribu hingga 500 Gram dengan harga Rp25 ribu.

Dalam sebulan kata Tono, kendati masih relatif kecil, keuntungan yang didapat cukup menjanjikan yakni antara Rp3,5 juta hingga Rp5 juta. Namun dia mengatakan, masih belum berniat untuk menambah jenis produk lantaran masih ingin fokus mengembangkan usahanya itu. 

"Mungkin kalau kita ke produk lain dengan keterbatasan yang ada akan memberatkan. Dengan fokus satu produk ke depannya mudah-mudahan akan lebih baik lagi dan insya Allah omsetnya lebih besar," pungkasnya.(UKM05)


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2026. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved