Ketekunan Kunci Syifa Sukses Jadi Pengajar hingga Bangun Rumah Aneka Kue Asy-syifa

Ketekunan Kunci Syifa Sukses Jadi Pengajar hingga Bangun Rumah Aneka Kue Asy-syifa
Syifa Ul Ummah

Diposkan: 27 Sep 2018 Dibaca: 512 kali



UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-"Alhamdulillah, kalau saya buka PO (purchase order atau pemesanan pembelian), ada saja pelanggan yang mau. Kalau sanggup, tiap hari ada saja pesanan, tapi biasanya saya buka PO dua hari sekali, kalau nggak begitu, capek kali" kata Syifa.

Syifa Ul Ummah (38 tahun), pemilik Rumah Kue Asy-syifa cukup sibuk dengan aktivitasnya di dunia masak-memasak kue, pastry, hingga bakery. Tidak hanya sibuk memproduksi aneka kue basah atau kering, makanan ringan hingga aneka pastry, ibu empat anak ini juga menjadi pengajar kelas kuliner di dinas-dinas beberapa kabupaten dan kota di Sumut.

Kepada umkotakotamedan.com, perempuan kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) tersebut menceritakan, dari berbagai usaha kuliner yang dia kerjakan, Asy-syifa menjadi satu yang paling berhasil, kendati belum genap berusia tiga tahun.

"Rumah Kue Asy Syifa ini mulai ada tahun 2015 lalu. Ceritanya, awalnya dulu saya punya usaha rumah makan soto, pakai nama anak saya, tapi kok gak berkembang. Jadi terus terpikir kenapa gak pakai nama saya saja ya? Mungkin bisa bawa hoki. Saya usaha macam-macam, rumah makan, grosiran, tapi dengan nama saya baru bisa berkembang," ujarnya, Kamis (27/9/2018).

Sebelum terjun ke dunia memasak kue, rumah makan soto milik Syifa lumayan ramai di kawasan Medan Labuhan. Namun lantaran harus terjaga hingga malam hari, dia memutuskan untuk menutupnya.

Bagi istri Syahrial Effendi (PNS, 49 tahun), dunia kue, pastry dan bakery bukan hal yang baru. Sejak kecil dia cukup familiar lantaran ibunya pembuat kue, sementara bibinya juga pemilik usaha roti.

"Ibu saya meskipun PNS, dia jualan kue dan setiap pagi jual sarapan dulu sebelum ngajar. Adik ibu ada usaha roti di rumahnya, cukup besar. Telur, tepung gula mentega bahan roti itu saya suka minta. Saya beli majalah bekas, coba resep di situ dengan tepung itu. Kalau buat kue bantet atau gagal, saya cemplungin ke sungai, namanya bahannya nggak beli. Dari SD sampai SMA ibu kawan saya bantu buat kue basah. Keluarga semua bisa buat kue, dasarnya itu," ujar perempuan yang pindah ke Medan ikut suami tahun 1998 lalu.

Hingga kuliah kedinasan di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, Syifa tidak berhenti membuat kue. Dengan peralatan seadanya, setiap pagi dia titip kue buatannya di warung-warung.

Harapannya mengikuti jejak kedua orang tua yang aparatur sipil negara (ASN) membuatnya getol mengikuti tes. Ke berbagai daerah dia pergi, dan harus meninggalkan kebiasaan membuat kue. Hingga suatu masa dia berfikir bahwa dia tidak bisa diperintah, dia akhirnya membuka warung.

Warung hingga berkembang menjadi grosir hingga akhirnya ditutup, warung soto hingga akhirnya ditutup, Syifa lalu nekat untuk jualan batagor keliling. "Mentok jual batagor, saya akhirnya putuskan buat kue. Lewat pemasaran dari mulut-ke-mulut, Alhamdulillah berkembang, dari nol hingga peralatan saya lengkap semua," ungkapnya.

Hobi bepergian yang sebelumnya sempat tidak kesampaian akhirnya mulai terwujud berkat usahanya itu. Namun tidak sekadar melancong, di daerah lain itu dia juga asah dan perbarui kemampuannya memasak kue. "Jadi dari situ (rumah kue) saya bisa jalan-jalan. Saya sudah ke mana-mana, tapi bukan jalan-jalan saja, saya cari ilmu, cari chef untuk mengajari saya mengembangkan pengetahuan memasak saya," ucapnya.

Kegigihannya itu berbuah manis. Kini, dia acap dikontrak untuk memberikan pelajaran masak-memasak, seperti untuk pemberdayaan masyarakat. "Diminta mengajar kuliner. Seperti di Tebing (Tebingtinggi) sudah berakhir tapi diminta lagi ngajar bulan Oktober. Kebetulan karena ada orderan full saya tidak bisa lanjut ngajar," ujar perempuan yang juga mengajar les memasak di rumahnya Jalan Tangguk Utama XIII, Besar, Medan Labuhan.

Mulai kue basah, kue kering, snack hingga kue tart dan roti dia produksi bersama satu karyawan tetap dan empat orang lain yang membantu jika ada orderan snack box atau kue kotak. Dia mengaku, perkembangan Rumah Kue Asy-syifa terjadi pertengahan 2016 dengan media sosial Instagram dan Facebook sebagai media promosi.

Menariknya, Syifa yang menentukan kue apa yang akan dia buat lewat PO. Jika ada yang berminat, baru dia produksi. Selain itu jika ada yang memesan lewat media sosial, dia yang memilih pesanan mana yang akan dia penuhi. Untuk pemesanan melalui Facebook, Syfa Azha Gine menjadi kata kunci menemukan akun rumah kue tersebut. Sementara di Instagram bisa memesan ke @asy_syifarumahkuwe serta nomor WhatsApp di 081263585898.

"Media sosial jadi perantara buat berkembang. Saya kan orang Banjarmasin, awalnya nggak ada kawan di Medan. Jadi saya manfaatkan media sosial untuk promosi dan PO. Alhamdulillah orderan datang seminggu atau dua Minggu sekali. Intinya kalau saya buat PO mudah-mudahan ada saja yang mau," ucapnya.

Untuk aneka roti, kata Syifa, dia bisa membuat lebih dari 100 loyang setiap minggunya. Sementara snack box (berisi tiga potong kue tiap kotak) bisa 200 ke 300 kotak. Akhir tahun bisa 500 hingga 1000 kota seminggu.

Hasilnya, dia meraup keuntungan rata-rata sekitar Rp2 hingga Rp3 juta. Itu pun karena dia hanya membuka pemesanan jika punya waktu lowong lantaran harus menyisihkan waktu untuk mengajar serta karena keterbatasan karyawan.

"Kesulitan cari tenaga kerja, karena harus ngajarin lagi. Harus cari tenaga lagi, ngajarin lagi butuh waktu. Saya masih terkendala SDM. Tapi ke depan, saya harap bisa dapat anggota yang bisa konsisten," ucapnya. Dia juga berharap, ke depan bisa buat toko atau outlet.(UKM05)

 


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2018. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved