Kembangkan Aplikasi Kalender Tanam Padi, Dosen ITB Ini Bantu Ribuan Petani di Indramayu
Diposkan: 19 Jun 2019 Dibaca: 1215 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, BANDUNG –Institut Teknologi Bandung (ITB) terus berupaya menciptakan karya nyata yang dapat digunakan langsung masyarakat. Seperti karya Dr. Armi Susandi, dosen program studi Meteorologi ITB, yang mengembangkan aplikasi kalender tanam padi berbasis Android. Aplikasi ini telah membantu petani di Indramayu untuk mengatasi kerugian akibat gagal tanam pada tahun-tahun sebelumya.
Menurut hasil studi tim peneliti ITB dan Kementerian Pertanian, total kerugian petani di Indramayu mencapai Rp 478,8 milliar per musim tanam. Atau mencapai Rp 957,6 milliar per tahunnya, akibat gagal tanam. Melalui aplikasi Sistem Informasi Cerdas Agribisnis (SICA), para petani dapat memprediksi waktu yang tepat untuk melakukan seluruh tahapan kegiatan pertanian mulai dari waktu menanam, memupuk, hingga memanen.
“SICA itu pertama dikembangkan saat kita menemukan suatu model yang bernama Smart Climate Model (SCM), untuk memprediksi cuaca bulanan per bulan hingga lima tahun kedepan. Kemudian berdasarkan permintaan petani, kita kembangkan prediksi menjadi lebih teliti yaitu dasarian (sepuluh hari) dan langsung kami aplikasikan,” jelas Dr. Armi Susandi dilansir dari laman ristekdikti, Rabu (19/6/2019).
Dalam aplikasi SICA, petani dapat mengetahui jam, hari, dan bulan yang tepat dalam menanam, memupuk, dan memanen. Aplikasi android ini akan berjalan secara dinamis melalui overlaying antara hasil prediksi curah hujan dasarian dengan google maps di server.
Selain kalender tanam, aplikasi SICA juga memiliki fitur prediksi cuaca, prediksi iklim, fitur umpan balik untuk memfasilitasi pengguna memasukkan laporan bencana di desanya, serta fitur informasi pasar yang menghubungkan petani dengan para pembeli. Sehingga memudahkan petani menjual hasil taninya sekaligus menekan biaya promosi para pembeli. Aplikasi SICA versi web dapat dilihat melalui pranala http://smartclim.info/sica/.
Sebelumnya Dr. Army dan tim pernah mengembangkan SICA dalam versi web, kemudian berdasarkan permintaan petani, SICA dibuat dalam versi android yang banyak dimiliki petani setempat.
“Aplikasi ini sangat mudah, semua petani bisa menggunakannya. Kalau yang tidak bisa, biasanya anak mereka punya andoid. Ini akan menciptakan pola anak membantu orangtuanya bertani, dan kedepannya anak muda akan mau bertani,” ujar Dr. Armi.
Dia menerangkan, aplikasi sejenis banyak beredar di luar negeri, namun SICA menawarkan sistem yang sangat mudah dimengerti. “Di luar negeri memang ada peta prediksi tanam, namun petani harus menginterpretasikan sedemikian rupa dulu. Kalau SICA, pengguna kita nina bobokan, tinggal melihat android langsung bisa menerapkannya,” jelasnya.
“Saat ini, sudah tujuh juta masyarakat Indonesia menggunakan SICA dan meningkatkan hasil produksi mereka. Karena mereka sekarang tidak pernah gagal (tanam),” ujar Dr. Armi. Pada awal pengembangan, Dr. Armi dan tim membagikan SICA secara gratis kepada petani di Indramayu beserta tablet untuk mengoperasikannya. Saat ini, aplikasi SICA mulai diperjualbelikan secara komersial, karena menarik para perusahaan pertanian.
Selain dikomersilkan, SICA juga akan dikembangkan di beberapa sentra pertanian Indonesia lainnya seperti Sumatera, Kalimantan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Karawang, dan Merauke. Negara tetangga seperti Timor Leste pun tertarik menggunakan aplikasi SICA. Selain SICA, Dr. Armi dan tim juga sedang mengembangkan aplikasi lain yang berkaitan dengan cuaca dan iklim, bekerjasama dengan TNI Angkatan Laut, BNPB, PMI, bahkan BPJS. (*/ristekdikti)