Di Tangan Faisal Walad, Koran Bekas Jadi Rupiah
Diposkan: 08 Jul 2018 Dibaca: 1413 kali
UKMKOTAMEDAN.COM, MEDAN-Jangan remehkan barang bekas. Sebab, di tangan orang-orang kreatif, benda yang biasa dianggap sebelah mata bisa mendatangkan rupiah. Seperti yang dilakoni Faisal Walad.
Di Galeri J Art miliknya, Jalan Umar Gang Karsidi, Medan, dia membuat produk bernilai ekonomi tinggi dari koran bekas. Dia membuat miniatur pakaian adat, gantungan kunci, magnet kulkas, hiasan gantungan mobil, hiasan meja, kaligrafi koran hingga hiasan dinding.
Suami Ade Morina ini menjelaskan usaha daur ulang koran ini dimulainya sejak Mei 2017 lalu. Faisal mengaku memadukan keterampilan yang dimilikinya dengan craft dari anak keduanya, Jihan. Dia pun tidak sungkan untuk belajar dengan guru anaknya yang dipanggil untuk mengajari daur ulang limbah koran.
“Kebetulan, materi pertama yang diberikan itu adalah daur ulang koran dengan membuat guci. Ini hanya sekali pertemuan saja,” ujarnya belum lama ini.
Seiring berjalannya waktu, hasil karya tersebut bagi Faisal sudah biasa, sehingga perlu diberikan sentuhan seni.
Dari sini kemudian terinspirasi untuk membuat miniatur boneka Africa. “Kebetulan saya ada lihat diaplikasi pinterest. Saya lihat disana hanya dalam bentuk cuplikan foto. Akhirnya coba-coba, jadi juga tapi itulah, produknya masih amburadul,” lanjutnya.
Kemudian, dia mengembangkan dengan membuat miniatur pakaian adat Jawa. “Tapi Saat itu belum terpikir pakaian adat Sumut. Yang pertama itu, pakaian adat Jawa, Kalimantan, Dayak. Ini karena coraknya lebih gampang dan mudah diingat,” kenangnya.
Usahanya membuahkan hasil tatkala karyanya ini mendapat respon positif dari pasar. Berapapu dibuatnya selalu lalu, meski pada awalnya dia belum punya standar harga dan tanpa hitungan membuat banderol.
Hingga suatu ketika ada masukan dari pembeli untuk membuat miniatur yang lebih kecil dengan tinggi sekira 20 cm hingga 22cm, menjadi tantangan bagi Faisal. September 2017 itulah bisa dibilang momen dimana dia mulai berpikir untuk menjadikan ketrampilannya ini sebagai peluang usaha yang bisa menambah penghasilan keluarga.
“Saya buat yang kecil, dan dari sini kemudian langsung muncul ide dengan membuat kostum budaya. Tidak lagi main di Afrika, tapi kostum tradisional Sumut, dan memulai dengan membuat kostum Toba. Ini karena yang terkenal diotak saya itu, Sumut adalah Toba,”imbuhnya.
Dengan bantuan google, Faisal implementasikan gambar tersebut di boneka adat dengan pernak pernik 100% menggunakan koran. “Dari sini mulai buat yang lebih detail, lebih bagus, lebih beragam lagi. Dari satu produk saja, miniatur pakiaan adat saja, kini memiliki 11 item produk,” ungkapnya.
Hanya saja, gerakan boneka ini terbatas, karena hanya menggunakan bahan baku koran. “Ciri khasnya J Art ini, menggunakan bahan baku yang tidak susah, murah, harga jual tinggi,”ujarnya seraya menambahkan aneka produk ini membidik kalangan ekonomi menengah keatas.
Untuk proses pembuatan, Faisal menyebutkan produk ini terbilang ribet. Sehingga tidak heran dalam satu bula, hanya mampu menyiapkan sekira 15 pasang pakaian adat saja. Berbeda dengan gantungan kunci yang setiap harinya bisa disiapkan sedikitnya 2 produk.
Aneka produk ini, selain dipasarkan secara online juga bisa ditemukan dibeberapa pusat penjualan oleh-oleh seperti hub market Kualanamu.
Ditambahkan Ade Morina, aneka produk ini bisa dijadikan souvenir pernikahan, gift, cendramata. Produknya ini dijual dengan beragam harga mulai dari Rp50 ribu sesuai tingkat kesulitannya. (UKM01)