Jangan Salah Kaprah! Wisata Halal Bukan untuk Mengislamisasi

Jangan Salah Kaprah! Wisata Halal Bukan untuk Mengislamisasi
Danau Toba, foto : net

Diposkan: 04 Sep 2019 Dibaca: 102 kali


UKMKOTAMEDAN.COM, RENCANA penerapan konsep wisata halal di Danau Toba yang mendapatkan penolakan belakangan ini dari berbagai kalangan dinilai sudah salah kaprah.    

Sebab wisata halal ini bukan bertujuan untuk mengislamisasi daerah tersebut. Namun menjadi langkah untuk mendorong dan mengembangkan pariwisata di daerah tersebut. Bahkan sejumlah negara sudah mengedepankan konsep wisata halal ini, seperti Inggris, Jepang, Korea, Singapura dan Thailand.

Hal ini dikatakan salah satu penggiat pariwisata di Sumut, Didi Rianto. “Wisata halal ini sebenarnya tidak ribet. Artinya bukan mengislamkan daerah setempat atau menghilangkan kearifan lokal. Namun wisata halaln ini hadir untuk mengemas. Artinya strategi marketing, karena yang akan datang ke tempat wisata itu kan muslim. Makanya sekarang korea membuat muslim tour, Jepang muslim tour, Eropa muslim tour,” ujarnya, Selasa (3/9/2019).

Di Thailand sebutnya, ini justu menjadi pundi-pundi untuk mengeruk devisa negara dari wisata halal. “Perlu disampaikan kepada masyarakat, ini bukan mengislamisasi agama mereka. Tidak. Salah besar, justru di thailand,  seperti candi-candi menjadi daya tarik tersendiri, bagi wisatawan khususnya dari Indonesia. Mereka tetap mengunjungi kuil, tempat tempat ibadah, mencari yang unik. Jadi bukan menghilangkan, kemudian harus membuat mesjid semua,” tambahnya.

Namun mengakomodir,  bahwa orang Islam yang datang ke tempat itu difasilitasi. Misalnya di hotelnya dibuat petunjuk arah kiblat, menyediakan satu sajadah. Ditempat wisata tersedia musholla. “Itu yang perlu diketahui masyarakat. Bukan Islamisasi tapi adalah strategi marketing, supaya wisata itu berkembang. Jadi itu terbukti negara-negara lain sudah mengedepan konsep wisata halal,” ungkapnya.

Menurutnya, apa yang terjadi di Danau Toba sebenarnya salah paham.  Sehingga muncul penolakan, karena ada kekhawatiran masyarakat yang mayoritas Kristen. “Di negara yang mayoritas bukan Islam saja mengedepankan wisata halal, dan itu tidak merubah kearifan lokal,” bebernya.

Untuk mengatasi konflik ini, Didi menilai Pemda perlu turun ke masyarakat untuk menjelaskan konsep wisata halal tersebut. “Jadi memang tidak harus ujuk wisata halal diterapkan di Danau Toba. Tapi ada sosialisasi dulu,” ujarnya.

Hal yang terpenting sebutnya, wisata halal ini menyediakan musala, marker kiblat, sajadah dan kebersihan dan restoran. “Jangan sampai wisatawan sulit mendapatkan makanan halal," ucapnya.

"Ini kan terbukti di daerah Samosir itu, sangat minim restoran yang halal. Ini yang diharapkan wisatawan yang muslim tadi. Dan ini tidak hanya muslim saja tapi untuk semua wisatawan yang berlainan agama lain juga pasti nyaman,” imbuhnya.

Menurutnya, jika konsep wisata halal ini diterapkan akan sangat spektakuler. Apalagi saat ini, wisata halal ini lagi tren di dunia, bukan Indonesia saja.

“Secara geografis yang paling dekat Malaysia, ini terbukti sekarang yang mendominasi walaupun Eropa banyak tapi lebih banyak tujuannya ke Bukit Lawang. Dan untuk wisata Eropa untuk pengembangan UMKM tidak bisa. Istilahnya mereka untuk belanja itu kurang antusias. Mereka tdak seperti budaya timur, kalau pulang itu harus bawa oleh-oleh,” bebernya.

"Dengan konsep wisata halal ini,  selain Malaysia yang mendominasi wisatawan juga bisa ke Timur Tengah. “Ini akan menjadi motivasi muslim ke sana dan lebih nyaman,” pungkasnya. (UKM01)


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2019. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved