Gurihnya Peyek Wak Er Buat Ginem Harus Punya Stok 10 Kg Tiap Hari
Diposkan: 03 Oct 2018 Dibaca: 1315 kali
UKMKOTAMEDAN, MEDAN- Ginem Ernawati (38 tahun) mengaku, pemberian merek "Peyek Wak Er" pada usaha aneka kudapan miliknya tiga tahun lalu membawa dampak positif bagi perkembangan usaha yang dia rintis sejak 20 September 2012 lalu.
Ibu dua anak itu menyebutkan, usaha pembuatan rempeyek atau yang lazim disebut orang Medan sebagai peyek itu awalnya dipasarkan dengan menjualnya secara berkeliling ke sejumlah warung di sekitar domisilinya. Namun kini, sejumlah mini market hingga berbagai gerai produk UKM dan tempat oleh-oleh juga cukup banyak yang menjual produk buatannya.
Ketika masih berstatus lajang, ibu dari Mutiara Ningsih dan Sava Nuraisyah itu mengaku sudah sering membuat peyek. Namun usai menikah dengan Priyono (45 tahun) itu sempat berhenti. Namun saat dia mulai kembali, ternyata respons pelanggan cukup bagus.
"Apa lagi saat ada mereknya, Alhamdulillah semakin berkembang. Jadi kenapa mereknya Peyek Wak Er, saya Dipanggil "Wak Er" sama anak-anak sekitar rumah karena lingkungan saya banyak orang Jawa. Anak-anak suka main di rumah. Jadi saya putuskan namanya itu dan kalau gak berkembang, diganti dengan nama lain. Dikemas dengan kemasan yang bagus, rupanya makin berkembang," ujar perempuan berjilbab itu kepada ukmkotamedan.com, Selasa (2/10/2018).
Untuk produk industri rumah tangga (IRT), Peyek Wak Er punya izin yang cukup, selain izin P-Irt (produk industri rumah tangga), label halal Majelis Ulama Indonesia juga sudah tercantum di kemasan.
"Saya tidak lagi hanya menjual peyek tapi banyak lagi yang lain seperti kue bawang, keripik pedas, opak, kembang loyang. Kalau peyek ada banyak macamnya, peyek kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai dan udang kecepe," ujarnya.
Saat ini, produk Peyek Wak Er yang tempat produksinya berada di Jalan Bunga Pariama 1 Kelurahan Ladang Bambu Kecamatan Medan Tuntungan yang sekaligus sebagai tempat tinggal Ernawati dan keluarga sudah beredar di banyak tempat seperti di Medan Napoleon, Gerai UKM milik Dinas Koperasi dan UKM Kota Medan, Dinas Ketahanan Pangan Kota Medan, Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Kota Medan, hampir di semua 212 Mart di Kota Medan dan sejumlah salon.
Kata Ernawati, di 212 Mart, penjualan malah bukan secara konsinyasi, namun langsung dibayar lunas begitu produk sampai di tempat. "Pokoknya 10 hari sekali antar barang la ke sana. Ada juga pegawai dari rumah sakit Adam Malik bawa," ucapnya.
Untuk lebih memperkenalkan produknya, Ernawati mengaku sering ikut dalam kegiatan pameran atau Bazaar UKM yang rutin digelar Pemko Medan. Bahkan, di 2015, dia mendapatkan sertifikat UKM Kreatif dan Terbaik dari Dinas Koperasi dan UKM Kota Medan yang penghargaannya diserahkan langsung Wali Kota Medan, Dzulmi Eldin.
Dalam seminggu, untuk peyek saja, dengan rutinitas tiap hari dalam hal produksi, dia menghabiskan 80 Kg tepung beras dan 45 Kg bahan lainnya seperti kacang dan lain-lain. Alasannya produksi tiap hari agar pelanggan yang datang ke rumahnya tetap bisa membeli dan tidak kecewa karena barang habis.
"Kalau tiap hari kami biasa ada stok 10 Kg di rumah biar pelanggan yang datang beli tidak kecewa karena barang habis. Karena banyak juga langganan, termasuk waktu lebaran, pelanggan ada yang dari Sibolga dan Jakarta" bebernya.
Peyek masih menjadi produk yang paling laris. Dengan kemasan mulai 100 Gram, 200 Gram, 500 Gram, hingga kemasan 1 Kg tersedia, namun yang paling banyak dicari adalah yang kemasan 200 Gram dengan harga yang relatif terjangkau.
Dengan banyaknya aneka kudapan yang diproduksi, Ernawati mengaku tidak bekerja sendiri. Dia dibantu tiga karyawan tetap, plus beberapa pekerja di lepas jika orderan lebih ramai seperti saat Idul Fitri dan tahun baru.
Soal rasa, menurut dia, berdasarkan testimoni pelanggan, Peyek Wak Er lebih enak, tampilan bersih, dan kualitas terjamin. Dalam pengolahan, dia juga menggunakan minyak goreng kemasan dan tanpa bahan pengawet. "Saat ini kalau di dinas Koperasi dan Dinas Ketahanan pangan, dan di gerai ibu wali kota Medan, masih itu (Peyek Wak Er) masih jadi unggulan mereka. Kalau pameran pun, pak wali, bu wali, ambil 10 bungkus Peyek Wak Er biasanya," ucap perempuan yang biasa disapa Wak Er itu.
Peyek Wak Er memang belum membuat Ernawati meraup omset hingga puluhan juta rupiah. Namun, untuk usaha skala rumah tangga, keuntungan yang didapat cukup lumayan. Setiap bulan, Ernawati mengaku mengantongi laba bersih hingga sekitar Rp7 juta.
Namun, di balik perkembangan usahanya, Ernawati masih memiliki mimpi lain. "Harapan ke depan supaya usaha kita lebih maju dan berkembang dan pengen punya kios sendiri. Tentunya kami akan menjaga kualitas produk kami juga," pungkasnya. (UKM05)