Kisah Imawati Merintis Usaha Dapur Juadah Kampung
Diposkan: 21 Sep 2018 Dibaca: 1460 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Bosan tanpa aktivitas usai melahirkan anak, Imawati Lubis (55 tahun) diam-diam memasarkan kacang tojin racikannya ke beberapa tempat. Tak sia-sia, pengalaman enam tahun lalu itu kini menjadi memori tak terlupakan.
Betapa tidak. Kini, usaha cemilan rumahan milik Imawati, Dapur Juadah Kampung, memproduksi 100 Kg dan bahkan dipasarkan ke sejumlah tempat, termasuk perbelanjaan modern.
Kepada ukmkotamedan.com, ibu enam anak itu menceritakan, usaha yang dilakoninya memang penuh liku, namun dengan kesabaran, keikhlasan dan semangat, dirinya kini menjadi salah satu UKM yang cukup diperhitungkan.
"Saat ini, kami memproduksi Kacang Tojin, Kue Bangkit, Makaron dan Pukis Kacang. Untuk kacang tojin sudah enam tahun. Kue Bangkit menjelang dua tahun, Pukis dan Makaron setahun," ujarnya, Rabu (19/9).
Dia mengisahkan, sempat membuka kafe, namun kondisi hamil anak keenamnya membuat dia memutuskan berhenti dari aktivitas tersebut. Setelah melahirkan, Irmawati yang biasa sibuk, kini mengalami kebosanan. Jenuh dengan kondisi itu, diam-diam dia membuat kacang tojin dengan bahan sekilo kacang tanah.
Tanpa diketahui sang suami, dia menjual kacang tojin olahannya tersebut ke beberapa tempat. Respons positif dia dapatkan. Sejak kacang tojin pertama laku, dia lalu meneruskan aktivitas barunya tersebut.
Bahkan kata Ismawati, dia sempat kesulitan mendapatkan bahan baku lantaran produknya cukup diminati. Sampai akhirnya dia mendapatkan informasi di Blang Pidie ada petani kacang. Dia lalu memasok dari daerah di wilayah Aceh itu.
"10 Kg bahan diperlukan setiap pekan. Saya kewalahan cari kacang dari mana. Akhirnya saya dapat di Blang Pidie," ucap perempuan yang saat ini dibantu dua asisten untuk produksi dan pengemasan produk.
Dengan tingginya peminat, akhirnya Imawati memutuskan merekrut asisten membantu produksi. Sejak tahun 2016, Dapur Juadah Kampoeng memproduksi 100 Kg hingga 150 Kg kacang tanah setiap minggunya.
Menurut istri dari M Armin Syah (67 tahun) itu, peminat produknya semakin bertambah lantaran beberapa hal. Antara lain, dia menggunakan kacang tanah pedesaan yang ukuran sedikit lebih kecil dari kacang tanah lain dan rasanya lebih manis.
Selain itu, dia tidak membeli kacang yang kulit arinya sudah dikupas. Dia sendiri yang mengupasnga. Selain itu, dia menggunakan minyak kemasan untuk menggoreng kacang tersebut dan tanpa pengawet.
Ismawati juga menjamin, kacang tojin produksinya tidak berminyak, mengandung lemak baik (HDL) dan bukan lemak jahat (LDL). "Kalau kacangnya gak ada kolesterol, yang ada lemak baik. Saya beli bahan di Pusat Pasar karena dari Blang Pidie tidak cukup lagi. Karena kami menjaga kualitas produk, kami tetap pilih kacang tanah yang sama, yang lebih kecil," ucapnya.
Perempuan yang memiliki lima orang cucu tersebut mengatakan, salah satu indikator produknya cukup diminati yakni berawal ketika salah satu reseller tiba-tiba menghentikan pasokan darinya. Usut punya usut, ternyata pemilik tempatnya memasok dagangannya telah memproduksi sendiri makanan serupa. Namun bedanya, produk Imawati memiliki merk Dapur Juadah Kampoeng.
"Ketahuannya lucu. Jadi saya ketemu sama kawan lama. Dia lihat saya bawa banyak kacang tojin. Lalu dia cerita bahwa dia cukup sering beli kacang tojin merk saya di tempat yang sebelumnya menghentikan kerja sama dengan saya. Kawan saya itu tanya sama pemilik, kok kacang tojin merk produk saya tidak ada lagi. Orang itu bilang saya sudah tidak produksi lagi. Paham dengan kondisi yang terjadi, kawan saya bilang wajar persaingan usaha," ungkapnya.
Masuk ke komunitas UKM sejak 2016 lalu, di situ pula akhirnya Irmawati memutuskan untuk membuat produk lain sebagai tambahan selain dari kacang tojin. Di situ pula dia memulai mengurus sertifikasi halal dan izin P-IRT keempat produknya tersebut.
"Kalau tidak ada P-IRT dan label halal, produk saya tidak bisa masuk perbelanjaan modern. Tapi sekarang, di beberapa pusat perbelanjaan sudah ada tersedia, termasuk 213 Mart," ucapnya.
Soal harga, produk Dapur Juadah Kampoeng juga cukup bersaing. Mau dari kemasan kecil harga Rp500 juga tersedia.
Untuk roduk tambahan lain yang diproduksinya hampir dua tahun silam, dia mengaku sengaja membuat makanan yang jarang diproduksi UKM lain. Contohnya kue bangkit, kue khas Melayu, yang bisa menjadi oleh-oleh. "Makaron juga masih jarang yang buat, begitu juga pukis. Jadi itu yang saya buat karena bisa jadi produk oleh-oleh khas Medan," papar perempuan yang sejak 10 tahun lalu juga memproduksi 26 macam kue lebaran dengan mayoritas konsumen dari Aceh tersebut.
Untuk pemasaran via online, dia menyebut dibantu suami yang khusus menangani masalah marketing lantaran punya keahlian di bidang komputer. Sedangkan dia, lebih fokus pemasaran dengan mengikuti aneka pameran UKM di tingkat Kota Medan hingga Sumatera Utara.
Mulai dari blanja.com, blibli.com, produk Dapur Juadah Kampoeng bisa dipesan. Termasuk juga lewat nomor telepon +6281370329669 yang juga nomor WhatsApp. Untuk omset, Ismawati mengatakan, untuk kacang tojin saja dia mampu meraup rata-rata Rp15 juta. "Kalau ditambah produk lainnya, bisa Rp17 juta hingga Rp18 juta sebulan," pungkasnya.(UKM05)