Eva Harlia Pasarkan Aneka Produk Anyaman Khas Melayu hingga Negeri Jiran

Eva Harlia Pasarkan Aneka Produk Anyaman Khas Melayu hingga Negeri Jiran
Eva Harlia

Diposkan: 11 Oct 2018 Dibaca: 1702 kali



 


UKMKOTAMEDAN.COM, SERGAI- Sebagai bangsa berbudaya, pelestarian budaya tidak hanya sebatas mempertahankan tradisi dan adat-istiadat di daerahnya, tetapi juga bisa dilakukan dengan memperkenalkan potensi kearifan lokal tersebut ke daerah lain, salah satunya lewat kerajinan tangan (handicraft).

Seperti yang dilakukan Eva Harlia (35 tahun), pengrajin aneka produk anyaman daun pandan di kawasan Pantai Cermin, Serdangbedagai (Sergai). Kepiawaiannya dalam menganyam yang didapatkan sejak masih kecil dia teruskan dengan menjadikannya sebagai usaha. Dan gayung bersambut, peminatnya cukup banyak.

Pemilik usaha Menday Craft Pandan itu menceritakan, menganyam pandan merupakan budaya di tempat kelahirannya, didukung bahan baku yang banyak ditemukan di pinggir pantai sudah dilakukan sejak kecil. Ilmu menganyam yang didapat turun-temurun dan tentunya bermanfaat membuatnya 10 tahun lalu (2008) memutuskan untuk membawa produk anyamannya ke level yang lebih tinggi lagi.

"Untuk anyaman tikar duduk (lesehan) sudah terbiasa dari kecil. Jadi mamak (ibu) kami menganyam, kami ikut-ikut juga menganyam, terbiasa sehari-hari. Kalau membuat berbagai macam produk jadi, mulai 10 tahun yang lalu lah. Jadi produknya selain tikar, ada gantungan kunci , sandal, dompet dan tas," ujarnya saat berbincang dengan ukmkotamedan.com, baru-baru ini.

Tidak langsung bisa dianyam, pandan lebih dulu melalui beberapa proses. Mulai pemanenan bahan baku pandan duri hingga siap untuk dianyam memerlukan waktu tujuh hari.

"Prosesnya, pandan diambil dari pohon, lalu dibuang durinya, pembelahan, direbus dibuat lunak biar hasil pandan jadi lembut. Lalu direndam dua hari dan dua malam untuk pengeluaran getah, baru dijemur di panas matahari selama dua hari. Setelah jadi, warnanya putih, baru masuk proses pewarnaan dengan cara mendidihkan air dalam wadah, lalu pewarna tekstil alami dimasukkan. Setelah itu pandannya juga dimasukkan, diaduk dan dimasak selama lima menit baru dianginkan," ujar ibu tiga anak itu.

Eva mengatakan, ada empat warna dasar pewarna tekstil yakni, biru, merah, hijau dan ungu. Tetapi pencampuran dua atau lebih pewarna dasar tersebut akan menghasilkan warna lainnya. Variasi warna tersebut diperlukan lantaran menjadi ciri khas produk anyaman melayu yang identik dengan aneka warna cerah.

Proses penganyaman menjadi yang paling mudah kata Eva. Namun, perbedaan lebar pandan anyaman menjadikan waktu untuk menuntaskan proses tersebut jadi beragam. Selanjutnya, proses penjahitan dilakukan. Sebagai contoh, untuk sandal, ada penambahan sol, sementara untuk tapak dan tali dilapisi dengan spons dan kain.

"Kalau untuk anyaman sandal, 200 pasang bisa siap dalam satu hari. Untuk produk lain bisa beragam, tergantung tingkat kesulitannya. Seperti tikar misalnya, biasanya motifnya berbeda dan beragam jadi membuat anyamannya juga bisa lebih lama," ucap Eva.

Selain tikar dan sandal kata dia, produk Menday Craft Pandan lebih dominan digunakan perempuan. Sedangkan untuk proses jahit-menjahit, lima orang karyawan membantu proses produksi. Sementara dalam menganyam, ada 30 orang dalam satu kelompok. "Kalau menjahit dibantu lima orang. Untuk menganyam seperti gabungan kelompok, ada 30 orang. Kalau untuk menganyam, sebagian kerja untuk masing-masing, karena punya pelanggan sendiri. Tapi ada juga yang dibayar upah borongan," ucapnya.

Soal pemasaran, Eva mengaku cukup beruntung lantaran didukung pemerintah khususnya Pemkab Sergai. Dia mengaku acap diajak untuk pameran di wilayah Sumatera, Jawa, serta Kalimantan. Hal itu pula yang membuat Menday Craft Pandan mulai dikenal hingga menembus pasar Malaysia dan Singapura.

"Kalau pemasaran kita, Medan,  Sumatera, Riau. Di Jawa seperti di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Kalimantan di Singkawang, karena pernah pameran di sana. Di luar Malaysia dan Singapura. Umumnya dapat buyer dari pameran, kartu nama menyebar, dan mereka lalu lakukan pemesanan online. Di Medan juga saya titip di galeri Robert Sianipar," ucapnya.

Mulai dari pembeli untuk pemakaian sendiri hingga reseller dia layani. Setiap pekan atau minimal sebulan sekali, biasanya selalu ada pesanan dari daerah tersebut lewat telepon atau media sosial seperti Instagram (@mendaycraftpandan), Eva Harlina (facebook), email; mendaycraftpandan@gmail.com dan telepon atau WhatsApp di nomor +6281397237130.

"Di Singkawang, reseller biasanya pesan  sandal 200 pasang tiap minggu atau paling tidak sebulan sekali. Kalau di daerah lain, seperti Jakarta, pesan Tikar Pandan, Semarang, Yogya, dompet kecil.  Ada perorangan yang pesan, ada reseller seperti di dekat Gunung Bromo. Kalau Singapura dan Malaysia biasanya pesan sandal pandan dan tikar," ucapnya.

Dari harga terkecil yakin gantungan kunci yang dibanderol Rp2500 tiap satunya, tas kecil seharga Rp150 ribu, hingga tikar Rp250 ribu untuk ukuran 1,5 meter x 2 meter hingga tikar seharga Rp1,5 juta dengan motif yang cantik, Eva mampu mendapatkan omset senilai Rp15 juta per bulan.

"Pembagian modal dan keuntungan 50:50 lah, Alhamdulillah. Beberapa produk juga ada yang saya titipkan seperti di pameran UKM di MTQN yang sedang berlangsung di Medan di stan Pemkab Serdangbedagai, juga di stan UKM Sumut," pungkasnya.(UKM05)

 


Tags

2 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2026. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved