Kisah Jatuh Bangun Suprianto hingga Sukses Jadi Pengusaha Tapioka

Kisah Jatuh Bangun Suprianto hingga Sukses Jadi Pengusaha Tapioka
Suprianto. Foto : Akbar/UKM04

Diposkan: 12 Aug 2018 Dibaca: 1536 kali


UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Kerap jatuh bangun di dunia niaga, tidak menyurutkan semangatnya. Pengalamannya di masa lalu menjadi pengingat bahwa selalu ada jalan untuk bangkit.

Namanya Suprianto, pria kelahiran Tebingtinggi, 2 Mei 1966 ini sukses jadi pengusaha tapioka. Di Serdangbedagai, ia punya dua kilang tapioka dan lahan seluas 26 hektar. Ia juga punya ladang ubi dan satu rumah toko.

Meski saat ini sudah kaya-raya, penampilannya selalu sederhana. Ia bahkan lebih senang tak beralas kaki. Sehingga orang tak pernah menyangka, bahwa divbalik penampilan "rakyat jelatanya" itu, ia memiliki harta jutaan rupiah.

Siang itu, mengenakan kemeja putih dipadu celana pendek, ia berkeliling memantau kinerja karyawannya di kilang. Ia melakukannya demi mamastikan semua pekerjaan berjalan lancar.

Awalnya, Suprianto tidak percaya ia memiliki kilang tapioka yang bisa berkembang. "Sejak 2006 buka usaha ini," kata Suprianto yang menyambut awakmedia UKMKOTAMEDAN.COM yang langsung datang ke kilangnya Serdangbedagai.

Dia mengisahkan sebelum merintis usaha tapioka, Suprianto sempat wara-wiri di dunia dagang. Mulai dari buruh pacul, jualan sembako, hingga buka toko kelontong. Ia bahkan menghabiskan 12 masa mudahnya bekerja di kilang milik orang lain.

Ia mencoba berinvestasi di ubi, yang dianggapnya menjanjikan. Dirinya pun memberanikan diri meminjam modal ke bank lokal di Sumut sebesar Rp100 juta. Pinjaman itu digunakan untuk usaha tanam ubi di ladangnya. Dan ketika panen tiba, harga ubi dipasar anjlok hingga Rp150 per kilo.

Harga anjlok ubi menjadi bencana bagi pria ini. Ia pun pening bagaimana mampu menutupi utang. Suprianto pun kembali lagi jadi tukang pacul. Selama berbulan-bulan, ia menjadi buruh kasar di ladang ubi tetangganya.

Mental kewirausahaannya yang tertanam sejak kecil membawa dirinya kembali mencoba peruntungannya. Ia mengakhiri masa-masa sebagai buruh kasar. Ia bertekad bekerja mandiri. Ia kemudian menjual tanahnya seluas dua hektar. Hasil penjualan tanah itu digunakan untuk membuka kilang tapioka.

"Ketika masih kerja di kilang orang, saya selalu menabung uangnya kemudian saya gunakan beli tanah. Saya suka investasi di tanah," bebernya.

Ide itu muncul ketika ia melihat kehidupan keluarganya yang sangat miskin. Lahir sebagai anak ketujuh dan 15 bersaudara, Suprianto terpaksa putus sekolah akibat ketiadaan biaya. Ia hanya mengenyam pendidikan dasar.

"Ayahnya saya juga kuli. Enggak sanggup menyekolahkan kami semua. Jadi saya piki, kelak kalau saya menikah, saya tidak lagi kerja sama orang lain. Saya mau mandiri," kenangnya.

Untuk memulai usahanya, Suprianto menjual dua hektar lahannya , serta kembali meminjam ke bank lokal dengan jaminan tanahnya.

Pinjaman kedua ini menjadi titik mulai dari usaha pria ini. Ia pun membuka usaha tapioka tersebut. Bahkan, usahanya mendapat dukungan dari masyarakat.

Untuk memperluas bisnisnya, ia pun kembali meminjam ke bank lokal tersebut hingga Rp650 juta. Selain untuk mendongkrak angka produksi, juga untuk menjangkau lebih luas, seperti ke Kota Medan.

Akibat kegigihannya, ia pun berhasil menjangkau Kota Medan lebih cepat dengan ada di cabang di Ibu Kota Sumatera Utara tersebut. Sehingga pendapatannya pun menjadi lebih banyak dan besar.   (UKM04)


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2026. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved