Hanya lulus SMP, Ana Sukses Berbisnis "Bordiran Ana", Antar Adik dan Anaknya Sarjana
Diposkan: 14 Sep 2018 Dibaca: 1165 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN- Keterbatasan pendidikan bukan halangan untuk mencapai kesuksesan. Sebba, kesuksesan hanya bisa diraih dari kerja keras dan kerja cerdas. Seperti Yuliana (45), pemilik usaha Bordiran Ana di Jalan Bromo Gang Minang Sakato, Medan Denai.
Hanya menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) lantaran keterbatasan keuangan orang tua, namun kegigihannya membantu memperbaiki taraf hidup keluarga membuatnya menjadi pengusaha yang sukses di bidangnya.
Ia memilih ikut kursus bordir usai lulus SMP setelah ibunya yang berstatus janda tidak memiliki uang untuk menyekolahkannya kejenjang selanjutnya. Ana pun memulai "petualangannya" di bidang bordir, dan memutuskan memanfaatkan keahliannya, setelah selesai kursus.
"Dua tahun setelah nikah, 1994, saya mulai lagi usaha bordir yang saya kerjakan waktu masih gadis, untuk bantu suami, apa lagi kan saya punya keahlian," ujarnya kepada UKMKOTAMEDAN.COM, Kamis(13/9/2018).
Seiring berjalannya waktu orderan yang diterimanya semakin banyak. Hingga akhirnya, ibu tiga anak ini mempekerjakan lima orang karyawan untuk membantunya di tahun 1995. Dari situ, perlahan-lahan, dia mulai memasuki fase keberhasilan dalam usahanya.
Ana, sapaan Yuliana, kemudian memberanikan diri memasok mukena bordiran hasil karyanya ke pasar-pasar. Hasil bordiran mukena Ana ternyata membuat konsumen kepincut.
Komitmen istri dari Bestari (57) dalam menjaga kualitas bordiran menjadi kunci keberhasilan usahanya. "Berani jamin kualitas, saya. Kalau sebagian orang, mungkin beda. Permintaan beda, hasilnya beda. Kalau partai banyak kerjaannya nggak rapi. Kalau saya mementingkan menjaga mutu," ucapnya.
Ana memang boleh saja "sesumbar" menilai hasil bordiran miliknya bagus. Seperti kutipan kalimat legenda tinju dunia Muhammad Ali, "it's not bragging, if you can back it up" yang artinya "bukan sesumbar namanya jika kau bisa membuktikannya".
Kualitas produknya membuat Ana kerap menjadi perwakilan instansi milik Pemko Medan dan Pemprov Sumut hingga ke mancanegara.
Akhir tahun 2017 silam, Yuliana menjadi satu dari dua peserta yang dibawa Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sumut mengikuti pameran di Dubai, Uni Emirat Arab.
"Ke Dubai diajak Disperindag Sumut ikut pameran, saya lupa nama kegiatannya. Bawa beberapa mukena. Dan Alhamdulillah, saya juga cukup sering diajak Dinas Koperasi Sumut dan Medan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumut dan Medan pameran di luar kota dan negara lain seperti Malaysia," ungkapnya.
Tidak cuma itu, Ana mengatakan, hasil mukena bordirannya kini hanya boleh dipasok ke satu toko di Pajak (pasar) Ikan Lama Medan.
Cukup sering mengikuti pameran, bagi anak menjadi salah satu bentuk promosi produknya. Khususnya hingga negara tetangga seperti Malaysia membuat telepon seluler miliknya +6281396698428 kerap berdering. Belum lagi pasokan ke toko dan pemesanan di Sumut hingga daerah lain.
Kendati omzet cukup menurun sejak 2014, Ana mengaku bersyukur lantaran hasil keringatnya itu diapresiasi masyarakat dan sempat meraih keuntungan bersih Rp10 juta tiap bulannya.
"Ya, kalau sekarang, keuntungan gak sampai Rp4 juta per bulan. Sebelumnya, dari habis krisis moneter sampai 2014, saya dapat keuntungan Rp10 juta bersih. Dan saya bisa nabung. Dari gak punya rumah, sekarang saya punya dua rumah, dari nggak ada mobil, punya mobil, gak ada tanah, sekarang punya, gak ada kebun, sekarang sudah ada. Alhamdulillah, anak saya dua orang sarjana, satu STAN dan yang satu lagi alumni UMSU. Tinggal yang SMP yang harus diperjuangkan," bebernya.
Selain menerima pesanan, tidak jarang konsumen datang ke rumahnya untuk membeli mukena, hijab dan produk lain buatannya. Tidak hanya itu saja, hampir tiga kali sepekan ada saja bus pariwisata yang mampir ke galerynya untuk membeli mukena, guna dijadikan oleh-oleh atau dipakai sendiri.
"Jadi saya kerja sama dengan biro perjalanan. Kalau ada rombongan wisata, busnya singgah ke rumah bawa penumpang, mereka beli mukena atau hijab," ucapnya yang mengatakan, selalu memiliki stok mukena jika sewaktu-waktu ada pemesanan mendadak.
Ana kini tidak lagi hanya membordir mukena. Bordiran hijab (jilbab) seragam, logo di baju hingga bordiran tulisan dia lakukan dengan tujuh karyawan yang dipekerjakannya.
Sayangnya, sejak tiga bulan terakhir, Ana terpaksa menghentikan bordiran lantaran bahan bordir yang tidak didapat di pasar."Kalaupun mahal tapi barangnya ada, mungkin saya bisa beli walau keuntungan jadi berkurang. Tapi ini tak ada," ucapnya dongkol.
Dia berharap, pemerintah melalui instansi terkait bisa menyelesaikan permasalahan tersebut. "Tolonglah kepada pemerintah dicarikan solusi. Usaha bordiran tidak produksi karena tak ada bahannya," pungkasnya.(UKM05)