Kemenperin Lahirkan ‘Startup’ Inovatif di Sektor Kerajinan dan Batik
Diposkan: 29 Jul 2019 Dibaca: 1190 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyelenggarakan “Innovating Jogja’, sebuah kompetisi bagi Industri Kecil Menengah (IKM) kerajinan dan batik. Sebanyak 10 finalis masuk tahap inkubasi.
Dilansir dari laman Kemenperin, Senin (29/7/2019) Kepala BBKB Yogyakarta Titik Purwati Widowati menyampaikan, 10 pemenang Innovating Jogja dan Diseminasi Hasil Litbang Tahun 2019 pada 26 Juli 2019 tersebut Adam Amrullah (Naray) - Sepatu berbahan upper stagen dengan bahan rubber sole, Bayu Ratna Dini (Diby Leather) - Marbling pada produk kulit.
Kemudian, Elsana Bekti Nugroho (Arane) - Fashion bag batik kombinasi eco print zwa pada kulit, dan Galuh Irawati Kusumaningrum (RaMundi Batik) - Aplikasi zat warna alam pada produk baby jumper batik.
Selanjutnya, Gilang Cahyono Adji (Valey) - Tas gunung/carrier batik outdoor zat warna alami, Hasan Agus Wiratomo (Modust Art and Craft) - Souvenir khas Yogyakarta berbahan limbah kayu, Iswanto (Giowari Putra Craft) - Kerajinan dari bahan limbah tongkol jagung, Matius Indarto (Prajan Eco) - Kain paduan eco print dan rush pada kain, Miftahudin Nur Ihsan (Smart Batik) - Kain batik zat warna alam dengan desain komunitas, dan Usnul Khotimah (Djad Batik) - Batik untuk fesyen bergaya Korea.
“Para pemenang Innovating Jogja akan mendapatkan pendampingan teknis dan manajemen, serta monitoring usaha. Selain itu juga mereka mendapat bantuan fasilitas produksi sebesar Rp20 juta,” ujar Titik.
Hadir dalam kesempatan tersebut pelaku industri, institusi pemerintah dan swasta, akademisi, serta pemerhati dan para asosiasi yang terkait dengan industri kerajinan dan batik yang berasal dari Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Sementara Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara di Jakarta mengatakan kegiatan yang digelar tersebut untuk menciptakan wirausaha baru.
“Guna melahirkan wirausaha baru, Kemenperin menyelenggarakan Innovating Jogja yang telah dilaksanakan sejak tahun 2016,” katanya.
Indonesia sebutnya, membutuhkan sedikitnya empat juta wirausaha baru untuk turut menguatkan struktur perekonomian nasional saat ini. Sebab rasio wirausaha di dalam negeri masih sekitar 3,1 persen dari total populasi penduduk.
“Meskipun rasio wirausaha di Indonesia sudah melampaui standar internasional, yakni sebesar 2 persen, namun masih perlu terus digenjot lagi untuk mengejar capaian negara tetangga,” sambungnya.
Kepala BPPI optimistis, gelaran kegiatan Innovating Jogja mampu menghasilkan startup kerajinan dan batik di Yogyakarta yang produktif, inovatif, dan kompetitif. Sebab dapat menggunakan fungsi alih teknologi dan inkubasi hasil-hasil litbang yang diciptakan Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta sebagai salah satu balai di bawah BPPI Kemenperin.
“Innovating Jogja juga sebagai upaya untuk merebut peluang dari adanya momentum bonus demografi yang akan dinikmati oleh Indonesia,”pungkasnya. (kemenperin/UKM01)