Jelang Pilkada, Omzet Pengusaha Sablon Naik 60%
Diposkan: 23 Feb 2018 Dibaca: 1528 kali
UKMKOTAMEDAN.COM-MEDAN
Pilkada serentak yang akan digelar di tahun 2018 ini, membawa berkah bagi sejumlah pelaku usaha clothing di Kota Medan terutama yang tergabung dalam Forum Industri Sablon Sumatera Utara (Fissum). Jika dibandingkan dengan priode sebelumnya, terdapat kenaikan omzet hingga mencapai 60%.
Sekretaris Fissum, Irwansyah Lubis, Rabu (21/2/2018) mengatakan pada Pilkada serentak tahun 2018 ini, kepercayaan kandidat terhadap pelaku usaha lokal yang bergerak dibidang sablon tiga tahun terakhir semakin membaik. Terutama empat bulan terakhir, menjelang pilkada serentak yang sudah ada projek yang diberikan bagi pelaku usaha sablon.
“Perbedaannya, sangat jauh jika dibandingkan dengan sebelumnya. Kalau sebelumnya, rata-rata untuk kaos pilkada atau pemilihan legislatif itu diordernya di Jakarta dan Bandung. Tapi untuk tahun ini, sebagian besar sudah di Medan,”ujarnya. Untuk pasangan Djarot-Sihar (Djoss) misalnya, sebut pemilik usaha Sablon Kosu Medan ini, seluruh kaos untuk parlehatan lima tahunan tersebut dicetak di Sumut. Namun untuk pasangan Eramas pihaknya tidak mengetahui secara detail.
“Jadi peningkatannya cukup jauh, hingga mencapai 60%. Karena tidak semua kita pegang di Sumut. Seperti Eramas, mereka sebagain saja yang kita tahu yang produksi di Medan,”ujarnya.Dalam Wadah Fissum sebut Irwansyah tergabung didalamnya sebanyak 52 pelaku UMK. “Dan dari jumlah tersebut setidaknya ada enam UKM yang ikut kroyokan di Medan untuk projek ini,”ujarnya.
Sebelumnya, pihaknya sudah mengerjakan sekira 25 ribu pics orderan dari pasangan nomor urut 2 tersebut. “ Dan sekarang sudah masuk 30 ribu pics lagi,”ujarnya. Dia pun berharap melalui even lima tahunan, semakin dapat memberdayakan pelaku usaha lokal. Sehingga dapat mendorong dan mendukung pertumbuhan perekonomian di Sumatera Utara, terutama Kota Medan.
Disisi lain, Redho salah satu pelaku usaha sablon di kawasan Jalan Perintis, mengakui parlehatan pilkada yang digelar lima tahunan ini tidak berimbas bagi usaha yang digelutinya.“ Kalau kaos pilkada itu biasanya dicetak di Jawa, karena harganya lebih murah. Dan kalau kita juga tidak punya alat mesin. Karena cetaknya banyak. Kita masih produksi manual,”ujar Redho.(ukm01)