Inovasi dan Kerja Keras Buat Helmi Bertahan dengan Bisnis Bordiran
Diposkan: 22 Sep 2018 Dibaca: 1068 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Kerja keras, inovasi dan ketekunan menjadi kunci keberhasilan Helmi (40), pemilik usaha bordiran mukena dan pakaian haji "Dina Bordir" di Desa Pekan Sialang Buah, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai.
Ibu lima anak ini, menuturkan pertama kali memulai bisnis bordiran ini sekira tahun 2007 silam. Awalnya, dia mengandalkan kemampuan tetangga dalam menjalankan usaha bordir ini. Sebab saat itu, Helmi tidak memiliki keterampilan dalam membordir.
Kepada UKMKOTAMEDAN.COM, Helmi menceritakan, peluang bisnis bordir ini ditangkapnya karena memiliki kenalan pengusaha bordiran mukena di kawasan Jalan Bromo. Dari sini, Helmi hanya mengambil upah pengerjaan bordiran mukena, kemudian memberikannya pada rekan dan tetangganya.
"Pertama saya mengambil orderan dari sekitar Bromo, tauke saya pertama. Karena kawan banyak yang bisa bordir, saya kasih ke kawan. Saya lihat cara bordirnya, pelan-pelan saya belajar dan sekitar setengah tahun saya sudah mahir," ujarnya, Sabtu (22/9/2018).
Namun belakangan, sambungnya, karena upah bordiran dianggap terlalu rendah, membuat banyak rekannya mengeluh. Dia pun terfikir untuk membuat usaha mukena bordiran bersama rekan dan tetangganya.
"Lalu saya jual ke dia (tauke). Sampai bertambah banyak, diapun nggak sanggup terima banyak. Terus saya coba ke Pajak Sentral (Pusat Pasar Medan) Pajak Petisah, Pajak Ikan Lama, dan Alhamdulillah terus berkembang 2009 mulai berkembang," ucapnya.
Menurut Helmi, pemesanan bordiran mukena yang fluktuatif membuatnya berfikir untuk menambah jenis bordiran. Tidak hanya sekedar mukena, yang banyak dipesan sejak mulai bulan puasa hingga Idul Adha.Namun orderan sepi, setelah tiga hari besar umat Islam tersebut.
"Ibaratnya, mukena ada musiman, sebelum puasa sampai hari raya haji. Jadi setelah dan sebelumnya kami kerja apa? Kan sepi mukena. Jadi saya tanya sama langganan apa yang bisa saya buat meneruskan usaha saya supaya bisa berkelanjutan," ucapnya.
Beruntung, Helmi mengaku mendapatkan saran yang cukup menarik. Dia diminta membuat pakaian haji untuk lelaki dan perempuan. Tidak tanggung-tanggung, dia juga diberikan kain contoh hingga ukurannya.
Memang akunya, dibanding mukena, pakaian haji (ihram) pengerjaannya lebih cepat. Sebab pakaian haji hanya memakan waktu sehari untuk dua pasang. Beda dengan mukena, yang bisa mencapai tiga minggu.
Memasuki tahun kedua usahanya itu, mengalami perkembangan signifikan. Sejak tahun 2009 hingga 2012, Helmi mengaku kerap kebanjiran orderan, mencapai 40 kodi hingga 50 kodi pakaian haji, belum lagi dengan mukena.
"Saat itu, omzet dalam sebulan lebih dari Rp50 juta per bulan untuk pakaian haji saja. Bahkan pernah sampai Rp80 juta. Setelah lempar barang ke toko di pasar itu saya biasa bawa uang banyak. Saya sampai takut membawa uang segitu, lalu saya putuskan taruh uang di kodian kain yang saya bawa pulang," ungkapnya.
Namun sejak 2012, omzetnya merosot. Menurut Helmi, hal itu terjadi karena menurunnya daya beli masyarakat. Sebelumnya Helmi yang sempat bekerjasama dengan penduduk di tiga kecamatan di Serdangbedagai, kini hanya ada beberapa orang saja yang bekerja bersamanya.
"Pokoknya agen saya sekali belanja di Pajak Ikan, 60 potong seminggu. Kalau ke Medan atau pulang dari Medan, atap angkot itu kain saya semua. Yang kerjasama dengan saya ada di tiga kecamatan, cukup banyak. Kalau bawa bahan pulang, saya Carter becak ke Amplas (terminal) becaknya sampai harus jalan pelan karena banyaknya barang bawaan," ucapnya lagi.
Kendati sekarang sedang mengalami masa sulit, Helmi mengaku, usaha tersebut sudah sangat membantu ekonomi keluarga. Dari usaha ini, Helmi bisa memiliki rumah, mobil, tanah, sawah dan kebun Kelapa Sawit. Dia berharap usahanya bisa kembali bertumbuh seperti di tahun 2012 lalu.
'Saya harapkan pelan-pelan kondisi bisa semakin baik, ordaran naik lagi. Walaupun perlahan ibarat pertumbuhan manusia, sebentar lagi harapannya sudah mulai bisa merangkak, syukur-syukur bisa tambah baik lagi ke depannya," harapnya.(UKM05)