Era Milenial, Semua Bisnis Tetap Moncer Hanya Terjadi Perubahan Model

Era Milenial, Semua Bisnis Tetap Moncer Hanya Terjadi Perubahan Model

Diposkan: 10 Oct 2019 Dibaca: 929 kali


UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-  Presiden  Komunitas Tangan di Atas (TDA) 6.0, Donny Kris Puriyono menyampaikan materi Milenial Business Outlook digelaran Pesta Wiraausaha (PW) Sumatera Utara. Ditengah era industri 4.0, semua bisnis masih tetap moncer, meski terjadi perubahan yang sangat dinamis.

Dipaparkannya, dalam tiga tahun belakangan ini bisnis pertumbuhan bisnis semakin dinamis. Walaupun ada usaha yang pada umumnya sedang turun, namun disisi lain ada bisnis tertentu yang mengalami pertumbuhan yang pesat.

“Hampir semua bisnis akan moncer. Hanya saja ada perubahan model bisnis. Misalnya bisnis taksi yang tetap moncer, cuma sekarang berubah ke taksi online. Sama sama taksi cuma model bisnisnya yang berubah," katanya usai menjadi pembicara di Pesta Wirausaha (PW) TDA, Selasa (8/10/2019).

Donny mengungkapkan dari data Deloitte Canada, ada perbedaan rentang waktu hingga suatu perusahaan memperoleh 1 miliar Dolar AS sejak didirikan pertama kali.

"Kalau perusahaan dibawah 2004 butuh waktu 7 sampai 8 tahun untuk memperoleh hasil tersebut. Sedangkan perusahaan yang didirikan 2010 ke atas hanya butuh waktu 2 sampai 3 tahun. Kalau dulu untuk menjadi orang terkaya di Indonesia, kita harus menjadi generasi ketiga orang tua kita yang sudah kaya tapi sekarang bisa dilihat orang terkaya di Indonesia adalah founder Bukalapak, Tokopedia, dan lain sebagainya," ujarnya.

Dikatakan Donny menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 ini intinya adalah kecepatan. Tak bisa lagi membangun bisnis seperti belasan tahun lalu. Prilaku sudah berubah baik prilaku customer, kompetitor, ataupun bahkan karyawan.

"Rata-rata perusahaan yang didirikan di atas 2010 usianya tidak bertahan lama. Perusahaan yang dibangun pada 1960 rata-rata usia perusahaannya bisa mencapai 60an tahun. Saat ini karena perubahan yang sangat dinamis, sulit membuat perusahaan tetap existing 10 tahun kedepan kalau tidak berinovasi. Meski sulit bertahan, perusahaan yang berdiri pada 2010 dengan usia yang tidak panjang bisa mendapat omzet yang besar dengan waktu yang jauh lebih pendek," katanya.

Data lainnya yang dipaparkan Donny menunjukkan perusahaan milenial sukses dengan founder yang berusia 28 sampai 32 tahun. Hal ini karena mereka dianggap bisa merasakan kebiasaan dari anak milenial. Perusahaan anak milenial yang sukses tersebut juga ternyata melakukan kolaborasi, pemiliknya bukan hanya satu orang.

"Karena anak milenial ini lah yang memiliki daya beli, makanya perlu memahami kebiasan anak milenial agar bisnis yang dijalankan tetap relevan dengan pasar yang ada sekarang. Banyak perusahaan yang berusia cukup lama tapi tutup akibat tidak memahami kebiasaan anak milenial ini," katanya.

Salah satunya adalah anak milenial zaman sekarang juga sudah tidak loyal dengan brand. Tak seperti zaman dulu di mana para pelaku usaha membesarkan brand, tapi ternyata anak milenial malah tidak yang royal dengan brand. Maka bukan fenomena yang aneh kala cafe atau restoran yang ramai dalam tiga bulan bisa kemudian tutup.

"Kebiasaan anak milenial, ada yang sekadar datang dan coba. Bagi mereka jika ada sesuatu yang baru dan menarik, mereka akan datang. Hal-hal seperti ini yang harus dipahami para pelaku bisnis yang bukan milenial," katanya.

Pola kebiasaan anak milenial ini juga akan berpengaruh pada pemilihan sarana promosi sebuah produk. Menurut Donny, para pelaku usaha harus jeli dalam melihat sarana promosi yang akan dipilih.

"Mungkin sekarang anak milenial enggak ada yang nonton tv, jangan sampai kita pasang budget besar untuk iklan di tv, tapi anak-anak milenial enggak nonton di sana tapi di Youtube," katanya.

Tak hanya dari sisi pembeli, kebiasaan anak-anak milenial juga harus dipahami dalam mengelola sebuah usaha. Cara memperlakukan anak-anak milenial sebagai karyawan polanya pasti berbeda. Anak milenial kata Donny tidak terbiasa dengan sistem birokratis, layering, atau jam kerja yang teratur dan harus disiplin.

"Anak milenial ini bagi orang golongan sebelumnya sering dianggap nakal tapi mereka ini punya pemikiran yang lugas dan egaliter. Dimana dia tidak ingin ada sekat pemisah antara dia dan bosnya di kantor tersebut dan kita harus pahami itu," ujarnya

Bagi pengusaha yang market bisnis bukan milenial, tetap harus memahami pola tersebut. Meski bisa lebih santai tapi pelaku bisnis yang pangsa pasarnya bukan milenial harus tetap update karena pasti akan merekrut karyawan yang merupakan anak-anak milenial untuk meneruskan bisnis.

"Mungkin sekarang bisnisnya belum terganggu, tapi beberapa tahun kedepan pasti akan kena juga. Karena anak-anak milenial ini juga bertumbuh dan lama-lama jadi customer mereka," pungkasnya. (rel)

 


Tags

0 Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Portal UKM Kota Medan © 2026. Alcompany Indonesia.
All Rights Reserved