Kisah Jatuh Bangun Soesanto Merintis Brand D'Saka
Diposkan: 25 Sep 2018 Dibaca: 1230 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Kegagalan membangun usaha terkadang membuat sebagian orang langsung menyerah pada keadaan. Tapi tidak bagi Soesanto. Pria 35 tahun itu malah melakukan terobosan dari produk sisa usahanya yang tidak laku menjadi karya seni yang menarik.
Lewat brand D'Saka Indonesia, ayah tiga anak itu menciptakan replika, miniatur, hingga lukisan, bukan dari bahan yang lazim, namun dari bahan ijuk dan sabut kelapa.
Ditemui di salah satu standar Bazaar UKM Kota Medan 2018 di Manhattan Time Square Medan, baru-baru ini, Soesanto menceritakan, dua tahun lalu menjadi titik balik bagi dirinya yang mengalami penurunan omset penjualan sikat ijuk dan sabut miliknya.
"Memang sampai sekarang saya usaha sikat. Tapi mulai beberapa tahun lalu, setelah banyaknya sikat plastik dari China, usaha saya ini mengalami penurunan. Dari saya punya 15 karyawan sampai hanya punya produk sikatnya saja," ujarnya.
Belum lagi lantaran menjual produk lewat trading (agen), keuntungan pun sangat rendah kendati produknya pernah diekspor hingga Malaysia. Tidak mau menyerah, dia lalu putar otak. "Saya berpikiran membuat replika hewan dari sikat itu, lalu saya coba buat 1,2, kasih ke teman. Pernah ada pameran di Lapangan Merdeka saya buat 15, laku 12 dengan harga beberapa ribu rupiah," ucapnya.
Lalu di 2016, proyek D'Saka Indonesia dimulai. Namun, tidak serta-merta langsung memasarkan produknya, Soesanto lebih dulu menjajaki pasar. Cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk penjajakan tersebut, yakni sekitar setahun.
Selain penjajakan pasar, keterampilan yang dia dapat secara otodidak tersebut ternyata berproses. Kegagalan demi kegagalan dirasakannya hingga akhirnya replika, miniatur dan lukisan kreasinya bisa seperti sekarang. "Saya otodidak. Buat replika banyak yang gagal. Awalnya saya hanya buat replika tupai. Setelah banyak orderan dari konsumen, saya coba buat replika lain.
Ada yang kasih saya DP (uang muka) buat replika kura-kura. Saya sempat ragu, tapi tetap buat karena nggak mungkin uangnya dikembalikan lagi. Ada yang puas, ada yang bilang nggak mirip, saya buat lagi sampai benar-benar bagus. Karena kita selain mengejar uang juga mengejar ilmu," ucap pria yang mengaku memasok bahan baku dari Langkat dan Serdangbedagai itu.
Saat ini, ratusan desain sudah terekam di memorinya. Apa lagi kata dia, semua bisa dibuat dari ijuk dan sabut kelapa alias kreasi tanpa batas. Untuk lama waktu pengerjaan, Soesanto bilang tergantung tingkat kesulitannya. Namun dia menjelaskan, untuk gantungan kunci, bisa menyelesaikan hingga 200 buah per hari. Untuk replika hewan bisa lima hingga 10 dalam satu hari.
"Kayak replika flamingo dengan kemiripan 90% ini bisa 10 sehari. Lukisan bisa siap dua minggu, seberapa pun ukurannya. Untuk lukisan saya buat mulai 30 cm x 30 cm hingga 2,20 meter x 1,30 meter," beber Soesanto.
Dia mengklaim, apa yang dibuatnya belum ada dibuat orang lain. Hal itu didasari setelah dia pernah menjadi peserta International Handicraft (Inacraft), dari 1500 peserta, hanya dia yang punya kerajinan tersebut. "Bawa produk ke pameran Inakraf, tempat semua pengrajin yang unik dan top berkumpul. Ada 1500 stan, tidak ada yang begini. Makanya saya makin semangat lagi, pangsa pasar cukup besar," ucapnya.
Untuk gantungan kunci, replika hingga miniatur, Soesanto membanderol dengan harga mulai harga Rp10 ribu hingga Rp1,5 juta. Sementara untuk lukisan dari Rp4 juta sampai Rp20 juta atau lebih. Dia mengaku pernah menerima pesanan replika becak motor Medan dengan ukuran 50 cm x 50 cm yang dibayar Rp1,5 juta.
Beda dengan replika dan miniatur, kata Soesanto, untuk membuat lukisan ijuk dan sabut kelapa cukup sulit lantaran harus punya kemampuan melukis. Itu pula yang membuat harganya cukup tinggi. Apa lagi, dia tidak selalu membuat lukisan melalui contoh sketsa wajah (gambar hitam putih). "Lukisan pemandangan pernah dijual Rp18 juta hingga Rp20 juta. Ada teknis khusus, Terkadang kita sketch yidak bisa, dia harus punya skill melukis juga," paparnya.
Soesanto mengatakan, belum punya galeri untuk memamerkan hasil karyanya tersebut selain galeri dari pemerintah di gedung PRSU. Sedangkan untuk workshop, beralamat di Jalan Medan-Binjai Km 13,8.
Lukisan wajah seseorang atau tokoh menjadi salah satu yang paling banyak dia buat. Untuk lukisan wajah sudah ada ratusan lukisan yang dia selesaikan. Sementara untuk lukisan ikon Kota Medan dia hanya buat beberapa, termasuk juga pesanan dari pihak Pemko Medan.
Tidak hanya di Medan, Soesanto acap menerima undangan di beberapa kota seperti di Jakarta. seperti bulan Juni silam, dia mendapat tempat khusus di salah satu mal di Jakarta untuk memperkenalkan dan memasarkan produknya.
"Market saya di Jakarta juga. Bulan 6 (Juni) kemarin di mal besar di Jakarta, saya demo dan jual produk. Tempatnya gratis dan saya bisa sekaligus promosi," jelasnya.
Sebagai perajin binaan Pemprov Sumut dan Pemko Medan, dia berharap, D'Saka Indonesia bisa menjadi salah satu ikon produk di Sumut. Selain itu, dia juga berharap, keterampilannya itu bisa ditularkan kepada orang lain. Saat ini, Soesanto melatih dua orang dengan harapan bisa seperti dia. Apa lagi kata dia, pernah dapat pesanan dalam jumlah masif, namun lantaran keterbatasan waktu dan tenaga, dia terpaksa menolaknya.
"Harapan saya, bisa ramai yang buat. Saya pernah dapat buyer (pembeli), dapat order dari Brasil miniatur Harley Davidson satu kontainer dalam waktu tiga bulan, tapi terpaksa saya tolak," ungkapnya.
Saat ini, pameran demi pameran yang diikutinya menjadi ajang promosi utama memasarkan produknya selain melalui akun Instagram D'saka Indonesia, Facebook D'saka Id. Bagi yang ingin memesan bisa menghubungi nomor telepon 085277636658. Sementara untuk WhatsApp bisa di 082163237358 atau 082366467718.
Untuk pemasaran online, dia masih dalam tahap penjajakan. Menurutnya, perlu persiapan matang untuk bisa masuk ke situs e-commerce. Saat ini dia sedang mempersiapkan segala sesuatunya. "Ke e-commerce saya belum. Ini masih penjajakan. Masuk ke situ harus ada persiapan matang seperti packaging, teknik foto dan stok barang," pungkasnya.(UKM05)