Inovasi Kunci Pemenang
Diposkan: 03 Jul 2018 Dibaca: 1065 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, JAKARTA- Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Prof. Mohamad Nasir menyebutkan inovasi merupakan kunci pendorong dalam meningkatkan daya saing ekonomi bangsa.
“Negara pemenang itu bukan negara dengan jumlah penduduk yang besar dan punya sumber daya besar, tetapi negara pemenang adalah yang mempunyai inovasi,” kata Nasir, dilansir dari laman resmi ristekdikti.go.id, Selasa (3/7/2018).
Hal ini disampaikannya orasi ilmiah dalam peringatan Ulang Tahun Prodi MM FEB UGM ke-30 di Auditorium Sukadji Ranuwihardjo MM FEB UGM Yogyakarta, Senin (2/7/2018). Indeks daya saing Indonesia sebut Nasir masih rendah. Menurut Global Competiveness Index (CGI) 2017, Indonesia berada di peringkat 36 dari 137 negara.
“Singapura di urutan 3, Malaysia nomor 23, sedangkan Thailand di posisi 23. Sementara Indonesia posisi 32 ini mengerikan,” ucapnya. Rendahnya daya saing bangsa ini, kata dia, salah satunya berasal dari dunia pendidikan tinggi. Kualitas lulusan dan kompetensi yang dihasilkan lebih rendah dibanding negara tetangga.
Selain itu, dalam bidang publikasi ilmiah juga masih rendah. Hingga tahun 2014 jumlah publikasi ilmiah Indonesia baru diangka 4.000, sedangkan Singapura mencapai 19.000 publikasi dan Malaysia sebanyak 28.000 publikasi. “Dengan perbaikan sistem, pada tahun 2017 jumlah publikasi Indonesia mencapai 18.500 ini diatas Thailand dengan 16.800 publikasi. Dan pada 2018 ini sudah berhasil melampaui Singapura,” ungkapnya.
Saat ini jumlah publikasi karya ilmiah di jurnal internasional tertinggi masih ditempati Malaysia. Karenanya Nasir menargetkan pada 2019 mendatang Indonesia bisa menjadi pemimpin di ASEAN dalam publikasi ilmiah. Impian ini tidak main-main, saat ini pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mewujudkan hal tersebut. “Mudah-mudahan di 2019 Indonesia bisa menjadi leader di Asia Tenggara,” harapnya.
Langkah-langkah yang ditempuh adalah dengan meningkatkan anggaran bidang riset. Hal ini ditujukan agar bisa mendorong lahirnya publikasi yang semakin berkualitas. Nasir juga menyebutkan untuk berinovasi dan tidak lagi menggunakan sistem lama dalam menyiapkan lulusannya di era disrupsi ini.Oleh karenanya, para mahasiswa harus siap memanfaatkan peluang dari perkembangan teknologi yang berjalan pesat. (***)